Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image lola malihah

Merdeka: Merawat Bumi, Menjaga Amanah, Membangun Human Capital

Agama | 2026-08-16 11:18:49

LOLA MALIHAH

Dosen Program Studi Manajemen Bisnis Syariah. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Institut Agama Islam Darussalam Martapura. Kalimantan Selatan

Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia tidak hanya mengenang perjuangan merebut kemerdekaan, tetapi juga diingatkan akan tanggung jawab besar untuk mengisi kemerdekaan dengan karya, pengabdian, dan peradaban yang lebih baik. Kemerdekaan bukanlah garis akhir perjuangan, melainkan awal dari ikhtiar panjang membangun bangsa yang berdaulat, maju, dan bermartabat. Di tengah cita-cita menuju Indonesia Emas 2045, pertanyaan penting yang patut kita renungkan adalah: sumber daya manusia seperti apa yang sedang kita persiapkan untuk mewujudkan masa depan bangsa?

Selama ini pembangunan sering diukur melalui pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, dan pembangunan infrastruktur. Semua itu memang menjadi indikator penting bagi kemajuan suatu negara. Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa kemajuan material tidak selalu berjalan seiring dengan kemajuan moral. Kecanggihan teknologi dapat mempercepat pekerjaan manusia, tetapi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Pertumbuhan ekonomi dapat meningkatkan kesejahteraan, tetapi belum tentu menghadirkan keadilan. Karena itu, keberhasilan pembangunan pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang menggerakkannya.

Ilmu manajemen, memandang manusia sebagai human capital, yakni aset paling berharga yang menentukan keberhasilan organisasi maupun bangsa. Namun, memandang manusia semata sebagai modal produktif tentu tidak cukup. Manusia bukan sekadar faktor produksi, melainkan pribadi yang memiliki hati, nilai, keyakinan, dan tanggung jawab moral. Oleh sebab itu, pembangunan human capital Indonesia perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan kompetensi, tetapi juga membentuk karakter yang berintegritas, berempati, dan memiliki kesadaran terhadap keberlanjutan kehidupan.

Agama juga memandang manusia adalah khalifah yang diberi amanah sebagai pemakmur dan penjaga bumi. Amanah tersebut menegaskan bahwa setiap aktivitas manusia, termasuk bekerja, memimpin, mengelola organisasi, maupun membangun perekonomian, tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab menjaga keseimbangan alam dan menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan. Bekerja bukan sekadar memenuhi target atau mengejar keuntungan, tetapi juga menjadi bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai inilah yang sesungguhnya menjadi fondasi etika dalam membangun sumber daya manusia yang unggul sekaligus bertanggung jawab.

Kesadaran tersebut semakin relevan ketika dunia menghadapi ancaman perubahan iklim, kerusakan lingkungan, serta semakin terbatasnya sumber daya alam. Organisasi masa kini dituntut tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan ekologis dari setiap kebijakan yang diambil. Dalam kondisi inilah pendekatan Green Human Resource Management (Green HRM) memperoleh maknanya. Pendekatan ini mendorong organisasi untuk mengintegrasikan kepedulian terhadap lingkungan ke dalam berbagai praktik pengelolaan sumber daya manusia, mulai dari proses rekrutmen, pengembangan kompetensi, penilaian kinerja, hingga pembentukan budaya kerja yang berorientasi pada keberlanjutan.

Namun demikian, Green HRM akan menjadi lebih bermakna apabila tidak berhenti sebagai seperangkat kebijakan organisasi. Ia memerlukan manusia yang memiliki kesadaran batin bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tuntutan regulasi atau strategi bisnis, melainkan panggilan moral. Kesadaran seperti itu lahir dari nilai spiritualitas yang mengajarkan amanah, kejujuran, rasa syukur, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap kehidupan.

Di sisi lain, bangsa Indonesia dianugerahi kekayaan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun. Berbagai tradisi di Nusantara mengajarkan pentingnya hidup selaras dengan alam, mengutamakan kebersamaan, menghormati kehidupan, menghindari sikap berlebihan, serta menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Nilai-nilai tersebut bukan sekadar warisan budaya, melainkan modal sosial yang tetap relevan untuk menjawab tantangan pembangunan pada era modern. Ketika nilai-nilai itu dihidupkan kembali dalam keluarga, lembaga pendidikan, organisasi, dunia usaha, maupun institusi formal, maka akan lahir budaya kerja yang tidak hanya produktif, tetapi juga beretika dan berkelanjutan.

Perpaduan antara spiritualitas dan kearifan lokal menjadi kekuatan yang mampu memperkaya pembangunan human capital Indonesia. Spiritualitas membimbing manusia agar setiap pekerjaan dilandasi niat yang benar dan tanggung jawab kepada Tuhan. Sementara itu, kearifan lokal mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan menjadi bagian dari komunitas dan alam yang harus dijaga bersama. Dari perpaduan keduanya akan tumbuh manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, luhur secara moral, peduli secara sosial, dan arif dalam memperlakukan lingkungan.

Inilah sumber daya manusia yang sesungguhnya dibutuhkan Indonesia menuju satu abad kemerdekaan. Bukan hanya generasi yang mampu menguasai teknologi, tetapi juga generasi yang mampu menggunakan teknologi dengan bijaksana. Bukan hanya generasi yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan bahwa pertumbuhan tersebut tidak mengorbankan kelestarian lingkungan dan martabat manusia. Bukan hanya generasi yang mampu bersaing di tingkat global, tetapi juga tetap berpijak pada nilai-nilai luhur bangsa yang telah menjadi jati dirinya.

Momentum Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia hendaknya menjadi ruang refleksi bahwa investasi terbesar bangsa ini bukan semata-mata pada pembangunan fisik, melainkan pada pembangunan manusia. Jalan raya, pelabuhan, gedung, dan teknologi akan terus berkembang mengikuti zaman. Namun, tanpa manusia yang berintegritas, berkarakter, dan memiliki kepedulian terhadap sesama serta lingkungan, seluruh kemajuan tersebut akan kehilangan makna.

Kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa bukan hanya amanah untuk menjaga kedaulatan negara, tetapi juga amanah untuk merawat kehidupan. Oleh karena itu, membangun manusia Indonesia berarti membangun pribadi yang memandang pekerjaan sebagai pengabdian, kepemimpinan sebagai tanggung jawab, ilmu sebagai jalan kemaslahatan, dan alam sebagai titipan yang wajib dijaga. Ketika nilai-nilai itu tumbuh dalam diri setiap insan, kemerdekaan tidak hanya melahirkan bangsa yang maju secara ekonomi, tetapi juga bangsa yang beradab, berkelanjutan, dan dirahmati Tuhan Yang Maha Esa.

Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Mari memaknai kemerdekaan bukan hanya dengan semangat membangun negeri, tetapi juga dengan tekad membangun manusia yang berkarakter, memuliakan alam, dan mewariskan masa depan yang lebih baik bagi generasi penerus. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya dikenang karena kemajuannya, melainkan karena kebijaksanaannya dalam menjaga harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image