Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image prayudisti s pandanwangi

Nakba tak Pernah Usai: Palestina, Kegagalan Dunia, dan Urgensi Kepemimpinan Islam

Agama | 2026-05-24 07:31:00

Sudah 78 tahun rakyat Palestina hidup di bawah bayang-bayang penjajahan. Sejak 15 Mei 1948, ketika entitas Yahudi berdiri di atas tanah Palestina dengan dukungan Inggris dan kekuatan Barat, tragedi kemanusiaan yang dikenal sebagai Nakba terus berlangsung hingga hari ini. Nakba bukan sekadar peristiwa sejarah tentang pengusiran rakyat Palestina dari tanah mereka, melainkan siklus kekerasan panjang, perampasan hak, pembantaian, penghancuran rumah, blokade, dan penghilangan masa depan jutaan manusia.

Ironisnya, di tengah penderitaan yang begitu panjang, dunia internasional yang selama ini mengklaim diri sebagai penjaga hak asasi manusia justru gagal menghentikan penjajahan tersebut. Berbagai lembaga internasional, resolusi, hingga pertemuan diplomatik hanya melahirkan pernyataan demi pernyataan tanpa mampu menghentikan agresi Zionis. Palestina terus berdarah, sementara dunia sibuk memperdebatkan istilah, prosedur, dan kepentingan politik.

Peringatan Nakba tahun ini kembali mengingatkan dunia bahwa genosida Palestina belum berakhir. Kantor Berita ANTARA dalam artikel “Peringati Nakba, Liga Arab desak perlindungan global rakyat Palestina” yang terbit pada 15 Mei 2026 menuliskan bahwa Liga Arab mendesak perlindungan internasional bagi rakyat Palestina dan meminta komunitas global memaksa Israel menghentikan pendudukan ilegal atas tanah Palestina, termasuk Yerusalem Timur. Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa peringatan Nakba berlangsung di tengah perang di Jalur Gaza dan eskalasi tindakan Zionis di Tepi Barat.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa apa yang dialami Palestina bukan konflik biasa, melainkan penjajahan yang terus dipelihara. Zionis Israel tidak hanya mempertahankan pendudukan, tetapi juga memperluas pemukiman ilegal, melakukan pengusiran paksa, dan menyerang wilayah sipil secara sistematis. Namun hingga kini, tidak ada kekuatan internasional yang benar-benar mampu menghentikan tindakan tersebut.

Di sisi lain, negara-negara besar dunia juga memperlihatkan standar ganda yang sangat nyata. Mereka berbicara tentang demokrasi dan hak asasi manusia, tetapi diam ketika ribuan warga Palestina terbunuh. Mereka mengutuk perang di berbagai wilayah dunia, namun memberikan dukungan politik, ekonomi, bahkan militer kepada Zionis Israel.

Hal ini tampak dalam berbagai forum internasional. ANTARA dalam berita “BRICS serukan dunia terus dukung kemerdekaan Palestina” yang diterbitkan pada 15 Mei 2026 melaporkan bahwa para menteri luar negeri negara anggota BRICS menyerukan komunitas internasional untuk terus mendukung bangsa Palestina mencapai kemerdekaan dan kedaulatan. Bahkan para menlu BRICS menegaskan bahwa Gaza adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah Palestina yang diduduki.

Masih pada tanggal yang sama, ANTARA juga memberitakan “BRICS serukan gencatan senjata segera dan tanpa syarat di Gaza”. Dalam laporan itu disebutkan bahwa negara-negara BRICS mendesak gencatan senjata permanen dan penarikan penuh pasukan Zionis Israel dari wilayah Palestina.

Namun pertanyaannya, apakah semua seruan itu cukup? Realitasnya, berbagai kecaman internasional selama puluhan tahun tidak pernah benar-benar menghentikan penjajahan Palestina. Dunia internasional hanya bergerak pada level retorika, sementara rakyat Palestina tetap menghadapi bom, kelaparan, dan blokade.

Di sinilah umat Islam perlu melihat persoalan Palestina secara lebih mendasar. Penjajahan Palestina bukan hanya masalah kemanusiaan, tetapi juga potret kegagalan sistem dunia saat ini dalam menghadirkan keadilan. Sistem internasional yang dibangun negara-negara besar ternyata tunduk dan tersandera pada kepentingan politik dan kekuatan modal. Hukum internasional pun kehilangan taring ketika berhadapan dengan negara yang didukung kekuatan besar.

Lebih dari itu, tragedi Palestina juga memperlihatkan bagaimana konsep negara-bangsa (nasionalisme) telah memecah belah umat Islam. Negeri-negeri Muslim yang jumlahnya puluhan dengan sumber daya melimpah ternyata tidak mampu menghentikan agresi Zionis. Sebagian hanya mengeluarkan pernyataan kecaman, sebagian lain sibuk menjaga hubungan diplomatik dan kepentingan ekonomi dengan negara-negara pendukung Israel.

Akibatnya, umat Islam kehilangan kekuatan politik global yang dahulu pernah dimiliki. Padahal dalam sejarah Islam, Palestina adalah wilayah yang dijaga dan dilindungi oleh kepemimpinan Islam selama berabad-abad. Ketika kaum Muslim bersatu di bawah institusi politik Islam, Palestina tidak menjadi wilayah yang mudah dijajah.

Karena itu, perjuangan membebaskan Palestina tidak cukup hanya melalui aksi solidaritas musiman, penggalangan dana, atau kecaman diplomatik. Semua itu penting sebagai bentuk kepedulian, tetapi belum menyentuh akar persoalan. Umat Islam membutuhkan agenda perjuangan yang lebih besar, yakni membangun kembali kepemimpinan Islam dalam bentuk Khilafah yang mampu menyatukan seluruh potensi umat.

Kepemimpinan Islam bukan sekadar simbol politik, tetapi institusi yang akan mengarahkan kekuatan umat untuk melindungi kaum Muslim dan menghentikan penjajahan. Dengan persatuan politik umat, sumber daya negeri-negeri Muslim seperti kekuatan militer dapat dimobilisasi untuk membela Palestina secara nyata, bukan hanya dalam bentuk pidato dan resolusi.

Selain itu, agenda terpenting hari ini adalah membangun kesadaran umat bahwa pembebasan Palestina merupakan bagian dari keimanan. Palestina bukan isu geografis yang jauh dari kehidupan umat Islam, melainkan tanah suci yang kemuliaannya dijaga syariat. Karena itu, penderitaan rakyat Palestina harus menjadi penderitaan seluruh umat Islam.

Kesadaran inilah yang akan melahirkan persatuan dan keberanian untuk menghadapi kekuatan penjajah. Umat Islam harus memahami bahwa pertolongan terhadap Palestina tidak akan datang dari negara-negara adidaya, lembaga internasional, ataupun aliansi global yang selama ini justru menjadi bagian dari sistem penjajahan. Pertolongan itu hanya akan lahir dari persatuan umat Islam di bawah kepemimpinan yang berlandaskan Islam.

Nakba telah berlangsung selama 78 tahun. Setiap tahun dunia memperingatinya, tetapi rakyat Palestina masih terus kehilangan tanah, rumah, dan keluarga mereka. Maka peringatan Nakba seharusnya tidak berhenti pada seremoni dan belasungkawa. Nakba harus menjadi momentum kebangkitan umat Islam untuk menyadari bahwa penjajahan Palestina hanya dapat diakhiri dengan persatuan politik umat dan tegaknya kepemimpinan Islam yang kuat.

Jika tidak, dunia mungkin akan terus menyaksikan Nakba demi Nakba berikutnya, sementara Palestina tetap menjadi luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Suasana Global South Media and Think Tank Forum Chinese-Arab Partnership Conference di markas besar Liga Arab di Kairo, Mesir Selasa (12/6/2026). ANTARA/Xinhua/Chen Junqing/aa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image