Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Haifa Aulia Hana Hanifah

Perempuan yang Tidak Pernah Benar-Benar Merdeka

Sastra | 2026-05-30 17:30:46
Novel Belenggu

Novel Belenggu karya Armijn Pane lebih dari sekadar narasi cinta segitiga antara Sukartono, Tini, dan Rohayah. Di balik kompleksitas konflik rumah tangga, karya ini sebenarnya menyampaikan kritik sosial yang tetap relevan hingga saat ini, terutama mengenai kedudukan perempuan dalam masyarakat.

Meskipun ditulis pada era kolonial sekitar tahun 1940-an, Belenggu menyuguhkan karakter perempuan dengan masalah yang sangat kontemporer: keinginan untuk merdeka, diakui, dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Misalnya, karakter Tini digambarkan sebagai wanita terdidik yang ingin terlibat dalam kegiatan di luar rumah dan tidak ingin hanya berfungsi sebagai "istri yang menunggu suaminya pulang". Tindakan Tini sering dianggap terlalu berani oleh orang-orang di sekitarnya. Sebetulnya, apa yang dia perjuangkan hanyalah hak untuk menjadi individu yang memiliki pilihan dalam hidup.
Di sisi lain, masyarakat pada zaman tersebut masih melihat perempuan melalui perspektif tradisional. Seorang istri dianggap baik jika taat, tinggal di rumah, dan melayani suami. Ketika Tini berusaha melampaui batasan ini, ia justru dianggap melawan kodratnya. Dari situ, terlihat bagaimana sistem patriarki berfungsi dengan halus namun kuat, membatasi perempuan melalui norma sosial yang ada.

Karakter Rohayah juga menunjukkan dimensi lain dari penderitaan yang dialami perempuan. Ia menjadi korban dari pernikahan yang tidak didasarkan pada cinta dan akhirnya terperangkap dalam kehidupan yang penuh kesepian. Rohayah berusaha mencari kebahagiaan, tetapi kondisi sosial mempersulitnya untuk benar-benar merdeka. Ia akhirnya hidup dengan luka batin yang berkepanjangan. Melalui sosok Rohayah, Armijn Pane menggambarkan bahwa perempuan sering kali dipaksa menerima keputusan hidup yang bukan pilihan mereka.

Menariknya, pria dalam novel ini pun sebenarnya terjebak. Sukartono sebagai suami merasa kehilangan kenyamanan rumah tangga, tetapi ia juga tidak mampu memahami kebutuhan emosional istrinya. Keretakan dalam hubungan mereka tidak hanya disebabkan oleh kehadiran orang ketiga, tetapi juga akibat kurangnya komunikasi dan saling pengertian. Hal ini menjadikan Belenggu berbeda dari novel percintaan biasa. Konfliknya tidak hanya berkisar pada cinta, melainkan juga pertentangan pandangan tentang peran perempuan dan pria.

Membaca Belenggu di zaman sekarang menyadarkan kita bahwa masalah kesetaraan gender sebenarnya bukanlah isu baru. Sejak lama, perempuan telah berjuang untuk menembus batasan sosial yang mengekang mereka. Sayangnya, hingga hari ini, perempuan yang memiliki kemandirian, aktif, atau berbicara lantang masih sering mendapatkan penilaian negatif di masyarakat.

Belenggu tetap relevan untuk dibaca oleh generasi saat ini. Novel ini mengajarkan bahwa hubungan yang sehat tidak hanya dibangun atas cinta, tetapi juga menghargai kebebasan dan identitas masing-masing. Armijn Pane seolah ingin menegaskan bahwa manusia akan terus hidup dalam "belenggu" selama tetap ada ketidakadilan dalam memandang perempuan.

Pada akhirnya, Novel Belenggu bukan sekadar kisah tentang pernikahan yang gagal, melainkan juga gambaran sosial mengenai bagaimana perempuan berjuang untuk didengarkan di tengah dunia yang lebih banyak memberikan perhatian kepada laki-laki.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image