Fast Fashion Menurut Kacamata Lingkungan
Gaya Hidup | 2026-07-06 15:03:25
Pesatnya perkembangan di bidang ekonomi semakin dirasakan karena adanya globalisasi. Kemajuan ini membuat masyarakat mudah untuk melakukan sesuatu. Kegiatan ekonomi seperti pembelian suatu produk juga ikut meningkat seiring mudahnya konsumen dalam mencari atau membeli produk yang dibutuhkannya. Hal tersebut diimbangi dengan adanya kemudahan produsen dalam mendistribusikan produk mereka di pasar. Kemudahan ini menggiring masyarakat masuk ke jurang budaya hidup yang konsumtif.
Menurut buku “The Theory of the Leisure Class” yang ditulis oleh Thorstein Veblen menyatakan bahwa konsumsi tidak hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan juga sebagai sarana untuk memperlihatkan status sosial dan kekayaan. Fast fashion merupakan salah satu akibat dari adanya gaya hidup konsumtif. Maraknya tren yang dianggap keren memicu seseorang berperilaku tidak seperti biasanya, sehingga perilaku tersebut membuat sifat konsumtif menjadi budaya. Namun, pernahkah kita bertanya ke mana perginya pakaian yang hanya dipakai sekali, kemasan belanja yang langsung dibuang, atau barang yang dibeli hanya karena ingin menunjukkan status sosial?
Dampak Fast Fashion Terhadap Lingkungan
Semakin berkembangnya tren pada industri fashion menjadi salah satu penyebab adanya deforestasi dengan ratusan juta penebangan pohon setiap tahunnya, mengakibatkan rusaknya ekosistem. Menurut laporan “A new textiles economy: Redesigning fashion’s future” tahun 2017 dari Ellen MacArthur Foundation, yayasan amal global yang dirancang untuk menghilangkan limbah dan polusi, lebih dari 80% aliran limbah tekstil masih berakhir dengan dibakar, dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), atau mencemari lingkungan. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tahun 2023, sampah tekstil menyumbang 2,87% dari total komposisi sampah nasional. Bahan sintetis berupa polyester merupakan bahan yang sering digunakan pada produk fast fashion. Bahan tersebut tidak dapat terurai alami bahkan membutuhkan waktu ratusan tahun berada di tempat pembuangan. Hal ini semakin memperburuk pencemaran tanah di lingkungan.
Dampak lain yang ditimbulkan oleh industri fashion adalah pencemaran air. Hal ini dikarenakan produksi tekstil pada proses pewarnaan pakaian banyak menggunakan bahan kimia berbahaya seperti pewarna sintetis dan logam berat. Wilayah perairan yang dekat dengan pabrik tekstil seringkali terkena imbasnya. Di Indonesia sendiri terdapat wilayah seperti Cikarang dan Karawang yang menjadi lokasi industri tekstil penghasil limbah berbahaya sehingga mencemari sungai-sungai di wilayah tersebut. Oleh karena itu, solusi untuk dampak yang diberikan dari industri fashion sangat diperlukan saat ini.
Strategi Berkelanjutan pada Fast Fashion
Kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh industri fashion memerlukan perhatian lebih agar tidak semakin parah. Upaya keberlanjutan untuk mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan dapat dimulai dengan menggunakan sumber daya alam yang efisien, menggunakan bahan produksi yang mudah terurai, serta mengurangi limbah yang tidak diperlukan.
Peran konsumen dibutuhkan untuk mewujudkan perubahan ini. Apabila masyarakat semakin sadar akan dampak negatif yang diberikan dari adanya fast fashion ini, maka pencegahan rusaknya lingkungan dapat dicegah sejak dini. Masyarakat dapat mulai menggunakan kembali pakaian yang masih layak pakai, menggunakan pakaian yang diproduksi dengan bahan alami, atau cerdas memilih brand pakaian yang mengampanyekan upcycle atau proses mengubah sisa kain perca untuk mengurangi limbah tekstil. Dengan ini, industri fashion dapat beroperasi lebih bijak dalam memproduksi pakaian dan beralih menuju produksi berkelanjutan.
Selain itu, peran pemerintah juga diperlukan untuk mendukung perubahan dalam industri fashion sebagai industri berkelanjutan. Lembaga seperti Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) yang berdiri tahun 2021 dapat membantu memberikan arahan kepada perusahaan-perusahaan di industri fashion untuk mulai menggunakan bahan-bahan alami selama proses produksi mereka. BPDLH juga dapat mendanai proyek-proyek yang berfokus pada prinsip 3R, yakni reduce, reuse, recycle.
Fast fashion memang menguntungkan karena mudah dan cepat, tetapi dampak lingkungan yang dirasakan juga sangat serius. Meskipun begitu, dengan adanya upaya berkelanjutan, pencemaran akibat industri fashion akan dapat dicegah. Masyarakat, perusahaan di sektor fashion, serta pemerintah memiliki peran penting untuk mewujudkan bahwa keberlanjutan menjadi fokus produksi industri fashion di masa depan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
