Dari Halaman Kotor Jadi Asri, dari Botol Bekas Jadi Celengan
Eduaksi | 2026-08-16 17:27:45Pada pekan keempat pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN), Kelompok KKN Desa Karamatwangi melaksanakan Program DIGDAYA CENDEKIA pada tanggal 28, 30, dan 31 Juli 2026 di dua lokasi berbeda, yaitu Pondok Pesantren Riyadul Hidayah dan SDN 3 Karamatwangi. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan serta menanamkan kebiasaan menabung sejak dini kepada para santri dan siswa kelas 4 SD.
Dua kegiatan ini lahir dari keresahan yang sama: sampah masih sering dipandang sebelah mata. Banyak orang, termasuk anak-anak dan remaja, terbiasa membuang apa saja ke satu tempat sampah yang sama, tanpa menyadari bahwa di antara tumpukan sampah itu, ada barang-barang yang sebenarnya masih bisa “hidup kedua kali”. Dari keresahan itulah, sesi edukasi lingkungan digelar di dua tempat dengan warna yang berbeda, namun tetap membawa semangat yang sama: mencintai lingkungan sejak dini.
Merawat Lingkungan Pesantren di Riyadul Hidayah (28 dan 30 Juli 2026)
Kegiatan pertama Program DIGDAYA CENDEKIA dilaksanakan di Pondok Pesantren Riyadul Hidayah pada tanggal 28 dan 30 Juli 2026. Berbeda dari suasana ceria khas anak SD, kegiatan di sini berlangsung dengan nuansa yang lebih tenang, namun tak kalah bermakna. Fokus kegiatan sepenuhnya diarahkan pada satu tema besar: kepedulian terhadap lingkungan.
Para santri diajak memahami kembali apa sebenarnya sampah, dan mengapa tidak semuanya layak dibuang begitu saja. Materi mengenai perbedaan sampah organik dan anorganik disampaikan pada pertemuan tanggal 28 Juli 2026, lengkap dengan contoh-contoh yang mudah ditemui di lingkungan pesantren sehari-hari, mulai dari sisa makanan, daun kering, hingga botol plastik dan kaleng bekas.
Yang membuat sesi ini terasa istimewa adalah bagaimana materi dikaitkan langsung dengan lingkungan tempat tinggal para santri. Pertanyaan sederhana seperti mengapa halaman pesantren perlu dijaga kebersihannya, atau apa yang terjadi jika sampah plastik dibiarkan menumpuk bertahun-tahun, mengantarkan mereka pada kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar teori, melainkan tanggung jawab bersama sebagai penghuni pesantren.
Materi tidak berhenti pada penjelasan sebab-akibat semata. Para santri juga diajak melihat sisi lain dari sampah, yakni potensi pemanfaatannya. Botol plastik yang tadinya dianggap tidak berguna, misalnya, ternyata bisa disulap menjadi pot bunga sederhana atau tempat pensil. Sebuah pengingat kecil bahwa barang bekas, jika dipandang dengan cara yang tepat, sesungguhnya masih memiliki nilai guna.
Pada pertemuan kedua tanggal 30 Juli 2026, kegiatan berlanjut ke aksi nyata yang paling dinantikan: bersih-bersih area pesantren. Bersama-sama, para santri menyusuri halaman dan sudut-sudut pesantren, memungut sampah yang berserakan, dan merapikan lingkungan tempat mereka belajar dan tinggal sehari-hari. Tak berhenti di situ, kegiatan ditutup dengan menanam tanaman baru di halaman pesantren, sebuah langkah kecil namun penuh makna untuk mempercantik lingkungan sekaligus menghadirkan suasana yang lebih asri dan hijau di sekitar pesantren.
Ketika Sampah dan Celengan Bertemu di SDN 3 Karamatwangi (31 Juli 2026)
Setelah dua pertemuan di Pondok Pesantren Riyadul Hidayah, Program DIGDAYA CENDEKIA berlanjut ke SDN 3 Karamatwangi pada tanggal 31 Juli 2026. Siang itu, suasana kelas 4B terasa berbeda dari biasanya. Bukan pelajaran matematika atau bahasa Indonesia yang berlangsung, melainkan sebuah sesi yang membuat mata anak-anak berbinar: belajar tentang sampah, sekaligus belajar menabung.
“Pernahkah teman-teman membuang sampah? Menabung? Atau melihat botol plastik bekas?” Pertanyaan sederhana itu menjadi pembuka sesi bersama siswa kelas 4B. Hampir semua anak mengangkat tangan, menandakan bahwa ketiga hal itu sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Namun pertanyaan berikutnya justru membuat mereka berpikir lebih dalam: apakah botol bekas itu harus langsung dibuang, atau masih bisa dimanfaatkan?
Dari sanalah materi mengalir. Anak-anak diajak memahami bahwa sampah pada dasarnya adalah barang yang sudah tidak digunakan lagi, tetapi tidak semuanya harus berakhir di tempat pembuangan. Ada dua jenis sampah yang perlu mereka kenali: sampah organik yang mudah membusuk dan berasal dari makhluk hidup, seperti kulit pisang, daun, sayuran, dan sisa buah; serta sampah anorganik yang sulit terurai karena berasal dari bahan buatan, seperti botol plastik, kaleng, kaca, dan baterai bekas. Suasana kian hidup ketika sesi berubah menjadi permainan tebak-tebakan: “Kulit pisang masuk ke tempat sampah mana? Botol plastik? Baterai bekas?” Anak-anak berlomba menjawab, sembari sesekali tertawa saat jawaban temannya keliru.
Materi kemudian berlanjut ke pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa memilah sampah itu penting? Jawabannya sederhana namun mengena: lingkungan jadi lebih bersih, tidak bau, barang bekas bisa dipakai lagi, dan pencemaran lingkungan pun berkurang. Sebuah fakta kecil turut disisipkan untuk mengasah rasa ingin tahu mereka: botol plastik butuh waktu ratusan tahun untuk terurai di alam. Fakta ini seketika membuat beberapa anak menatap botol minumnya sendiri dengan tatapan berbeda.
Dari sini, materi berpindah ke tema kedua: menabung. Anak-anak diajak memahami bahwa menabung adalah kebiasaan menyisihkan sebagian uang untuk digunakan di kemudian hari, entah untuk membeli buku, perlengkapan sekolah, atau barang impian mereka. Sebuah ilustrasi sederhana digunakan untuk membuat konsep ini terasa dekat: jika menabung Rp2.000 setiap hari selama 30 hari, uang yang terkumpul bisa mencapai Rp60.000, jumlah yang cukup untuk membeli banyak hal yang mereka inginkan.
Dua tema ini kemudian dipertemukan dalam satu benang merah yang sederhana namun bermakna: sampah yang dipilah dan barang bekas yang dipilih, seperti botol plastik, bisa diubah menjadi celengan sebagai sarana untuk rajin menabung. Dari sinilah anak-anak sadar bahwa dua kebiasaan baik, menjaga lingkungan dan hidup hemat, ternyata bisa berjalan beriringan.
Sesi pun berlanjut ke bagian yang paling dinanti: membuat celengan dari botol plastik bekas. Satu per satu anak membersihkan botol mereka, membuat lubang kecil di bagian atas, lalu menghiasnya dengan kertas warna dan stiker sesuka hati. Ada yang menghias botolnya menyerupai wajah lucu, ada pula yang menuliskan nama sendiri dengan huruf besar-besar penuh kebanggaan. Setelah celengan jadi, mereka memasukkan uang tabungan pertama sebagai penanda dimulainya kebiasaan baru. Sebuah tantangan kecil pun diberikan di akhir sesi: menabung Rp2.000 setiap hari selama satu minggu, tantangan yang disambut dengan semangat oleh hampir seluruh siswa kelas 4B.
Selepas sesi materi dan praktik, kegiatan pada 31 Juli 2026 ini ditutup dengan aksi nyata: bersih-bersih area sekolah. Anak-anak yang tadinya duduk manis di kelas kini turun langsung memungut sampah, memilahnya, dan merapikan lingkungan sekolah mereka sendiri, sebuah pengalaman yang membuat teori yang baru saja dipelajari terasa lebih hidup.
Dua Tempat, Satu Semangat
Meski dilaksanakan pada hari yang berbeda dan di dua tempat dengan latar serta kebutuhan yang berbeda, santri pesantren yang lebih menekankan refleksi dan tanggung jawab pada 28 dan 30 Juli 2026, serta siswa SD yang identik dengan keceriaan dan permainan pada 31 Juli 2026, kedua kegiatan dalam Program DIGDAYA CENDEKIA ini sesungguhnya membawa pesan yang sama: menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita.
Di Pondok Pesantren Riyadul Hidayah, pesan itu hadir lewat halaman yang lebih bersih dan tanaman baru yang mulai tumbuh, hasil dari tangan-tangan para santri yang kini lebih peka terhadap lingkungan tempat mereka tinggal. Di SDN 3 Karamatwangi, pesan itu hadir lewat celengan mungil dari botol bekas yang kini berdiri manis di atas meja belajar masing-masing anak, menjadi pengingat harian bahwa memilah sampah dan menabung adalah dua kebiasaan baik yang bisa berjalan beriringan.
Pada akhirnya, kedua kegiatan yang berlangsung sepanjang 28 hingga 31 Juli 2026 ini mengingatkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil: memilah sampah dengan benar, memanfaatkan kembali barang bekas, menabung sedikit demi sedikit, hingga sekadar menanam satu bibit tanaman. Melalui Program DIGDAYA CENDEKIA, diharapkan para santri dan siswa dapat menerapkan kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang bekas secara kreatif, serta membangun budaya menabung sejak usia dini. Jika kebiasaan-kebiasaan kecil ini terus dipupuk sejak dini, bukan tidak mungkin kelak akan tumbuh generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan dan lebih bijak dalam mengelola apa yang mereka miliki.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
