Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Siti Fakhira Wastiqa

Mengenal Dunia Industri dari Dekat: Cerita Seorang Mahasiswa Analisis Kimia Selama PKL

Pendidikan | 2026-08-16 16:32:00

Pendahuluan

Saya adalah seorang mahasiswa analisis kimia yang sedang menjalankan kegiatan PKL di salah satu industri farmasi. Pada artikel ini saya akan membagikan sedikit pandangan dan pengalaman saya setelah menjalankan masa PKL selama kurang lebih 1 bulan.

Praktik Kerja Lapangan atau PKL merupakan salah satu bagian penting dalam proses pendidikan mahasiswa, khususnya bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan vokasi. Berbeda dengan pembelajaran di dalam kelas yang sebagian besar berfokus pada teori dan kegiatan praktikum, PKL memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana ilmu yang selama ini dipelajari diterapkan dalam dunia kerja. Bagi mahasiswa Analisis Kimia, pengalaman tersebut menjadi semakin penting karena bidang analisis kimia memiliki ruang lingkup yang cukup luas dan penerapannya dapat ditemukan di berbagai bidang industri, seperti industri farmasi, pangan, kosmetik, lingkungan, maupun industri kimia lainnya.

Selama menjalani perkuliahan, mahasiswa Analisis Kimia mempelajari berbagai macam teori mengenai kimia analitik, instrumen, metode analisis, pengolahan data, validasi metode, keselamatan kerja, hingga sistem mutu laboratorium. Mahasiswa juga mendapatkan pengalaman menggunakan berbagai instrumen analisis seperti spektrofotometer UV-Vis, AAS, FTIR, GC, maupun HPLC melalui kegiatan praktikum. Namun pengalaman tersebut belum tentu memberikan gambaran secara utuh mengenai bagaimana kegiatan analisis dilakukan dalam lingkungan industri yang sesungguhnya. Melalui PKL dan magang inilah mahasiswa dapat melihat bahwa pekerjaan seorang analis tidak hanya sebatas menyiapkan sampel, menjalankan instrumen, memperoleh hasil, kemudian menghitung kadar.

Di balik suatu hasil analisis terdapat prosedur,dokumentasi, standar, sistem mutu, tanggung jawab, ketelitian, serta kerja sama antar personal yang harus dijalankan secara konsisten. Bagi saya sendiri, pelaksanaan PKL menjadi pengalaman yang sangat berarti karena memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana ilmu Analisis Kimia digunakan dalam industri farmasi. Saya mendapatkan gambaran yang lebih nyata mengenai bagaimana suatu produk obat dapat melalui berbagai tahapan sebelum akhirnya sampai ke tangan masyarakat.

Saya juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal lingkungan kerja analis, mempelajari instrumen yang banyak digunakan di industri, terutama HPLC, serta berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pengalaman lebih banyak di bidang tersebut. PKL juga membuat saya menyadari bahwa kesiapan memasuki dunia kerja tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak teori yang dapat dipahami di bangku kuliah. Pengetahuan memang merupakan dasar pentingnya, tetapi kemampuan untuk beradaptasi, berkomunikasi, bertanya, bekerja sama, memiliki rasa ingin tahu, disiplin, dan mampu menerima arahan juga merupakan bagian yang tidak kalah penting.

Persiapan untuk Mendapatkan Tempat PKL yang Baik

Mendapatkan tempat PKL yang sesuai menurut saya bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan secara spontan tanpa persiapan. Mahasiswa perlu melakukan berbagai usaha untuk mencari informasi sebanyak mungkin mengenai tempat yang akan menjadi lokasi PKL. Hal pertama yang menurut saya penting dilakukan adalah melakukan riset. Riset tersebut tidak hanya mengenai nama perusahaan atau bidang industrinya, tetapi juga mengenai kegiatan yang dilakukan di perusahaan tersebut, khususnya kegiatan yang berhubungan dengan bidang yang ingin dipelajari.

Informasi mengenai tempat PKL dapat diperoleh dari berbagai sumber. Mahasiswa dapat mencari informasi melalui internet, media sosial perusahaan, website resmi, pengalaman mahasiswa atau alumni yang pernah melakukan PKL di tempat tersebut, maupun bertanya secara langsung kepada orang yang pernah bekerja di perusahaan tersebut. Bertanya kepada orang lain menurut saya sangat membantu karena terkadang informasi yang diperoleh dari internet hanya menjelaskan gambaran umum perusahaan, sedangkan pengalaman orang yang perna berada langsung di dalam lingkungan perusahaan dapat memberikan gambaran yang lebih nyata.

Selain mencari informasi mengenai perusahaan, mahasiswa juga sebaiknya mencari tahu apa saja yang akan diperoleh selama melaksanakan PKL. Misalnya apakah mahasiswa akan diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan laboratorium secara langsung, apakah diperbolehkan mempelajari instrumen tertentu, apakah mahasiswa hanya melakukan observasi atau dapat ikut membantu pekerjaan analis, bagaimana sistem pembimbingannya, serta bagaimana lingkungan kerja di tempat tersebut. Hal-hal seperti ini penting untuk diketahui.

Menurut saya mahasiswa juga perlu mempertimbangkan kesesuaian antara tempat PKL dengan minat dan kemampuan yang dimiliki. Saya percaya bahwa menjalani sesuatu yang sesuai dengan minat akan membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan. Misalnya mahasiswa yang memiliki ketertarikan pada analisis instrumen dapat mencari tempat yang memberikan kesempatan untuk mempelajari instrumen seperti HPLC, GC, atau instrumen lainnya. Mahasiswa yang lebih tertarik pada sistem mutu dapat mencari tempat yang memberikan kesempatan untuk mengenal QA, dokumentasi, validasi, atau sistem manajemen mutu.

Memilih tempat yang sesuai dengan minat juga dapat membuat mahasiswa lebih termotivasi untuk belajar. Ketika seseorang merasa tertarik terhadap bidang yang sedang dipelajari, rasa lelah atau kesulitan yang muncul selama proses pembelajaran akan lebih mudah dijalani karena ada rasa ingin mengetahui lebih banyak. Mahasiswa juga perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin apabila tempat PKL yang dituju menerapkan proses seleksi. Tidak semua tempat PKL menerima mahasiswa hanya berdasarkan pengajuan surat. Beberapa perusahaan dapat melakukan wawancara, tes tertulis, maupun bentuk seleksi lainnya. Oleh karenanya mahasiswa sebaiknya tidak hanya menyiapkan administrasi, tetapi juga menyiapkan pengetahuan dan kemampuan yang relevan.

Menurut saya mendapatkan tempat PKL yang baik membutuhkan usaha dari mahasiswa itu sendiri. Tidak cukup hanya menunggu informasi atau menunggu kesempatan datang. Mahasiswa perlu aktif mencari, bertanya, mempertimbangkan pilihan, mempersiapkan diri, dan berusaha mendapatkan tempat yang dapat memberikan pengalaman belajar yang maksimal.

Gambaran Tempat PKL yang Ideal

Tempat PKL yang ideal bagi saya bukan semata-mata tempat yang memiliki nama besar atau perusahaan yang terkenal. Tempat PKL yang ideal adalah tempat yang mampu memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar sebanyak mungkin dan memberikan lingkungan yang mendukung proses pembelajaran tersebut. Salah satu hal yang menurut saya paling penting adalah adanya kesempatan dan kepercayaan kepada mahasiswa untuk mencoba. Tentunya kesempatan tersebut tetap harus disesuaikan dengan kemampuan mahasiswa dan aturan keselamatan yang berlaku. Namun, mahasiswa akan mendapatkan pengalaman yang jauh lebih bermakna apabila tidak hanya menjadi orang yang melihat atau mengamati pekerjaan dari jauh.

Misalnya, dalam kegiatan laboratorium, mahasiswa dapat diberikan kesempatan untuk memahami bagaimana suatu sampel diterima, bagaimana sampel dipersiapkan, bagaimana analisis dilakukan, bagaimana instrumen digunakan, bagaimana hasil diperoleh, hingga bagaimana data tersebut didokumentasikan. Dari proses tersebut mahasiswa dapat memahami bahwa satu kegiatan analisis sebenarnya terdiri atas banyak tahapan yang saling berhubungan.

Dalam pengalaman saya sendiri, saya merasa cukup beruntung dapat diterima untuk melakukan PKL di tempat sekarang. Perusahaan saya sangat memberikan support kepada peserta PKL untuk belajar berbagai macam hal dan ikut membantu pekerjaan analis. Bahkan tempat PKL saya tidak segan untuk memberi kesempatan kami anak PKL untuk mengoperasikan alat-alat analisis yang terdapat disana. Saya juga menganggap tempat PKL yang baik adalah tempat yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal berbagai instrumen analisis. Hal tersebut sangat penting bagi mahasiswa Analisis Kimia karena instrumen merupakan salah satu bagian utama dari pekerjaan analis. Di bangku kuliah mahasiswa memang sudah mendapatkan kesempatan menggunakan beberapa instrumen, tetapi kondisi penggunaan instrumen di industri dapat berbeda dengan kondisi praktikum.

Salah satu instrumen yang sangat memberikan pengalaman baru bagi saya selama berada di industri farmasi adalah HPLC. Sebelumnya saya telah mempelajari prinsip HPLC melalui perkuliahan dan praktikum, tetapi ketika melihat penggunaannya secara langsung di industri, pemahaman saya menjadi lebih luas. Saya dapat melihat bahwa penggunaan HPLC tidak hanya berkaitan dengan memahami prinsip pemisahan, fase gerak, fase diam, waktu retensi, dan detektor. Ada banyak aspek lain yang perlu diperhatikan, mulai dari persiapan larutan, preparasi sampel, kondisi instrumen, kesesuaian sistem, hingga pengolahan dan evaluasi data.

Selain kesempatan untuk belajar, lingkungan kerja juga sangat menentukan kualitas pengalaman PKL. Menurut saya, lingkungan yang baik adalah lingkungan yang membuat mahasiswa tidak takut untuk belajar dan bertanya. Kakak analis atau pembimbing yang bersedia memberikan penjelasan, mengarahkan ketika mahasiswa melakukan kesalahan, serta membagikan pengalaman mereka dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan mahasiswa. Hal-hal yang mungkin terlihat sederhana, seperti seseorang menjelaskan alasan mengapa suatu langkah harus dilakukan dengan cara tertentu, sebenarnya dapat memberikan pemahaman yang jauh lebih dalam. Mahasiswa tidak hanya mengetahui "apa yang harus dilakukan", tetapi juga memahami "mengapa hal tersebut harus dilakukan". Pemahaman seperti inilah yang menurut saya sangat berharga karena dapat membentuk pola pikir seorang analis.

Pentingnya PKL bagi Mahasiswa Analisis Kimia

Bagi mahasiswa Analisis Kimia, PKL memiliki peran yang sangat penting karena menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Selama perkuliahan, mahasiswa memperoleh berbagai pengetahuan teoritis dan praktis. Namun, penerapan ilmu tersebut dalam dunia kerja memiliki kompleksitas yang berbeda.

PKL memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mempraktikkan ilmu yang selama ini dipelajari. Materi yang sebelumnya hanya dipahami melalui buku, dosen, atau praktikum dapat dilihat penerapannya secara langsung. Misalnya, mahasiswa telah mempelajari mengenai HPLC, tetapi ketika berada di industri mahasiswa dapat melihat bagaimana instrumen tersebut benar-benar menjadi bagian dari proses pengujian rutin. Hal tersebut membuat mahasiswa memahami bahwa teori yang dipelajari di kelas sebenarnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan pekerjaan di industri. Konsep-konsep seperti akurasi, presisi, waktu retensi, resolusi, tailing factor, theoretical plates, validasi metode, hingga system suitability bukan hanya istilah yang muncul dalam soal ujian, tetapi memiliki fungsi nyata dalam memastikan hasil analisis dapat dipercaya.

Selain menerapkan ilmu, PKL juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan keterampilan. Keterampilan tersebut bukan hanya keterampilan teknis menggunakan instrumen, tetapi juga keterampilan dalam bekerja secara sistematis. Di lingkungan industri, setiap pekerjaan perlu dilakukan berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan. Ketelitian dalam menimbang bahan, membuat larutan, melakukan pengenceran, membaca hasil instrumen, mencatat data, dan melakukan dokumentasi menjadi hal yang sangat penting.

PKL juga memperluas wawasan mahasiswa mengenai ruang lingkup pekerjaan seorang analis kimia. Sebelum menjalani PKL, seseorang mungkin memiliki gambaran bahwa analis hanya bekerja di laboratorium dan melakukan pengujian sampel. Namun, setelah berada di industri, dapat terlihat bahwa pekerjaan analis memiliki hubungan dengan banyak bagian lain.

Dalam industri farmasi, kegiatan analisis memiliki kaitan dengan proses riset dan pengembangan, produksi, quality control, quality assurance, hingga distribusi. Setiap bagian memiliki perannya masing-masing untuk memastikan produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Dari sini mahasiswa dapat memahami bahwa analis kimia merupakan salah satu bagian dari sistem yang lebih besar.

PKL juga memberikan kesempatan untuk memperluas relasi. Selama berada di tempat PKL, mahasiswa dapat bertemu dengan analis, supervisor, staf laboratorium, maupun orang-orang dari bagian lainnya. Relasi tersebut dapat menjadi sumber pengetahuan dan pengalaman yang berharga. Setiap orang memiliki latar belakang dan pengalaman yang berbeda sehingga mahasiswa dapat memperoleh sudut pandang baru mengenai dunia kerja.

Lebih jauh lagi, PKL membantu mahasiswa mengenali dirinya sendiri. Mahasiswa dapat mengetahui bidang apa yang ternyata disukai, bidang apa yang masih perlu dipelajari, serta kemampuan apa yang perlu ditingkatkan sebelum benar-benar memasuki dunia kerja. Menurut saya, kesadaran seperti ini sangat penting karena mahasiswa tidak hanya pulang membawa pengalaman, tetapi juga membawa gambaran yang lebih jelas mengenai arah pengembangan dirinya.

Sikap dan Perilaku yang Harus Ditunjukkan Selama PKL

Menurut saya, salah satu sikap yang paling penting selama menjalani PKL adalah proaktif. Menjadi mahasiswa PKL berarti berada dalam posisi sebagai seseorang yang sedang belajar. Oleh karena itu, jangan sampai mahasiswa hanya menunggu diberikan pekerjaan atau menunggu seseorang menjelaskan sesuatu. Proaktif bukan berarti mengambil alih pekerjaan orang lain tanpa izin. Proaktif berarti memiliki inisiatif untuk mencari tahu apa yang dapat dipelajari dan dilakukan. Ketika pekerjaan utama telah selesai, mahasiswa dapat bertanya apakah ada pekerjaan lain yang dapat dibantu. Ketika melihat suatu proses yang belum dipahami, mahasiswa dapat mencatatnya dan kemudian bertanya pada waktu yang tepat.

Saya juga belajar bahwa rasa ingin tahu merupakan modal yang sangat penting. Selama PKL, terdapat banyak hal yang mungkin terlihat sederhana tetapi sebenarnya memiliki alasan tertentu. Misalnya, mengapa suatu larutan harus dibuat dengan cara tertentu, mengapa suatu alat harus dikondisikan terlebih dahulu, mengapa suatu prosedur memilikiurutan tertentu, mengapa suatu hasil analisis perlu diperiksa kembali, atau mengapa dokumentasi harus dilakukan dengan cara tertentu. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terlihat kecil, tetapi justru dari pertanyaan tersebut pemahaman dapat berkembang. Seorang analis yang baik menurut saya bukan hanya orang yang mampu mengikuti prosedur, tetapi juga memahami alasan ilmiah dan teknis di balik prosedur tersebut.

Karena itu menurut saya seorang mahasiswa PKL tidak perlu takut bertanya. Mungkin akan ada sedikit kekhawatiran bahwa pertanyaan yang diajukan terkesan terlalu sederhana atau menunjukkan bahwa kita belum memahami sesuatu. Namun menurut saya, tidak bertanya justru dapat membuat kita kehilangan kesempatan untuk belajar. Tentu saja bertanya juga perlu dilakukan dengan cara yang baik. Sebelum bertanya, mahasiswa dapat mencoba memahami terlebih dahulu, membaca prosedur yang tersedia, atau mengingat kembali materi yang pernah dipelajari. Setelah itu, apabila masih belum memahami, barulah bertanya kepada pembimbing atau analis. Menurut saya, bertanya dengan baik menunjukkan bahwa kita benar-benar memiliki keinginan untuk belajar. Bahkan, terkadang pertanyaan sederhana dapat menghasilkan penjelasan yang sangat panjang dan membuka pemahaman baru.

Selain proaktif dan memiliki rasa ingin tahu, mahasiswa juga perlu memiliki sikap rendah hati. Selama PKL, sangat mungkin mahasiswa menemukan hal-hal yang berbeda dengan apa yang selama ini dipelajari di kampus. Perbedaan tersebut tidak selalu berarti salah satu pihak salah. Bisa saja kondisi di industri memiliki pertimbangan, standar, atau prosedur tertentu yang belum pernah ditemui di perkuliahan. Selama berada di lingkungan kerja, kemampuan menerima koreksi menjadi sangat penting. Disiplin juga merupakan sikap yang tidak dapat dipisahkan dari PKL. Mahasiswa harus mampu mengikuti jadwal kerja, mematuhi aturan perusahaan, menggunakan alat pelindung diri jika diperlukan, menjaga kebersihan area kerja, serta menjalankan prosedur yang berlaku. Hal-hal tersebut menunjukkan bagaimana sikap profesional seseorang.

Saya juga belajar bahwa mahasiswa PKL harus mampu menghargai waktu dan pekerjaan orang lain. Ketika seorang analis sedang melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, mahasiswa harus memahami kapan waktu yang tepat untuk bertanya. Ketika mendapatkan tugas, mahasiswa harus berusaha menyelesaikannya dengan baik dan tidak menganggap pekerjaan yang diberikan sebagai sesuatu yang sepele. Tujuan mahasiswa selama PKL seharusnya bukan sekadar "menyelesaikan jam PKL", tetapi memanfaatkan waktu yang tersedia untuk menyerap ilmu sebanyak mungkin. Waktu PKL terbatas, kesempatan untuk berada di lingkungan industri juga tidak selalu datang berkali-kali. Karena itu, setiap hari sebaiknya dianggap sebagai kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang baru.

Hal yang Menjadi Tantangan Selama PKL

Selama menjalani PKL, saya tidak menemukan hal yang benar-benar membuat saya merasa tidak nyaman dari lingkungan tempat PKL. Namun terdapat tantangan yang cukup saya rasakan dalam hal perjalanan menuju tempat PKL.

Lokasi tempat PKL yang cukup jauh membuat saya harus menempuh perjalanan menggunakan angkutan umum. Karena jam masuk kerja adalah pukul 07.00 pagi, saya harus berangkat jauh lebih pagi agar dapat tiba tepat waktu. Artinya, saya harus menyesuaikan rutinitas sehari-hari dengan kondisi tersebut.

Berangkat pagi dalam kondisi masih mengantuk dan harus menempuh perjalanan yang cukup jauh tentunya membutuhkan tenaga dan kedisiplinan. Selain itu, menggunakan angkutan umum juga membuat waktu perjalanan tidak selalu dapat diprediksi. Ada kemungkinan perjalanan menjadi lebih lama karena kondisi jalan, menunggu kendaraan, atau faktor lainnya.

Namun, saya mencoba melihat kondisi tersebut sebagai bagian dari pengalaman PKL. Dunia kerja tidak selalu memberikan kondisi yang ideal dan nyaman. Terkadang seseorang memang harus menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Menurut saya kemampuan untuk beradaptasi terhadap kondisi seperti ini merupakan salah satu hal yang juga perlu dipelajari oleh mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja.

Cara Menyikapi Tantangan Selama PKL

Untuk menghadapi tantangan tersebut, saya berusaha menjalani rutinitas dengan disiplin. Karena mengetahui bahwa jam masuk kerja cukup pagi, saya harus mengatur waktu sejak malam sebelumnya. Persiapan seperti menyiapkan barang yang dibutuhkan, memastikan pakaian sudah siap, dan mengatur waktu tidur menjadi hal yang penting agar pagi hari tidak terlalu terburu-buru.

Saya juga berusaha menjalani perjalanan dan rutinitas PKL dengan perasaan yang positif. Apabila setiap perjalanan dianggap hanya sebagai beban, tentu akan lebih mudah merasa lelah dan jenuh. Sebaliknya, saya mencoba mengingat bahwa perjalanan tersebut merupakan bagian dari proses untuk mendapatkan pengalaman yang saya inginkan. Menurut saya, menjalani PKL dengan rasa senang bukan berarti setiap hari selalu mudah atau tidak pernah merasa lelah. Rasa senang lebih kepada bagaimana kita memberikan makna terhadap pengalaman yang sedang dijalani. Ketika merasa lelah, saya mencoba mengingat bahwa ada ilmu dan pengalaman yang sedang saya dapatkan.

Saya juga berusaha tidak terlalu fokus pada rasa lelah akibat perjalanan, tetapi lebih fokus pada apa yang dapat saya pelajari ketika sudah sampai di tempat PKL. Perjalanan yang cukup jauh menjadi bagian dari rutinitas yang harus dijalani untuk mendapatkan pengalaman yang lebih besar. Hal tersebut juga mengajarkan saya bahwa ketika memasuki dunia kerja nanti, mungkin akan terdapat banyak hal yang tidak sesuai dengan kondisi ideal yang kita bayangkan. Namun bukan berarti kita harus selalu menghindarinya. Terkadang kita perlu belajar menyesuaikan diri, mengatur prioritas, dan tetap menjalankan tanggung jawab dengan sebaik mungkin.

Ilmu dan Pengalaman yang Saya Peroleh

Selama melaksanakan PKL di industri farmasi, saya memperoleh banyak pengetahuan baru yang sebelumnya belum saya dapatkan secara langsung di perkuliahan. Salah satu hal yang paling berkesan adalah kesempatan untuk memahami bagaimana industri farmasi bekerja sebagai suatu sistem yang saling berhubungan. Sebelumnya, saya mengetahui bahwa obat merupakan produk yang dikonsumsi masyarakat untuk membantu memulihkan kesehatan. Namun, melalui PKL saya mendapatkan gambaran yang lebih nyata mengenai proses panjang yang harus dilalui sebelum suatu produk dapat sampai ke tangan konsumen.

Saya menjadi lebih memahami bahwa proses tersebut dapat dimulai dari riset dan pengembangan, kemudian formulasi, pengujian, produksi, pengawasan mutu, hingga distribusi. Setiap tahapan memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Produk tidak dapat langsung diproduksi dan diedarkan begitu saja. Ada berbagai persyaratan yang harus dipenuhi agar kualitas, keamanan, dan konsistensi produk dapat terjamin.

Saya juga mendapatkan peningkatan pemahaman yang cukup besar mengenai HPLC. Sebagai mahasiswa Analisis Kimia, HPLC sebenarnya bukan instrumen yang asing. Saya sudah mempelajari prinsip dasarnya di perkuliahan. Namun, pengalaman langsung di industri memberikan pemahaman yang berbeda. Saya dapat melihat bagaimana HPLC digunakan dalam kegiatan analisis dan bagaimana seorang analis harus memperhatikan berbagai aspek sebelum memperoleh hasil yang dapat digunakan. Pengalaman tersebut membuat saya semakin tertarik untuk memperdalam HPLC. Saya menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari dan dipahami. Justru karena mengetahui bahwa ilmu yang saya miliki masih terbatas, saya menjadi semakin terdorong untuk belajar lebih banyak.

Lingkup analisis kimia pada tempat saya menjalani PKL dilakukan pada produk jadi dan bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi. Bahan baku perlu dianalisis untuk memastikan kualitasnya sebelum digunakan, antara lain melalui pengujian kadar, impurity atau cemaran, serta pemeriksaan karakteristik fisiknya. Sementara itu, pada produk jadi, pengujian yang dilakukan tidak hanya mencakup kadar zat aktif dan karakteristik fisik, tetapi juga berbagai pengujian fisik seperti friability (keregasan), ketebalan, hardness (kekerasan), waktu hancur, dan disolusi untuk memastikan produk memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Selain pengujian kimia dan fisik, produk juga dapat menjalani pengujian mikrobiologi seperti Angka Lempeng Total (ALT), Angka Kapang dan Khamir (AKK), serta Escherichia colli sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan pengujiannya.

Saya juga belajar bahwa kegiatan analisis di industri memiliki pembagian tugas yang jelas, di mana pengujian rutin bahan baku maupun produk berada dalam lingkup divisi existing, sedangkan kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan metode dilakukan oleh divisi Analytical Development. Divisi Analytical Development memiliki peran dalam mengembangkan metode analisis serta melakukan validasi dan verifikasi metode, sehingga metode yang digunakan dapat memberikan hasil yang akurat, presisi, dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. Pengalaman ini membuat saya memahami bahwa pengendalian mutu dalam industri farmasi merupakan suatu rangkaian yang saling berkaitan, mulai dari memastikan kualitas bahan baku, memantau proses dan produk, hingga memastikan metode analisis yang digunakan benar-benar mampu menghasilkan data yang dapat dipercaya

Selain mendapatkan pengalaman di laboratorium yang berkaitan dengan analisis kimia dan instrumen, saya juga mendapatkan pengalaman teknis di laboratorium mikrobiologi. Salah satu kegiatan yang saya pelajari adalah analisis mikrobiologi pada purified water atau air murni yang digunakan dalam proses di industri. Dalam kegiatan ini, pengambilan sampel tidak hanya dilakukan dari satu titik, tetapi dilakukan pada beberapa bagian yang menggambarkan alur sumber dan penggunaan air, yaitu dari deep well sebagai salah satu sumber air utama, sampling valve yang terdapat pada sistem pengolahan air, serta point of use (POU), yaitu titik penggunaan atau keran tempat air digunakan dalam kegiatan di area terkait. Dari kegiatan tersebut saya memahami bahwa pemantauan mikrobiologi air perlu dilakukan secara menyeluruh dari sumber, proses pengolahan, hingga titik penggunaannya agar kondisi air dapat dipantau secara konsisten.

Selain analisis air, saya juga memperoleh pengalaman dalam pemantauan udara tekan atau compressed air. Pemantauan dilakukan mulai dari sumber udara pada kompresor hingga pada mesin bagian proses yang menggunakan udara bertekanan dan dapat berhubungan dengan produk. Pengalaman lain yang saya peroleh adalah melakukan swab pada alat dan memantau hasilnya selama tujuh hari. Pemantauan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi mikrobiologis permukaan alat melalui parameter seperti Angka Lempeng Total (ALT), Angka Kapang dan Khamir (AKK), serta pengujian terhadap Escherichia coli (E. coli).

Saya juga mendapatkan pengalaman dalam pemantauan kondisi mikrobiologi ruangan menggunakan beberapa metode, yaitu metode paparan atau exposure plate, cawan kontak, dan pemantauan yang berkaitan dengan personil. Setiap metode memberikan cara yang berbeda untuk memantau kondisi lingkungan dan kebersihan area. Pengalaman di laboratorium mikrobiologi ini memperluas pemahaman saya bahwa pengendalian mutu di industri farmasi tidak hanya berfokus pada pengujian bahan atau produk, tetapi juga mencakup pemantauan air, udara, peralatan, lingkungan ruangan, dan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi kualitas produk.

Selain pengetahuan teknis, saya juga memperoleh pengalaman mengenai bagaimana bekerja bersama orang lain. Ketika mencoba membantu kakak analis, saya mendapatkan sudut pandang baru mengenai pekerjaan di laboratorium. Saya dapat melihat bagaimana seorang analis mengatur pekerjaannya, menyelesaikan tugas, berkomunikasi dengan rekan kerja, dan menghadapi kondisi yang mungkin tidak selalu sesuai dengan rencana.

Pengalaman membantu pekerjaan analis juga membuat saya memahami bahwa bekerja di laboratorium tidak hanya membutuhkan kemampuan individual. Kerja sama sangat penting karena pekerjaan satu orang dapat berkaitan dengan pekerjaan orang lain. Komunikasi yang baik dapat membantu pekerjaan berjalan lebih lancar dan mengurangi kesalahpahaman.

Hal lain yang saya peroleh adalah relasi baru. Saya bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman dan latar belakang berbeda. Dari interaksi tersebut saya tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai analisis kimia, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai pengalaman bekerja, cara menghadapi masalah, dan bagaimana seseorang berkembang dalam kariernya.

Menurut saya, pengalaman seperti ini tidak dapat sepenuhnya diperoleh hanya melalui perkuliahan. Di kampus, mahasiswa memang mendapatkan dasar ilmu yang sangat penting, tetapi PKL memberikan konteks nyata mengenai bagaimana ilmu tersebut digunakan. Oleh karena itu, pengalaman yang saya peroleh selama PKL menjadi salah satu bagian penting dalam proses perkembangan saya sebagai mahasiswa Analisis Kimia.

Refleksi terhadap Diri Sendiri Setelah Menjalani PKL

Setelah menjalani PKL, saya menyadari bahwa pengalaman di industri membuat saya melihat pembelajaran dengan sudut pandang yang berbeda. Sebelumnya, beberapa materi perkuliahan mungkin terasa seperti sesuatu yang harus dipelajari untuk menghadapi ujian atau menyelesaikan praktikum. Namun, setelah melihat penerapannya secara langsung, saya menjadi lebih memahami alasan mengapa materi tersebut penting.

PKL juga membuat saya menyadari bahwa menjadi analis kimia membutuhkan proses belajar yang tidak berhenti setelah lulus kuliah. Dunia analisis terus berkembang dan instrumen, metode, serta persyaratan yang digunakan juga dapat berkembang. Oleh karena itu, seorang analis harus memiliki kemauan untuk terus belajar. Saya juga menyadari pentingnya keberanian untuk bertanya. Tidak semua hal dapat langsung dipahami hanya dengan membaca. Terkadang seseorang baru benar-benar memahami suatu konsep setelah melihat prosesnya secara langsung dan mendiskusikannya dengan orang yang lebih berpengalaman.

Saya juga belajar bahwa, kita ternyata tidak perlu merasa harus mengetahui segala sesuatu sejak awal. Sebagai mahasiswa PKL, posisi utama saya memang untuk belajar. Yang lebih penting adalah bagaimana saya menunjukkan kemauan untuk belajar, menerima arahan, dan berusaha memahami setiap pengalaman yang diberikan. PKL juga membuat saya semakin memiliki gambaran mengenai bidang yang ingin saya dalami setelah menyelesaikan pendidikan. Pengalaman berada di industri farmasi membuat saya melihat bahwa bidang analisis dan pengendalian mutu memiliki ruang yang luas untuk dipelajari. Saya menjadi semakin tertarik untuk meningkatkan kemampuan di bidang analisis instrumen, khususnya HPLC, serta memahami lebih jauh mengenai sistem mutu dan proses yang ada di industri farmasi.

Penutup

Saya menyadari bahwa pengalaman PKL yang saya jalani masih merupakan salah satu tahap awal dalam perjalanan saya menuju dunia profesional. Masih banyak hal yang belum saya ketahui dan masih banyak kemampuan yang perlu saya tingkatkan. Namun, justru hal tersebut menjadi motivasi bagi saya untuk tidak berhenti belajar. Saya berharap pengalaman yang telah diperoleh selama PKL dapat menjadi dasar untuk membangun kemampuan yang lebih baik, meningkatkan kepercayaan diri, serta mempersiapkan diri agar nantinya dapat menjadi seorang analis kimia yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki sikap profesional, rasa ingin tahu, tanggung jawab, dan kemauan untuk terus berkembang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image