Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Kayla Elisya Azzahra

Ikan Sapu-Sapu dan Sungai yang Sedang Sakit

Pendidikan dan Literasi | 2026-06-14 23:38:42

Keberadaan ikan sapu-sapu di berbagai perairan Indonesia kembali menjadi perhatian. Di beberapa daerah, penangkapan terus dilakukan untuk mengendalikan populasinya yang dianggap mengancam keseimbangan ekosistem. Statusnya sebagai spesies invasif membuat ikan ini sering dipandang sebagai penyebab utama berbagai persoalan yang terjadi di sungai.

Sebenarnya pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Ikan sapu-sapu memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi, berkembang biak dengan cepat, serta mampu bertahan hidup pada kondisi lingkungan yang tidak dapat ditoleransi oleh sebagian spesies ikan lokal. Kemampuan inilah yang membuat populasinya sulit dikendalikan dan terus berkembang di berbagai perairan.

Namun, ketika membicarakan ledakan populasi ikan sapu-sapu, ada satu pertanyaan yang sering terlewat. Mengapa spesies ini dapat berkembang begitu pesat di banyak sungai Indonesia? Apakah persoalannya hanya terletak pada sifat invasif ikan tersebut, atau justru ada kondisi lingkungan yang membuatnya semakin mudah mendominasi?

Selama ini perhatian publik seringkali tertuju pada sungai-sungai di Jakarta, misalnya Sungai Ciliwung yang kerap diberitakan mengalami ledakan populasi ikan sapu-sapu. Padahal, fenomena serupa juga dapat ditemukan di daerah lain. Saat melakukan observasi di Sungai Kalimas, Surabaya, keberadaan ikan sapu-sapu juga relatif mudah ditemukan. Beberapa pedagang yang berjualan di sepanjang tepian Kalimas, tepatnya di kawasan sekitar World Trade Centre (WTC) Surabaya, mengaku bahwa ikan tersebut telah lama menjadi pemandangan sehari-hari. Bahkan, menurut mereka, jumlah ikan yang muncul ke permukaan biasanya meningkat pada malam hari, terutama setelah waktu Isya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan ikan sapu-sapu bukan hanya terjadi di satu wilayah tertentu. Kehadirannya di berbagai sungai perkotaan menunjukkan adanya persoalan lingkungan yang lebih luas dan memerlukan perhatian yang lebih serius.

Sebagai spesies invasif, ikan sapu-sapu memang dapat memberikan dampak terhadap keseimbangan ekosistem. Akan tetapi, dominasi spesies ini tidak terjadi begitu saja. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu memiliki toleransi yang tinggi terhadap kondisi perairan yang kualitasnya telah menurun. Sementara sebagian ikan lokal memerlukan kondisi lingkungan yang lebih baik untuk bertahan hidup, ikan sapu-sapu justru mampu berkembang pada kondisi yang kurang ideal.

Di sinilah letak persoalan yang sering terlupakan. Diskusi mengenai ikan sapu-sapu kerap berhenti pada upaya pengendalian populasi. Padahal, membahas ikan sapu-sapu tanpa membahas kondisi sungai ibarat membicarakan gejala tanpa memperhatikan penyebab penyakitnya. Kita sibuk menghitung berapa banyak ikan yang berhasil ditangkap, tetapi jarang bertanya mengapa sungai menjadi tempat yang nyaman bagi spesies invasif tersebut.

Berbagai sungai di kawasan perkotaan masih menghadapi tekanan yang tidak ringan. Pencemaran akibat limbah domestik, sampah yang dibuang sembarangan, serta menurunnya kualitas lingkungan bantaran sungai merupakan persoalan yang masih dijumpai hingga saat ini. Dalam kondisi seperti itu, keseimbangan ekosistem perlahan berubah. Sebagian spesies lokal mengalami penurunan populasi karena tidak mampu beradaptasi, sementara organisme yang lebih toleran justru berkembang dan menguasai habitat yang tersedia.

Karena itu, pengendalian populasi ikan sapu-sapu perlu dipandang sebagai bagian dari solusi, bukan satu-satunya solusi. Penangkapan tetap diperlukan untuk mengurangi dampak ekologis yang ditimbulkan. Namun, upaya tersebut tidak akan memberikan hasil yang berkelanjutan apabila tidak diikuti dengan perbaikan kualitas sungai. Selama kondisi lingkungan masih mendukung perkembangan spesies invasif, populasi ikan sapu-sapu berpotensi kembali meningkat meskipun telah dilakukan penangkapan secara berulang.

Di sisi lain, pendekatan yang lebih inovatif juga layak dipertimbangkan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu memiliki kandungan yang berpotensi dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah. Pemanfaatan semacam ini dapat menjadi alternatif yang membantu mengendalikan populasi sekaligus memberikan manfaat ekonomi. Dengan demikian, pengelolaan spesies invasif tidak selalu harus berakhir pada pemusnahan, tetapi juga dapat diarahkan pada pemanfaatan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran masyarakat terhadap kondisi sungai. Menjaga kualitas perairan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau komunitas lingkungan, tetapi juga seluruh pihak yang memanfaatkan sungai, baik masyarakat yang tinggal di sekitarnya maupun pengunjung dan wisatawan yang datang menikmati kawasan tersebut. Kebiasaan membuang sampah ke sungai, penggunaan sungai sebagai tempat pembuangan limbah, maupun kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar secara perlahan berkontribusi terhadap menurunnya kualitas ekosistem perairan.

Pada akhirnya, ledakan populasi ikan sapu-sapu tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan satu spesies invasif. Banyaknya ikan sapu-sapu di berbagai sungai, termasuk Kalimas, menunjukkan bahwa masih terdapat persoalan dalam pengelolaan dan kualitas lingkungan sungai yang perlu mendapat perhatian lebih besar. Jika perhatian hanya difokuskan pada penangkapan ikan sapu-sapu sementara kondisi sungai semakin memburuk, persoalan yang sama akan terus-menerus berulang.

Sungai yang sehat tidak tercipta hanya dengan mengurangi jumlah spesies invasif, tetapi juga melalui upaya menjaga kualitas lingkungan secara menyeluruh. Karena itu, menyelamatkan sungai berarti tidak hanya mengendalikan ikan sapu-sapu, melainkan juga memperbaiki kondisi yang membuat spesies tersebut terus berkembang. Dengan cara itulah keseimbangan ekosistem dapat dipulihkan dan sungai kembali menjalankan fungsinya sebagai ruang hidup bagi berbagai organisme, termasuk manusia yang bergantung padanya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image