Menolak Punah: Ketika Mikroplastik Menjadi Bagian Dari Kehidupan Manusia
Info Terkini | 2026-06-18 10:06:28Oleh : Maulana Putra Ramdani
Manusia setiap hari menggunakan pakaian sebagai kebutuhan pokok. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa pakaian yang dipakai bisa meninggalkan jejak pencemaran bagi lingkungan. Salah satunya seperti mikroplastik, partikel plastik berukuran sangat kecil yang berasal dari penggunaan dan pencucian pakaian berbahan sintetis. Melalui film dokumenter Menolak Punah karya Dandhy Laksono, kita diajak melihat bagaimana persoalan ini semakin dekat dengan kehidupan manusia.
Film ini memperlihatkan dampak limbah tekstil yang menghasilkan mikroplastik dan mencemari sungai serta laut. Partikel ini bahkan berpotensi masuk ke dalam tubuh manusia. Melalui film ini, penonton diajak untuk lebih bijak dalam menggunakan pakaian dalam kehidupan sehari-hari.
Mikroplastik yang Kian Dekat
Dalam film Menolak Punah, mikroplastik digambarkan bukan sebagai persoalan yang jauh dari kehidupan manusia. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat berasal dari pakaian berbahan sintetis yang digunakan sehari-hari. Saat dicuci, serat-serat kecil dari pakaian tersebut dapat terlepas dan terbawa ke aliran sungai hingga laut.
Persoalan ini menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan. Mikroplastik yang telah masuk ke perairan dapat dikonsumsi oleh berbagai biota laut dan akhirnya masuk ke rantai makanan manusia. film ini mengajak kita menyadari bahwa ancaman mikroplastik bisa berasal dari hal-hal yang selama ini dianggap biasa.
Dari Kapas hingga Limbah Tekstil
Film Menolak Punah memperlihatkan perjalanan industri tekstil di berbagai daerah Indonesia, seperti daerah lombok,tuban,flores dan Sumba.Didaerah ini ada sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi menenun, penggunaan kapas lokal, serta pewarna alami dalam proses pembuatan kain. Namun di tengah tingginya kebutuhan pakaian masyarakat Indonesia, industri tekstil kita masih bergantung pada impor kapas. Di sisi lain, meningkatnya produksi pakaian juga berdampak pada bertambahnya limbah tekstil yang sulit terurai. Dari sini terlihat bahwa pakaian yang kita gunakan bukan hanya soal kebutuhan sehari hari, tetapi juga memiliki dampak terhadap lingkungan.
Mengubah Pola Konsumsi
Salah satu peserta nonton bareng menilai bahwa persoalan limbah tekstil tidak hanya berkaitan dengan industri, tetapi juga kebiasaan dari masyarakat dalam membeli pakaian. Menurutnya, perubahan dapat dimulai dari cara pandang terhadap kebutuhan sehari-hari.
Ia mengungkapkan bahwa banyak orang membeli pakaian karena tertarik pada model atau tren yang sedang berkembang, bukan karena benar-benar membutuhkannya. Akibatnya, jumlah pakaian yang dimiliki terus bertambah, sementara sebagian lainnya hanya tersimpan dan jarang digunakan. "Kita harus mengubah pola piker, Jangan membeli karena sekadar tertarik atau mengikuti tren, tetapi membeli karena memang dibutuhkan," ujarnya.
Menurutnya, kesadaran seperti ini dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi perilaku konsumtif sekaligus menekan jumlah limbah tekstil yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Penutup
Film Menolak Punah memberikan gambaran bahwa persoalan mikroplastik dan limbah tekstil bukan lagi masalah yang jauh dari kehidupan manusia. Mulai dari proses produksi hingga pola konsumsi masyarakat, semuanya memiliki kaitan dengan kondisi lingkungan saat ini. Film ini menunjukkan bahwa dampak industri tekstil tidak hanya dirasakan oleh alam, tetapi juga berpotensi memengaruhi kehidupan manusia melalui pencemaran yang terus terjadi.
Melalui film ini, kita diajak untuk melihat bahwa persoalan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab industri atau pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran dari masyarakat. Karena itu, sikap yang lebih bijak dalam mengonsumsi dan mengelola pakaian dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi dampak limbah tekstil dan mikroplastik di lingkungan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
