Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image prayudisti s pandanwangi

Palestina Didehumanisasi Tanpa Henti, Dunia Muslim akan Terus Diam?

Update | 2026-05-17 06:39:25

Genosida yang dilakukan Zion*s di Palestina kini telah melampaui batas-batas kemanusiaan. Kekejaman itu tidak hanya menimpa mereka yang hidup, tetapi juga mereka yang telah mati. Muslim Palestina dibunuh tanpa ampun, anak-anak dihantam bom, rumah-rumah dihancurkan, bahkan jenazah pun tidak dibiarkan tenang di tanah kelahirannya sendiri. Inilah wajah dehumanisasi paling brutal yang dipertontonkan dunia modern di hadapan masyarakat internasional yang mengaku menjunjung tinggi HAM.

Media Republika pada 17 Mei 2025 memuat kesaksian tentara Israel yang mengaku mendapat instruksi untuk membunuh semua pria di Gaza tanpa memandang usia. Kesaksian ini menunjukkan bahwa pembantaian di Gaza bukanlah “kesalahan perang”, melainkan tindakan sistematis yang memang diarahkan untuk menghabisi rakyat Palestina. Fakta ini semakin menguatkan bahwa apa yang terjadi di Gaza adalah genosida nyata.

Kebiadaban Zions juga tampak dari upaya mereka memperluas pendudukan di Jalur Gaza. Antara pada 17 Mei 2025 memberitakan bahwa Israel tengah menyiapkan penyerbuan berikutnya untuk memperluas wilayah pendudukannya. Ini membuktikan bahwa Zions sama sekali tidak memedulikan kesepakatan gencatan senjata. Mereka terus menyerang Gaza demi ambisi penjajahan yang lebih besar. Dukungan politik, militer, dan keuangan dari Amerika Serikat membuat entitas penjajah itu makin percaya diri melakukan pembantaian massal.

Akibat agresi brutal tersebut, jumlah korban terus meningkat secara mengerikan. Antara pada 19 Mei 2025 melaporkan bahwa korban tewas akibat agresi Israel di Gaza telah mencapai 72.736 orang, sedangkan korban luka mencapai 172.535 orang. Angka ini bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka ada ayah yang kehilangan anak, ibu yang kehilangan keluarga, serta generasi yang hidup dalam trauma berkepanjangan.

Anak-anak Palestina menjadi korban paling memilukan. Metro TV News dalam laporannya memperlihatkan bagaimana serangan Zion*s kembali menghancurkan bangunan dan menyebabkan banyak anak menjadi korban. Sementara itu, Tempo pada 15 Mei 2025 mengutip laporan PBB yang menyebut satu dari lima warga Gaza yang diamputasi adalah anak-anak. Anak-anak yang seharusnya bermain dan belajar kini harus kehilangan tangan atau kaki akibat bom-bom penjajah. Dunia menyaksikan penderitaan itu setiap hari, tetapi respons yang muncul lebih banyak sebatas kecaman tanpa tindakan nyata.

Tidak cukup membunuh warga sipil, Zions juga berusaha membungkam suara kebenaran dengan menargetkan para jurnalis. Antara Bali pada 20 Mei 2025 menyebut Jalur Gaza kini menjadi tempat paling mematikan di dunia bagi jurnalis. Lebih dari 300 jurnalis tewas sejak 7 Oktober 2023. Pembunuhan terhadap jurnalis menunjukkan bahwa Zions takut jika dunia mengetahui kejahatan mereka secara terbuka. Dengan membungkam pers, mereka berharap genosida di Palestina dapat terus berlangsung tanpa tekanan internasional yang berarti.

Ironisnya, dunia internasional justru tampak lumpuh menghadapi kebiadaban ini. Negara-negara besar yang selama ini lantang bicara soal demokrasi dan HAM justru menjadi pendukung utama penjajahan Zions. Amerika Serikat terus memasok bantuan militer dan politik sehingga agresi Israel tidak pernah benar-benar berhenti. Perserikatan Bangsa-Bangsa pun berkali-kali gagal menghentikan pembantaian karena veto negara-negara besar yang melindungi Zions.

Lebih menyedihkan lagi, negeri-negeri muslim yang jumlahnya lebih dari 50 justru tidak mampu menghentikan penderitaan Palestina. Padahal umat Islam memiliki sumber daya besar, wilayah strategis, dan kekuatan militer yang sesungguhnya mampu memberikan tekanan nyata terhadap penjajah Zion*s. Namun nasionalisme telah memecah belah kaum muslim menjadi negara-negara kecil yang sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Ukhuwah Islamiah terkikis sehingga penderitaan Palestina seolah hanya menjadi urusan rakyat Gaza sendiri.

Dalam pandangan Islam, Palestina bukan sekadar isu politik, tetapi bagian dari qadhiyah masiriyah umat Islam. Palestina adalah tanah suci yang wajib dibela. Karena itu, pembebasan Palestina membutuhkan persatuan hakiki umat Islam dalam satu kepemimpinan yang mampu menggerakkan seluruh potensi kaum muslim. Persatuan itu tidak mungkin terwujud hanya dengan diplomasi kosong atau konferensi internasional yang berulang tanpa hasil.

Islam memiliki konsep ukhuwah Islamiah yang nyata dalam institusi Khilafah sebagai pemersatu umat. Dengan persatuan tersebut, kaum muslim dapat mengerahkan kekuatan militer dan politik secara terorganisasi untuk menghentikan penjajahan Zion*s. Khilafah akan melindungi rakyat Palestina, menghentikan genosida, serta mengembalikan tanah Palestina kepada pemiliknya yang sah. Dalam sejarah Islam, Palestina pernah hidup damai di bawah pemerintahan Islam selama berabad-abad tanpa diskriminasi ras maupun agama.

Hari ini, agenda utama umat Islam semestinya bukan sekadar mengutuk atau mengirim bantuan kemanusiaan, tetapi membangun kembali persatuan politik umat agar memiliki kekuatan nyata menghadapi penjajah. Sebab selama Zion*s masih bercokol di tanah Palestina dan dunia Islam tetap tercerai-berai, maka dehumanisasi terhadap muslim Palestina akan terus berlangsung tanpa akhir.

Palestina membutuhkan pembebasan, bukan sekadar belas kasihan dunia.

Tentara Israel dengan kendaraan tempur lapis baja mereka berkumpul di posisi dekat perbatasan dengan Jalur Gaza, di Israel selatan, (2/12/2023).

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image