Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Fauzi Adhim

Ketika Pembelajaran Disfagia Tak Lagi Cukup dari Teori

Teknologi | 2026-08-16 16:00:30

Disfagia atau gangguan menelan bukan sekadar persoalan kemampuan seseorang untuk makan dan minum. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko malnutrisi, pneumonia aspirasi, menurunkan kualitas hidup, bahkan berhubungan dengan peningkatan risiko kematian. Disfagia banyak ditemukan pada pasien stroke, Parkinson, kanker kepala dan leher, serta kelompok lanjut usia. Seiring meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan terhadap kondisi tersebut, kemampuan tenaga kesehatan dalam memahami dan menangani disfagia menjadi semakin penting.

Salah satu pemeriksaan yang penting dalam mengevaluasi gangguan menelan adalah Videofluoroscopic Swallowing Study (VFSS). Pemeriksaan ini memungkinkan tenaga kesehatan melihat proses menelan secara dinamis, termasuk pergerakan bolus, residu, serta kemungkinan terjadinya penetrasi atau aspirasi. Hasil pemeriksaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan penatalaksanaan pasien, termasuk strategi rehabilitasi dan terapi nutrisi.

Namun, persoalan tidak hanya berada pada pelayanan pasien. Mahasiswa kesehatan sebagai calon tenaga profesional juga perlu memiliki kesempatan untuk memahami proses tersebut secara komprehensif. Dalam pembelajaran saat ini, materi mengenai disfagia masih banyak diberikan melalui pendekatan teoritis dan berdasarkan disiplin ilmu masing-masing. Mahasiswa radiologi, gizi, kedokteran, maupun terapi wicara dapat mempelajari aspek kompetensinya sendiri, tetapi belum selalu mendapatkan pengalaman untuk menghubungkan seluruh kompetensi tersebut dalam satu kasus klinis.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mahasiswa Universitas Airlangga mengembangkan NutriTrace EduVFSS™. Inovasi ini berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan situasi klinis, terutama dalam membangun kemampuan mahasiswa untuk menganalisis kasus dan menghubungkan hasil pemeriksaan dengan keputusan klinis.

“Kami melihat adanya kesenjangan antara apa yang dipelajari mahasiswa di ruang kelas dengan kompleksitas pengambilan keputusan ketika menghadapi kasus klinis,” menjadi landasan pengembangan inovasi ini. Pembelajaran mengenai disfagia tidak cukup apabila mahasiswa hanya mampu menghafal konsep atau membaca hasil pemeriksaan. Mereka perlu dilatih untuk memahami hubungan antara kondisi pasien, fisiologi menelan, hasil pemeriksaan, kebutuhan nutrisi, hingga pilihan intervensi.

Kebutuhan tersebut semakin penting karena clinical reasoning tidak dapat terbentuk secara optimal hanya melalui pembelajaran berbasis ceramah atau hafalan. Mahasiswa membutuhkan pembelajaran autentik yang memungkinkan mereka berlatih menganalisis kondisi, mengambil keputusan, dan melakukan refleksi terhadap keputusan yang dibuat.

Selain itu, kesempatan mahasiswa untuk mengamati pemeriksaan VFSS secara langsung juga menghadapi berbagai keterbatasan. Pemeriksaan membutuhkan fasilitas fluoroskopi, memperhatikan standar keselamatan radiasi, serta membutuhkan variasi kasus yang tidak selalu mudah tersedia dalam lingkungan pendidikan. Keterbatasan tersebut membuat pengalaman mahasiswa dalam memahami pemeriksaan secara langsung menjadi terbatas.

Berangkat dari permasalahan tersebut, NutriTrace EduVFSS™ dikembangkan sebagai upaya menjembatani kesenjangan antara teori, pengalaman belajar, dan kebutuhan praktik klinis. Para pengembang ingin menghadirkan proses pembelajaran yang tidak hanya membuat mahasiswa mengetahui apa itu disfagia, tetapi juga memahami bagaimana suatu temuan klinis diterjemahkan menjadi keputusan yang tepat bagi pasien.

Bagi tim pengembang, transformasi pendidikan tenaga kesehatan menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di masa depan. Karena itu, perubahan tidak cukup hanya dilakukan pada teknologi pelayanan, tetapi juga harus dimulai dari bagaimana calon tenaga kesehatan dipersiapkan untuk menghadapi kompleksitas kasus nyata.

NutriTrace EduVFSS™ kemudian lahir dari gagasan sederhana: jika mahasiswa akan menghadapi pasien nyata dengan masalah yang kompleks, maka pengalaman belajar mereka juga perlu dibuat semakin autentik, terintegrasi, dan mendekati kondisi nyata.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image