Bukan Merdeka, Melainkan Luka: Mengapa Idrus Masih Terasa Mengganggu Hari Ini?
Sastra | 2026-06-19 07:07:38Mendengar sastra Indonesia yang lahir pada masa revolusi, banyak orang mungkin membayangkan cerita tentang perjuangan, keberanian, dan tokoh-tokoh yang nyaris tanpa cela. Gambaran itu tidak sepenuhnya salah. Namun, ketika membaca Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karya Idrus, saya justru menemukan sesuatu yang berbeda. Tidak banyak pahlawan di sini. Yang ada adalah manusia-manusia biasa dengan segala keraguan, ketakutan, dan kelelahannya.
Mungkin itulah alasan mengapa karya Idrus terasa begitu dekat, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.
Di dalam kumpulan cerpen ini, revolusi tidak tampil sebagai panggung megah yang dipenuhi pidato dan heroisme. Idrus memilih sudut yang lebih sunyi. Ia mengajak pembaca melihat apa yang terjadi di balik peristiwa besar: hubungan yang renggang, keluarga yang kehilangan arah, orang-orang yang terjebak dalam keadaan yang tidak mereka pilih sendiri.
Sejarah, dalam pandangan Idrus, bukan hanya milik mereka yang namanya dicatat dalam buku pelajaran. Sejarah juga hidup dalam kegelisahan orang-orang biasa yang sering luput dari perhatian.
Yang menarik, Idrus seolah menolak cara pandang yang terlalu romantis terhadap masa perjuangan. Ia tidak sibuk membangun tokoh yang selalu benar atau selalu berani. Sebaliknya, tokoh-tokohnya sering kali tampak bingung menghadapi keadaan. Mereka tidak selalu tahu apa yang harus dilakukan. Kadang mereka salah mengambil keputusan, kadang mereka kalah oleh keadaan, dan kadang mereka hanya bisa diam.
Di sinilah saya merasa karya Idrus masih relevan sampai sekarang.
Hari ini kita hidup di tengah budaya yang gemar menampilkan versi terbaik dari diri sendiri. Media sosial dipenuhi cerita tentang pencapaian, kesuksesan, dan kemenangan. Orang berlomba-lomba terlihat kuat. Keraguan sering disimpan rapat-rapat, sementara kegagalan dianggap sesuatu yang harus segera ditutupi.
Idrus justru melakukan kebalikannya.
Ia tidak berusaha membuat tokohnya tampak hebat. Ia membiarkan mereka tetap manusia. Ada rasa takut, ada ego, ada kemarahan, ada kebingungan. Hal-hal yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari, tetapi jarang diakui secara terbuka.
Karena itu, membaca cerpen-cerpen Idrus kadang terasa tidak nyaman. Bukan karena ceritanya sulit dipahami, melainkan karena kita seperti dipaksa berhadapan dengan kenyataan yang selama ini ingin kita hindari. Kita ingin menemukan sosok yang bisa dikagumi, tetapi Idrus malah menunjukkan manusia yang rapuh dan jauh dari kesempurnaan.
Dari segi bahasa, Idrus juga terasa berbeda dibanding banyak penulis pada masanya. Kalimat-kalimatnya relatif pendek dan langsung menuju persoalan. Ia tidak banyak bermain dengan ungkapan yang berlebihan. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat ceritanya terasa tajam. Emosi yang muncul tidak datang dari kata-kata yang indah, melainkan dari situasi dan pengalaman yang terasa nyata.
Ada pula hal lain yang saya sukai dari karya ini: Idrus tidak selalu menjelaskan semuanya kepada pembaca. Ia menyisakan ruang untuk ditafsirkan. Beberapa hal dibiarkan menggantung, beberapa pertanyaan tidak diberi jawaban yang pasti. Sebagai pembaca, kita diajak ikut memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Barangkali karena alasan itu pula karya-karya Idrus tidak cepat usang. Ia tidak bergantung pada tren atau sensasi. Yang ia bicarakan adalah sesuatu yang selalu ada dalam kehidupan manusia: rasa takut, kehilangan, harapan, dan usaha untuk bertahan di tengah keadaan yang tidak menentu.
Pada akhirnya, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma bukan sekadar kumpulan cerita tentang masa revolusi. Buku ini mengingatkan bahwa di balik setiap peristiwa besar selalu ada manusia-manusia biasa yang ikut menanggung akibatnya. Mereka mungkin tidak tercatat dalam sejarah, tetapi kisah merekalah yang membuat sejarah terasa hidup.
Dan mungkin, justru karena Idrus tidak berusaha menghadirkan manusia yang sempurna, karya-karyanya masih terasa mengganggu hingga hari ini. Ia membuat kita sadar bahwa di balik segala slogan, ideologi, dan peristiwa besar, manusia tetaplah manusia rapuh, rumit, dan sering kali tidak sekuat yang ingin ditunjukkannya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
