Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nur Jazlina Azka

AI untuk Penulisan Ilmiah: Catatan dari International Guest Lecture ASCEND 2026

Eduaksi | 2026-07-30 09:56:03

Pada Senin, 27 Juli 2026, Airlangga Global Engagement (AGE) menyelenggarakan seminar ASCEND 2026 bertajuk "AI for Academic Excellence: Enhancing Scholarly Writing and Publication Readiness through Collaboration with The University of Melbourne" melalui Zoom, pukul 10.00–12.00 WIB.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program ASCEND (Advancing Synergy and Collaboration for Engagement and Network Development) 2026, dengan proposal yang diketuai oleh Sidarta Prassetyo, S.S., M.A.TESOL dari Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, dan diselenggarakan bersama International Corner Aussie Bangel Corner (ABC) serta The University of Melbourne.

Bertindak sebagai pembicara adalah Haeun Kim, PhD, dosen Applied Linguistics di School of Languages and Linguistics, The University of Melbourne, yang akrab disapa Bu Hannah. Sesi ini dipandu oleh Samuel, mahasiswa Diploma Bahasa Inggris Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, sebagai moderator.

Pemilihan Kata dalam Prompt Memengaruhi Hasil Revisi AI

Bu Hannah membuka presentasi dengan menyoroti kebiasaan umum pengguna ChatGPT yang cenderung memakai perintah singkat seperti "correct this" atau "proofread this", meskipun prompt yang lebih rinci sebenarnya dapat menghasilkan feedback yang lebih spesifik.

Ia kemudian memaparkan hasil penelitiannya yang menguji tujuh jenis perintah correct this, edit this, fix this, proofread this, check grammar, revise this, dan rewrite this terhadap 30 esai argumentatif dari International Corpus of Learner English (ICLE), menggunakan GPT-4 API. Hasilnya menunjukkan bahwa perintah seperti proofread this dan check grammar hanya menghasilkan revisi minor, sementara revise this dan rewrite this memicu perubahan teks yang jauh lebih signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa pemilihan kata kunci dalam prompt sangat menentukan jenis dan tingkat feedback yang diberikan AI.

AI Unggul dalam Grammar, tapi Terbatas dalam Menilai Argumen

Penelitian kedua yang dipaparkan berfokus pada keandalan ChatGPT sebagai penilai tulisan akademik dibandingkan dengan penilai manusia. Menggunakan esai dari English Placement Test (EPT) di Iowa State University, penelitian ini membandingkan skor yang dihasilkan AI dengan penilaian manusia.

Hasilnya menunjukkan tingkat kesesuaian yang moderat antara keduanya. ChatGPT cukup andal dalam mendeteksi kesalahan grammar, ejaan, dan kosakata, namun kurang efektif dalam menilai kualitas argumen, kedalaman konten, organisasi tulisan, dan koherensi secara keseluruhan. Bu Hannah menegaskan bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu pelengkap, bukan pengganti penilai manusia, khususnya dalam penilaian akademik yang berdampak besar.

Perkembangan AI Multimodal dan Peluangnya bagi Pembelajaran Bahasa

Bagian akhir presentasi membahas perkembangan AI multimodal, yang kini mampu memproses dan menghasilkan teks, gambar, audio, hingga video secara bersamaan. Menurut Bu Hannah, perkembangan ini membuka peluang baru bagi pembelajaran bahasa, terutama pada aspek berbicara, mendengarkan, dan pembelajaran interaktif.

"AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu pelengkap, bukan pengganti penilai manusia, khususnya dalam penilaian akademik yang berdampak besar." — Haeun Kim, PhD

Diskusi: Ketergantungan pada AI hingga Rekomendasi Tools

Sesi tanya jawab membahas beberapa isu praktis. Salah satu peserta menanyakan bagaimana mahasiswa dapat memanfaatkan AI secara bertanggung jawab tanpa menjadi terlalu bergantung padanya. Bu Hannah menekankan pentingnya mengembangkan dua kemampuan secara seimbang: keterampilan menulis berbantuan AI dan kemampuan menulis mandiri.

Pertanyaan lain menyoroti dampak AI generatif terhadap dunia publikasi ilmiah. Bu Hannah menjelaskan bahwa AI telah mempermudah akses penulisan akademik, khususnya bagi penulis non-native English. Namun, kemudahan ini turut meningkatkan volume naskah yang masuk ke jurnal, sehingga menambah beban kerja editor dan reviewer serta memunculkan kekhawatiran terhadap kualitas naskah hasil bantuan AI.

Terkait rekomendasi tools untuk brainstorming, tinjauan literatur, penyusunan outline, hingga penulisan ilmiah, Bu Hannah menyampaikan bahwa tidak ada satu model AI yang paling unggul untuk semua kebutuhan. Ia menyarankan pengguna mengeksplorasi berbagai platform seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan Llama, kemudian memilih yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Diskusi ditutup dengan peserta berbagi strategi prompting yang biasa mereka gunakan, di mana sebagian besar lebih memilih mengajukan pertanyaan detail dibandingkan perintah singkat, seperti meminta penjelasan kesalahan tata bahasa atau perbandingan alternatif penulisan.

Sesi ditutup oleh Samuel selaku moderator dengan ucapan terima kasih kepada Bu Hannah atas paparan dan diskusi yang telah disampaikan. Kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama dan pengisian formulir kehadiran, sebelum ditutup secara resmi oleh panitia penyelenggara.

Sebagai bagian dari rangkaian program ASCEND 2026 di bawah AGE, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi lintas institusi antara Universitas Airlangga dan The University of Melbourne dalam memperkuat kapasitas akademik serta jejaring internasional. Lebih dari sekadar membahas kemampuan AI, sesi ini juga menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pengembangan kemampuan berpikir serta menulis secara mandiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image