Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rosi Risalah

Memaknai Hidup di Tengah Gempuran Iklan Digital

Lifestyle | 2026-06-05 20:45:15

Semakin hari kita semakin mudah terpapar iklan. Setiap membuka gadget di platform manapun, konten-konten 'berbayar' dan 'sponsor' menjadi suatu yang tidak asing kita temukan. Promosi memang ada di mana-mana, mengejar kita selayaknya tanaman merambat.

sumber foto: kaboompics/pexels.com

Jika kita hanya bersikap menerima saja terhadap iklan, hati-hati jika ia berakhir menjerumuskan. Iklan dapat mengendalikan kita dalam mengambil keputusan. Terkadang iklan punya tendesi membuat kita merasa kurang pada apa yang tak kita miliki. Kepuasan bisa hilang karena kita sering dianggap kurang di dalam iklan.

Banyak standar yang dibuat dalam konten iklan seperti standar kecantikan, standar kehidupan berhasil, standar hubungan yang menginspirasi. Iklan membentuk praktik budaya kita dan membawa nilai-nilai yang menentukan sudut pandang kita dalam menjalani kehidupan.

Patrick E. Murphy (1998) mengemukakan tiga prinsip etika utama periklanan yang tertuang dalam Ethics in Advertising (EIA) seperti kejujuran, martabat manusia dan tanggung jawab sosial. Iklan sering menjadi wilayah abu-abu dalam menentukan kebenaran sesuatu sebab ambivalensi tuntutan tersebar seluas-luasnya. Namun, mendapatkan sesuatu secara berlebihan memang bukanlah etika yang baik. Sebagai konsumen kita harus lebih pandai memfilter iklan-iklan mana yang hadir sebab tidak semua pengiklan menerapkan etikanya.

Baca juga: Menjadi Apatis tidak Menguntungkan

Jangan jadikan iklan sebagai penyebab kita merasa rendah diri. Kita harus menguatkan diri untuk membeli suatu produk atau jasa berdasarkan kebutuhan bukan sekadar keinginan. Menghitung kalkulasi untung rugi saat mengonsumsi sesuatu bukan sekadar implusif.

Sebagai warga biasa, tetap kritis dan berdiskusi tentang iklan yang hadir bisa kita lakukan. Selebihnya, selama persaingan bebas terjadi dalam perdagangan kita akan tetap menemukan iklan. Semua tergantung pada cara kita memaknainya.

Selain kita yang membangun kesadaran mandiri, para pemangku kepentingan juga dapat lebih serius melindungi konsumen yang rentan seperti anak-anak dan lansia untuk mengatur iklan yang muncul pada mereka. Iklan judi online, iklan paylater dan hal-hal bohong serta konsumtif lainnya harus bisa ditekan bahkan dihilangkan untuk meminimalisir masyarakat terjerumus. Sebab pemerintah bisa sangat berperan untuk mengatur bagaimana masyarakat mendapatkan informasi yang tidak merugikan.

Kalau memang mau, bukankah hal itu bisa dilakukan?

Baca juga: Hari-hari Bersama Celetukan When ya?

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image