Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Dhevy Hakim

Kebrutalan Zionis Palestina Makin Mengerikan

Agama | 2026-05-20 09:30:46

Kebrutalan Zionis Palestina Makin Mengerikan Oleh: Dhevy Hakim Kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh entitas Zionis di tanah Palestina, khususnya di Jalur Gaza dan wilayah Tepi Barat, kini telah mencapai tingkatan yang sangat mengerikan, melampaui batas kemanusiaan yang paling dasar sekalipun. Apa yang dilakukan bukan sekadar perang militer biasa, melainkan sebuah proses penghilangan harga diri, penghancuran martabat, dan penindasan hak asasi manusia secara sistematis, yang dikenal sebagai dehumanisasi. Yang paling menyayat hati, kebiadaban ini tidak hanya menimpa mereka yang masih bernyawa, tetapi juga terus dilakukan terhadap mereka yang sudah tiada, yang jasadnya pun tidak dibiarkan tenang beristirahat di bumi kelahirannya sendiri.

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di lapangan, kebrutalan ini sungguh membuat siapa saja yang punya hati nurani pasti akan bergidik ngeri. Kita baru saja dikejutkan dengan kejadian memilukan di wilayah utara Tepi Barat. Para pemukim ekstremis Zionis, dengan diizinkan dan diawasi langsung oleh militer pendudukan, memaksa warga Palestina untuk menggali kembali makam kerabat mereka sendiri, seorang warga bernama Hussein Asasa. Mereka dipaksa memindahkan jenazah tersebut ke tempat lain hanya dengan alasan yang sangat konyol dan penuh kesombongan: kuburan itu dianggap terlalu dekat dengan wilayah pemukiman ilegal yang baru saja dibuka kembali.

Padahal, pemakaman itu sudah dilakukan sesuai prosedur dan dikoordinasikan sebelumnya. Betapa kejamnya, di mana bumi tempat mereka dikubur pun kini tidak lagi dianggap milik mereka. Lebih dari itu, saat jenazah dipindahkan, para pemukim itu justru melempari batu ke arah keluarga yang sedang berduka. Ini adalah bentuk penghinaan paling rendah dan paling kejam terhadap manusia, di mana rasa hormat terhadap orang meninggal sama sekali dihapuskan. Bagi yang masih hidup, nasibnya tidak kalah mengerikan.

Perintah yang diberikan kepada para tentara Zionis sangat jelas dan mengerikan, seperti yang diakui sendiri oleh salah satu tentara mereka dalam sebuah wawancara. Mereka diperintahkan: "Bunuh setiap pria yang kalian temui, berapa pun usianya". Tidak peduli apakah itu anak-anak remaja, orang tua, atau orang dewasa, semuanya menjadi sasaran pembunuhan. Jika melihat datanya, angka kematian dan penderitaan yang ditimbulkan sungguh luar biasa besar. Sejak 7 Oktober 2023 hingga 10 Mei 2026, tercatat sudah ada 72.736 orang warga Palestina yang tewas dan lebih dari 172.535 orang lainnya luka-luka.

Angka ini terus bertambah setiap harinya. Di antara korban-korban itu, banyak sekali adalah anak-anak kecil yang belum sempat menikmati hidup. Banyak dari anak-anak ini yang selamat dari serangan bom, namun harus kehilangan anggota tubuhnya. Data menunjukkan ribuan anak Palestina kini harus menjalani hidup dengan tubuh yang diamputasi karena luka tembak atau reruntuhan bangunan yang runtuh menimpa mereka. Mereka tumbuh di bawah suara ledakan, kehilangan orang tua, kehilangan rumah, dan kini harus hidup dengan cacat fisik seumur hidup.

Tidak cukup hanya membunuh dan melukai, Zionis juga berusaha mati-matian agar dunia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok pengepungan Gaza. Inilah sebabnya mengapa Gaza kini menjadi tempat paling berbahaya di seluruh dunia bagi para jurnalis. Sejak pecahnya agresi ini, lebih dari 300 jurnalis tewas dibunuh secara sengaja oleh pasukan pendudukan. Mereka diburu dan ditembak tepat saat sedang bertugas, mengenakan tanda pengenal pers yang jelas. Tujuannya satu: membungkam kebenaran. Jika jurnalis mati, maka kejahatan pembantaian dan genosida ini tidak akan tersiar ke telinga dunia, dan Zionis bisa berbuat sesuka hati tanpa ada yang mengawasi. Sementara itu, wilayah kekuasaan mereka makin meluas.

Meski ada kesepakatan gencatan senjata, nyatanya pasukan Zionis terus memperlebar wilayah pendudukan di Jalur Gaza dan sekitarnya. Mereka tidak berhenti, malah dikabarkan sedang menyiapkan pasukan dan strategi untuk penyerbuan berikutnya demi merebut lebih banyak lagi tanah Palestina. Mengapa mereka bisa seberani ini? Mengapa mereka bisa sewenang-wenang melanggar hukum internasional, melanggar hak asasi manusia, dan menginjak-injak kesepakatan dunia? Jawabannya sangat gamblang: karena dukungan penuh dari Amerika Serikat dan sekutunya. Dukungan itu tidak cuma sekadar ucapan belas kasihan atau netralitas, melainkan dukungan politik, dukungan militer berupa persenjataan canggih, hingga dukungan keuangan yang besar.

AS menjadi tameng utama di PBB agar Zionis tidak diadili, sekaligus menjadi pemasok senjata yang digunakan untuk membantai kaum Muslimin Palestina. Akar masalah dari semua penderitaan ini sesungguhnya sangat jelas dan sederhana, namun sering kali dikaburkan oleh berbagai analisis yang berputar-putar. Akar masalahnya adalah keberadaan entitas Zionis itu sendiri di tanah Palestina. Keberadaan mereka adalah pendudukan yang haram, curian tanah yang nyata, dan penjajahan atas negeri yang selama berabad-abad menjadi milik umat Islam. Selama entitas haram ini masih ada berdiri tegak di sana, selama itu pula darah akan terus mengalir, air mata akan terus menetes, dan dehumanisasi akan terus dilakukan. Maka, tidak ada jalan damai atau solusi lain selain satu hal: entitas Zionis ini harus dihapuskan, dibubarkan, dan dimusnahkan dari muka bumi ini.

Tanah Palestina harus kembali utuh sepenuhnya ke tangan pemilik aslinya, umat Islam Palestina. Yang sangat disayangkan dan menyakitkan hati adalah sikap para penguasa negeri-negeri Muslim saat ini. Ada lebih dari 50 negara berpenduduk mayoritas Islam di dunia ini, dengan kekayaan alam yang melimpah, jumlah penduduk yang besar, dan kekuatan militer yang tidak sedikit. Namun, saat saudara seiman mereka di Palestina sedang dibantai, tulang belulangnya dihancurkan, jenazahnya digali kembali, dan kehormatannya diinjak-injak, para penguasa ini justru diam saja. Tidak ada satu pun yang berani bergerak. Tidak ada bantuan militer nyata, tidak ada pemutusan hubungan politik, apalagi tidak ada jihad untuk membebaskan tanah suci Al-Quds. Mengapa ini bisa terjadi? Karena mereka telah terbelenggu dan terperangkap dalam paham nasionalisme buatan Barat.

Mereka lebih mementingkan batas-batas negara buatan, kepentingan golongan, dan kekuasaan pribadi dibandingkan rasa persaudaraan sesama Islam. Ukhuwah Islamiah, yang seharusnya menjadi ikatan terkuat antarumat, telah dikikis habis oleh sekat-sekat kebangsaan. Akibatnya, Palestina menjadi sendirian, dikepung musuh, dan dibiarkan berdarah-darah. Padahal, jika kita kembali kepada pandangan dan ajaran Islam yang murni, jalan keluar dari penderitaan panjang ini sudah sangat jelas terlihat. Pembebasan Palestina dan penghapusan entitas Zionis tidak akan berhasil hanya dengan protes jalanan, resolusi PBB, atau bantuan makanan saja. Semua itu hanya menolong sesaat tapi tidak menghentikan pembunuhan. Pembebasan Palestina butuh kekuatan besar, butuh persatuan, dan butuh satu komando.

Kuncinya adalah tegaknya Ukhuwah Islamiah Hakiki. Umat Islam sedunia harus sadar bahwa kita satu tubuh, jika satu anggota sakit maka yang lain ikut merasakan. Persatuan umat ini tidak akan terwujud jika masih terpecah belah dalam banyak negara kecil yang saling bersaing. Persatuan ini hanya akan bisa dibentuk dan dikelola dengan baik jika ada satu institusi besar yang memersatukan seluruh umat Islam di bawah satu payung kepemimpinan, yaitu Khilafah. Khilafah adalah sistem kenegaraan dalam Islam yang akan menyatukan kembali seluruh negeri-negeri Islam dari ujung Maroko hingga Indonesia, dari Turki hingga Afrika Selatan. Di bawah sistem Khilafah, persoalan Palestina akan menjadi agenda utama, menjadi kewajiban negara, dan menjadi prioritas terbesar. Khilafah tidak akan berdiplomasi dengan penjajah, tidak akan membiarkan pendudukan berlangsung, dan tidak akan diam saja melihat pembantaian.

Khilafah akan segera mengerahkan kekuatan militer gabungan dari seluruh dunia Islam, lengkap dengan persenjataan, logistik, dan kekuatan ekonomi, untuk berjihad membebaskan Palestina. Tujuannya adalah menghancurkan entitas Zionis sampai ke akar-akarnya, mengembalikan tanah Palestina kepada pemilik aslinya, serta menjamin kehidupan yang mulia, aman, dan sejahtera bagi seluruh warga Palestina. Di bawah naungan Khilafah, umat Palestina akan mendapatkan perlindungan penuh, di-riayah atau dipelihara segala kebutuhannya, dan tidak akan lagi dijadikan sasaran pembantaian. Oleh karena itu, apa yang terjadi di Gaza, di Tepi Barat, hingga penghinaan terhadap jenazah baru-baru ini, seharusnya menjadi cambuk keras bagi kita semua.

Ini adalah tanda bahwa sistem yang ada sekarang telah gagal total. Nasionalisme telah membuat kita lemah dan terpecah belah. Agama telah dipisahkan dari negara sehingga tidak ada kekuatan yang menegakkan kebenaran. Maka, agenda utama umat Islam hari ini, prioritas paling tinggi yang harus diperjuangkan oleh setiap Muslim di mana pun berada, adalah penegakan kembali Khilafah. Hanya dengan tegaknya Khilafah, kekuatan militer umat Islam akan bergerak bersatu, jihad akan dilaksanakan dengan benar, Palestina akan terbebas dari cengkeraman Zionis, dan entitas pendudukan itu akan lenyap dari peta dunia. Hanya saat itulah, darah para syuhada akan terbalaskan, air mata anak-anak Palestina akan berhenti mengalir, dan jenazah mereka pun akan bisa beristirahat dengan tenang di tanahnya sendiri, tanah yang merdeka, bersih, dan damai di bawah naungan syariat Allah SWT. Wallahu a’lam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image