Ijazah Sarjana Perempuan dan Nasib Tini 'Belenggu' Hari Ini
Sastra | 2026-06-01 15:39:10
Bagi yang akrab dengan sastra Indonesia, sosok Sumartini (Tini) dalam novel Belenggu karya Armijn Pane adalah potret perempuan yang serba salah. Di luar rumah, Tini itu perempuan modern, pintar, dan aktif di berbagai organisasi. Namun begitu masuk ke rumah, dia langsung menjadi perempuan mati kutu.
Suaminya, dokter Sukartono (Tono), menuntut Tini jadi istri tradisional yang penurut yang siap melepas sepatu suami. Karena Tini memilih tetap aktif di luar, dia dicap egois dan mengabaikan urusan rumah tangga. Akhirnya, kecerdasannya membeku di balik tembok rumah. Jeritan batin Tini tahun 1938 ini ternyata masih berhubungan sampai sekarang. Kisah Tini adalah cermin nyata bagi para sarjana perempuan hari ini yang sering kali terjebak antara ambisi dan tuntutan ekonomi keluarga.
Dari Bangku Kuliah ke Urusan Rumah Tangga
Hari ini, masih banyak "Tini modern" di sekitar kita. Mereka kuliah tinggi-tinggi, kritis, dan lulus dengan nilai memuaskan. Ijazah sudah di tangan, dan mimpi untuk mandiri secara finansial sudah menggebu-gebu. Namun begitu lulus, kenyataan pasca-kampus ternyata belum ramah perempuan. Sistem sosial kita masih mirip seperti cara memandang Tono. Perempuan yang bekerja tetap dituntut menjadi superwoman wajib mencari uang di luar, tapi juga harus membersihkan urusan dapur dan rumah tanpa cela. Beban ganda inilah yang membuat banyak perempuan kelelahan dan akhirnya terpaksa menyerah pada karier mereka.
Realitas Ekonomi yang Memaksa Mengalah
Kondisi ini semakin rumit karena impitan ekonomi. Saat ini biaya hidup semakin mahal, dan keluarga sebenarnya membutuhkan dua sumber penghasilan. Tapi, Struktur dunia kerja kita sering kali menjegal perempuan. Contoh paling konkret adalah ketika biaya penitipan anak atau pengasuh harian ternyata lebih mahal daripada gaji si ibu di kantor, logika ekonomi keluarga yang pragmatis langsung mengambil alih. Pihak perempuanlah yang biasanya diminta mengundurkan diri demi menghemat pengeluaran.
Pada titik ini, ijazah sarjana yang ditempuh dengan biaya mahal akhirnya dilipat rapat-rapat, lalu berakhir jadi sekadar pajangan di dinding ruang tamu atau dalam lemari. Potensi mereka menyusut menjadi remah-remah, tetap seperti Tini yang ruang geraknya terus dipersempit.
Menolak Menjadi Pajangan
Mengapa masalah ini masih terjadi menembus zaman? Karena masyarakat kita masih sering menyaru antara “kodrat” dan “konstruksi sosial”. Merawat rumah tangga sering dianggap sebagai tugas mutlak perempuan, padahal itu adalah kerja tim, bukan kerja rodi yang hanya satu pihak. Pendidikan tinggi perempuan seharusnya menjadi penggerak ekonomi, bukan hanya pelengkap CV sebelum menikah. Membaca kembali kisah Sumartini di tahun 2026 ini memberikan sebuah pemikiran keras. Selama cara pandang kita masih sekaku tokoh Tono, kita akan terus memproduksi "Tini-Tini baru" perempuan cerdas yang potensinya mati muda karena dipaksa mengalah oleh keadaan.
Bantuan kemandirian perempuan bukan lagi soal keren-kerenan emansipasi, melainkan kebutuhan nyata agar keluarga bisa tetap bertahan di tengah kerasnya hidup zaman sekarang.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
