Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image dindaa

Menjelaskan Kondisi Sleep Paralysis dan Cara Mengatasinya

Info Sehat | 2026-05-17 23:07:58

Apakah kalian pernah merasakan keadaan di mana kalian merasa telah bangun dari tidur tetapi tidak mampu menggerakkan anggota badan? Atau bahkan berhalusinasi melihat sesuatu yang menyeramkan berada di atas kalian hingga membuat kalian sulit bergerak? Keadaan tersebut bisa jadi merupakan kondisi yang disebut sleep paralysis. Sleep paralysis adalah sebuah gangguan tidur yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk bergerak saat terbangun dari tidur serta munculnya halusinasi, seperti melihat bayangan atau mendengar suara-suara (Rahayu, et al. 2024). Kondisi ini seringkali membuat orang yang merasakan terbangun dalam kondisi yang kaget, lelah, bahkan panik sampai susah benafas.

Halusinasi yang muncul pada sleep paralysis seringkali dikaitkan dengan makhluk menyeramkan di konteks budaya tertentu, misalnya di Indonesia yang familiar disebut “ketindihan” akibat gangguan makhluk halus (Yuda, et al. 2023). Namun, kondisi ini tidak selalu karena pengaruh mistis, terdapat banyak faktor di baliknya yang dapat diteliti melalui kesehatan. Lalu sebenarnya apa saja yang menjadi penyebab dari sleep paralysis ini? Apakah sleep paralysis ini bisa berbahaya bagi tubuh kita? Sebenarnya kondisi ini seringkali muncul ketika kita sedang stres. Ditambah lagi pengaruh tubuh yang terlalu lelah setelah melakukan suatu kegiatan, gangguan kecemasan, dan kualitas tidur yang kurang baik. Seringnya begadang bahkan tidak tidur juga menjadi penyebab utama sleep paralysis.

Kurangnya tidur membuat tubuh kesulitan mengatur transisi antar fase tidur, sehingga meningkatkan risiko sleep paralysis. Posisi tidur telentang dapat mengganggu pernapasan atau aliran darah, yang pada akhirnya dapat memicu sleep paralysis. Pikiran yang aktif karena stres dan banyak pikiran juga mengganggu proses relaksasi, membuat otak dan tubuh lebih rentan terhadap ketidakselarasan saat transisi tidur. Kondisi medis seperti narkolepsi (gangguan tidur kronis yang menyebabkan kantuk berlebihan di siang hari) dan sleep apnea (henti napas sementara saat tidur) dapat meningkatkan frekuensi sleep paralysis. Lebih luas, perubahan rutinitas harian yang menggeser jam tidur dan penggunaan obat-obat tertentu juga meningkatkan risiko terjadinya sleep paralysis (Halodoc 2026).

Pengalaman mengalami sleep paralysis ini dapat menyebabkan rasa takut dan cemas untuk tidur. Seringkali kondisi ini membuat yang mengalami justru semakin merasa lelah karena tidak bisa menggerakkan badannya dan kesulitan untuk bernafas. Ditambah lagi dengan adanya halusinasi, seperti melihat bayangan-bayangan hitam yang menyeramkan. Halusinasi ini yang menyebabkan banyak masyarakat Indonesia yang percaya bahwa sleep paralysis ini merupakan kondisi di mana badan kita ditindihi atau dinaiki oleh makhluk halus yang jahat dan ingin mengganggu. Namun, dalam sudut pandang kesehatan, sleep paralysis ini hanya sebuah kondisi di mana otak dan badan manusia tidak sinkron (Kemenkes 2022).

Ketika mengalami sleep paralysis, mekanisme otak dan tubuh manusia saat itu sedang tumpang tindih dan tidak berjalan selaras. Manusia akan merasa bahwa dirinya telah bangun dari tidur, tetapi pada kenyataannya, badan tidak mampu untuk bergerak. Hal ini yang membuat manusia terbangun di tengah-tengah siklus Rapid Eye Movement (REM). Siklus REM adalah fase tidur paling dalam, saat semua otot sedang berada dalam kondisi rileks. Jika terbangun sebelum siklus REM selesai, otak belum siap untuk mengirimkan sinyal bangun sehingga tubuh masih dalam kondisi setengah tidur dan setengah sadar. Itulah sebabnya terjadi sleep paralysis dan tubuh ‘lumpuh’ sementara (Kemenkes 2022).

Lantas bagaimana cara menghindari terjadinya sleep paralysis? Bagi yang belum pernah mengalami kondisi ini, akan lebih baik menghindarinya lebih awal. Sleep paralysis dapat dihindari dengan mengatur pola tidur yang baik, mengurangi pikiran yang berlebihan hingga memicu stres, menghindari tidur secara telentang, dan mengenali gejala serta penanganannya (Mutaqin 2026). Menghindari lingkungan atau orang-orang yang toxic juga penting untuk menghindari terjadinya stres yang berakhir kepada sulit tidur sehingga mengalami sleep paralysis. Kesehatan mental harus terus terjaga agar kesehatan fisik juga mengikutinya.

Bagi yang sudah terlalu sering mengalami kejadian sleep paralysis, alangkah baiknya untuk segera mengatur kembali pola tidur dan berdamai dengan seluruh pemikiran yang mengganggu. Jika merasa sulit untuk tidur, cobalah untuk menenangkan diri dan pikiran sambil memikirkan apa yang menjadi penyebab pikiran tidak tenang. Apabila penyebabnya adalah kebiasaan yang salah atau lingkungan yang kurang kondusif untuk tidur maka terapi yang dilakukan adalah merubah kebiasaan dan lingkungannya (Safithry 2014). Namun, jika sulit mencari lingkungan yang baik, cukup hindari lingkungan yang toxic atau tidak mendukung dan berusaha berdamai dengan diri sendiri.

Dengan terjaganya kondisi mental, stabilnya emosi, dan pemikiran yang positif, manusia akan merasa lebih tenang dan aman. Hal ini tidak hanya berpengaruh pada keadaan mental, tetapi juga secara fisik. Tubuh akan lebih terjaga jika jiwa di dalamnya tenang. Otak akan mampu bekerja sesuai kebutuhannya jika pemikiran di dalamnya positif dan tenang. Sehingga, manusia akan mampu tidur lebih teratur dan cukup. Pada akhirnya, sleep paralysis akan hilang atau tidak akan terjadi, dan manusia akan mampu menjalankan kegiatannya dengan baik.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image