Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Endy Setyawan

Ketika Naunet Pergi, Sebagian Rumah Saya Ikut Kosong

Gaya Hidup | 2026-05-20 13:49:16

Pagi itu rumah saya terasa berbeda. Tidak ada langkah kecil di depan pintu kamar, tidak ada dengkuran lembut di sofa, tidak ada rengekan di pagi hari karena minta makan dan minum. Naunet telah pergi. Kucing yang telah sepuluh tahun hidup bersama saya, mati. Tidak ada lagi yang menggangu langkah kaki saya ketika ke dapur, tidak ada lagi yang menciumi wajah saya ketika saya rebahan di ruang tengah. Dan yang paling terasa hilang bukan hanya seekor hewan peliharaan, melainkan ritme kehidupan saya. Namun saat saya menceritakan kehilangan itu pada teman saya, respons yang datang hampir selalu sama: “Kan cuma kucing.”

Kalimat itu bukan sekadar kurang berempati. Ia mencerminkan cara kita masih menempatkan empati secara hierarkis, duka atas manusia dianggap sah, duka atas hewan dianggap berlebihan. Padahal, riset psikologi modern sudah lama membuktikan sebaliknya.

Survei American Psychiatric Association (2023) terhadap 2.200 responden menemukan bahwa 86 persen pemilik hewan peliharaan menyatakan hewan mereka berdampak positif pada kesehatan mental mereka. Penelitian yang dipublikasikan National Institutes of Health juga menunjukkan bahwa interaksi dengan hewan secara konsisten menurunkan kadar kortisol, mengurangi rasa kesepian, dan menstabilkan tekanan darah.

Artinya, hewan peliharaan bukan aksesori emosional. Mereka menjadi bagian dari sistem psikologis manusia modern, khususnya di tengah kehidupan yang semakin individualistis.

Karena itulah, kehilangan seekor kucing setelah satu dekade bukan hal kecil. Selama sepuluh tahun, ia hadir dalam momen paling privat: menemani saat sakit, duduk diam ketika pemiliknya menangis, tidur di dekat kaki saat malam terasa panjang. Mereka tidak bicara, tetapi kehadiran mereka menciptakan rasa ditemani yang nyata.

Dunia psikologi bahkan telah memberi nama pada fenomena ini: pet loss grief, duka mendalam akibat kehilangan hewan peliharaan. Studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah PubMed/NIH (2025) menemukan bahwa kondisi ini dapat memicu prolonged grief disorder dengan intensitas yang sebanding dengan kehilangan manusia, bahkan 21 persen responden menyebut kematian hewan peliharaan sebagai kehilangan paling menyakitkan dalam hidup mereka, melebihi kehilangan sesama manusia. American Veterinary Medical Association (AVMA) pun menegaskan bahwa depresi adalah respons yang umum dan wajar setelah kematian hewan peliharaan yang dicintai.

Yang perlu kita ubah bukan hanya cara kita memelihara hewan, melainkan cara kita merespons orang yang kehilangannya. Jika seseorang menangis karena kucingnya mati, jangan buru-buru berkata, “Itu cuma hewan.” Bagi mereka, hewan itu mungkin adalah satu-satunya yang selalu hadir tanpa syarat.

Empati seharusnya tidak diukur dari spesies apa yang hilang dari hidup kita.

Dan jika Anda pernah merasakan rumah yang mendadak senyap setelah seekor hewan peliharaan pergi, Anda tahu: itu bukan lebay. Itu kehilangan yang nyata. Dan itu bisa saja sakit sekali.

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image