Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image fransiscus manurung

Kesehatan Mental Generasi Z di Tengah Tekanan Era Digital

Eduaksi | 2026-01-18 16:48:47

Generasi Z lahir dan tumbuh di tengah derasnya arus teknologi digital. Internet, media sosial, dan gawai bukan lagi sekadar alat, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di satu sisi, kemajuan ini membuka banyak peluang: akses informasi tanpa batas, ruang berekspresi, serta kesempatan membangun jejaring sosial dan karier. Namun di sisi lain, dunia digital juga membawa tekanan psikologis yang tidak kecil bagi kesehatan mental Generasi Z.

Media sosial menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X menyajikan potret kehidupan orang lain yang terlihat sempurna: pencapaian akademik, karier yang gemilang, tubuh ideal, hingga hubungan yang tampak bahagia. Tanpa disadari, Gen Z membandingkan dirinya dengan “versi terbaik” orang lain. Perbandingan ini sering kali menumbuhkan perasaan tidak cukup baik, minder, hingga kecemasan berlebihan.

Fenomena *fear of missing out* (FOMO) juga semakin memperburuk keadaan. Gen Z merasa harus selalu terhubung agar tidak tertinggal tren, informasi, atau pengakuan sosial. Akibatnya, mereka terus-menerus memeriksa notifikasi, menghabiskan waktu berjam-jam di layar, dan sulit benar-benar beristirahat secara mental. Dalam jangka panjang, pola ini dapat memicu stres kronis, gangguan tidur, dan kelelahan emosional.

Tekanan tersebut tidak hanya berasal dari dunia maya. Di dunia nyata, Gen Z juga dihadapkan pada persaingan pendidikan, sulitnya mencari pekerjaan, serta ketidakpastian masa depan. Kombinasi antara tekanan digital dan tuntutan kehidupan nyata membuat banyak anak muda merasa terjebak dan kewalahan. Ironisnya, di tengah kondisi ini, mereka sering kali tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan perasaan.

Masih ada anggapan bahwa membicarakan masalah mental adalah tanda kelemahan. Banyak anak muda yang akhirnya memendam kecemasan, stres, atau rasa putus asa karena takut dicap lemah atau kurang bersyukur. Padahal, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jika gangguan mental dibiarkan, dampaknya bisa merembet ke berbagai aspek kehidupan: prestasi akademik menurun, hubungan sosial terganggu, bahkan muncul risiko menyakiti diri sendiri.

Karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental Generasi Z harus menjadi tanggung jawab bersama. Sekolah dan keluarga perlu memberikan pendidikan tentang literasi kesehatan mental, agar anak muda mampu mengenali dan mengelola emosinya dengan lebih baik. Media sosial juga perlu digunakan secara lebih sehat, bukan sebagai satu-satunya tolok ukur kebahagiaan dan kesuksesan.

Di sisi lain, Gen Z perlu didorong untuk berani mencari bantuan. Berbicara kepada teman, keluarga, atau tenaga profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian dan kepedulian terhadap diri sendiri.

Generasi Z adalah generasi masa depan bangsa. Jika kesehatan mental mereka diabaikan, maka potensi besar yang mereka miliki juga akan terhambat. Sudah saatnya kita berhenti menormalisasi kelelahan mental dan mulai menciptakan lingkungan yang lebih peduli, empatik, dan manusiawi bagi anak-anak muda di era digital.



Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image