Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zionis, Makin Mengerikan!
Agama | 2026-05-20 09:28:41Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zionis, Makin Mengerikan! Oleh: Dhevy Hakim Dunia seolah menjadi saksi bisu atas tragedi kemanusiaan paling mengerikan di abad ini yang sedang menimpa rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Apa yang dilakukan oleh entitas Zionis Israel bukan lagi sekadar peperangan biasa atau sengketa wilayah, melainkan tindakan pemusnahan bangsa dan penghancuran martabat manusia yang sangat kejam.
Kejahatan yang dilakukan sudah melampaui batas kemanusiaan, agama, maupun norma kesopanan dunia. Yang paling menyakitkan, kejahatan ini tidak hanya menimpa mereka yang masih bernyawa, tetapi juga menyiksa mereka yang sudah tiada. Inilah puncak dari proses dehumanisasi atau perlakuan tidak manusiawi terhadap umat Islam Palestina yang makin hari makin menjadi-jadi, bengis, dan tidak ada ampun. Bayangkan betapa rendahnya posisi warga Palestina di mata para penjajah.
Bagi rakyat Palestina yang masih hidup, nyawa mereka seolah tidak bernilai apa-apa. Kesaksian-kesaksian dari dalam barisan militer Zionis sendiri mengungkapkan fakta mengerikan bahwa ada perintah tertulis maupun tidak tertulis untuk membunuh setiap pria yang ditemui di Gaza, berapa pun usianya. Mulai dari anak-anak yang baru belajar berjalan, remaja, orang dewasa, hingga kakek-kakek, semuanya menjadi sasaran peluru dan bom. Bahkan wanita dan anak-anak pun tidak luput dari serangan.
Akibatnya, jumlah korban terus menumpuk menggunung. Data per tanggal 10 Mei 2026 mencatat, sejak agresi dimulai pada 7 Oktober 2023, sudah ada 72.736 orang tewas dan 172.535 orang luka-luka. Angka ini belum termasuk ribuan jasad yang masih terpendam di bawah reruntuhan bangunan yang hancur lebur. Banyak dari korban yang selamat dari maut namun harus kehilangan anggota tubuhnya, sehingga jumlah anak-anak Palestina yang harus menjalani hidup dengan kondisi diamputasi tangan atau kaki jumlahnya sangat banyak dan memilukan hati. Namun, yang paling membuat darah mendidih dan hati terasa remuk adalah perlakuan terhadap mereka yang sudah meninggal dunia.
Seolah belum cukup menyiksa saat hidup, jenazah mereka pun tidak dibiarkan tenang. Baru-baru ini, dunia dikejutkan oleh kejadian di wilayah Tepi Barat. Para pemukim ekstremis Zionis memaksa warga Palestina secara paksa untuk menggali kembali kuburan seorang warga bernama Hussein Asasa. Mereka dipaksa mengeluarkan jenazah tersebut dan memindahkannya ke tempat lain hanya dengan alasan sepele: makam itu dianggap terlalu dekat dengan wilayah pemukiman ilegal Israel.
Sementara tentara militer hanya diam saja, berdiri menyaksikan pembiaran atas penghinaan terhadap jenazah sesama manusia ini. Padahal pemakaman itu sudah dikoordinasikan sebelumnya. Di tanah kelahiran sendiri, warga Palestina kehilangan hak bahkan untuk dimakamkan dengan tenang dan aman. Ini adalah bentuk penghinaan paling rendah dan bukti nyata bahwa penjajah menganggap rakyat Palestina, baik hidup maupun mati, hanyalah sampah yang bisa diatur sesuka hati mereka. Kejahatan kemanusiaan ini dilakukan secara terang-terangan, dilindungi oleh hukum kekuasaan, dan terus didukung oleh kekuatan besar dunia, terutama Amerika Serikat. Dukungan politik, militer, hingga keuangan yang deras mengalir dari AS membuat entitas Zionis semakin berani dan sombong.
Mereka sama sekali tidak memedulikan apa yang disebut kesepakatan gencatan senjata, resolusi Dewan Keamanan PBB, maupun seruan dunia internasional. Justru sebaliknya, di saat dunia sedang lengah atau sibuk dengan urusan masing-masing, Zionis terus memperluas wilayah pendudukan mereka. Mereka menguasai tanah demi tanah, mengusir penduduk asli, dan kini bersiap kembali melancarkan serangan baru untuk semakin memperlebar jangkauan kekuasaannya di Jalur Gaza. Tujuannya sangat jelas: melakukan genosida total agar tanah ini bersih dari penduduk aslinya dan sepenuhnya menjadi milik mereka. Agar kejahatan masif ini tidak diketahui oleh dunia, Zionis juga menerapkan strategi membungkam kebenaran. Mereka menjadikan Gaza sebagai tempat paling berbahaya dan mematikan bagi para jurnalis. Sejak Oktober 2023, tercatat lebih dari 300 jurnalis tewas dibunuh secara sengaja saat sedang bertugas menyiarkan fakta di lapangan. Rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, hingga tenda pengungsi dihancurkan rata dengan tanah.
Semua dilakukan agar dunia buta, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan perlahan lupa pada penderitaan rakyat Palestina. Kalau kita analisis lebih dalam, mengapa Zionis berani sekejam itu? Mengapa mereka bisa berkuasa begitu lama dan terus membunuh umat Islam padahal mereka adalah kelompok yang jumlahnya sedikit? Jawabannya ada pada sikap diam dan lemahnya umat Islam sendiri, serta kebijakan para penguasa di negara-negara muslim. Dunia dan kaum muslim sejatinya tidak boleh diam saja melihat pendudukan ini berlarut-larut.
Kita harus sadar sepenuhnya bahwa akar masalah dari segala penderitaan, pertumpahan darah, dan penghinaan ini hanyalah satu: keberadaan entitas Zionis Israel di tanah Palestina yang suci. Selama entitas pendudukan ini masih ada dan diakui, maka penderitaan rakyat Palestina tidak akan pernah berakhir. Oleh karena itu, tuntutan yang paling benar dan mutlak adalah entitas haram ini harus dihapuskan keberadaannya dari muka bumi ini. Namun sayangnya, kita melihat kenyataan pahit hari ini.
Ada lebih dari 50 negara berpenduduk muslim di dunia ini, namun nyaris semuanya diam dan tak berdaya. Tidak ada satu pun dari para penguasa negeri-negeri ini yang tergerak hatinya untuk mengerahkan tentara, mengirimkan pasukan, atau melakukan jihad fisik membebaskan Palestina. Mengapa bisa begitu? Penyebab utamanya adalah mereka semua sudah terbelenggu dan terperangkap dalam pemikiran sekuler dan nasionalisme. Batas-batas negara buatan, kepentingan ekonomi masing-masing, dan urusan politik domestik telah mengikis habis rasa persaudaraan Islam atau ukhuwah islamiah.
Mereka lebih memikirkan hubungan baik dengan AS dan negara Barat daripada memikirkan darah sesama muslim yang terus mengalir di Palestina. Akibatnya, rakyat Palestina berjuang sendirian berhadapan dengan mesin perang Zionis yang didukung adidaya dunia. Maka dari itu, jelaslah bagi kita semua bahwa pembebasan Palestina yang sejati dan tuntas tidak akan bisa dicapai hanya dengan cara-cara diplomatik, protes damai, atau sumbangan bantuan kemanusiaan semata. Cara-cara itu hanya meredakan sakitnya sebentar, tapi tidak mengobati penyakitnya.
Pembebasan Palestina butuh kekuatan besar, yaitu persatuan umat Islam sedunia yang dilandasi ukhuwah islamiah yang hakiki, persaudaraan yang tidak mengenal batas negara dan ras. Dan kita tahu, persatuan umat Islam sedunia semacam itu hanya bisa terwujud jika ada satu institusi besar yang memersatukan seluruh umat di bawah satu naungan kepemimpinan, yaitu Khilafah. Di bawah sistem Khilafah, penguasa tidak akan tunduk pada AS atau Eropa, dan tidak terikat kepentingan asing. Penguasa dalam sistem Islam memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi setiap inci tanah Islam dan setiap jiwa umat Islam, di mana pun mereka berada.
Khilafah nantinya akan menjadi kekuatan dahsyat yang mampu menghentikan pendudukan, menghentikan genosida, dan menghancurkan kekuatan Zionis hingga rata dengan tanah. Khilafah akan mengembalikan tanah Palestina sepenuhnya kepada pemilik aslinya, serta menjamin kemuliaan, kesejahteraan, dan keamanan bagi seluruh rakyat Palestina agar mereka bisa hidup mulia di tanahnya sendiri tanpa rasa takut. Oleh sebab itu, apa yang terjadi di Gaza dan Tepi Barat saat ini, di mana jenazah pun tidak tenang, menjadi bukti nyata bahwa agenda utama atau qadhiyah masiriyah yang paling mendesak bagi seluruh umat Islam hari ini adalah satu: penegakan kembali Khilafah.
Hanya dengan Khilafah, seluruh kekuatan militer, ekonomi, dan politik di dunia Islam akan dikerahkan bersama untuk jihad membebaskan Palestina, menghapuskan entitas Zionis, dan mengembalikan kemuliaan Islam dan umatnya. Tidak ada jalan lain, selain kembali menerapkan sistem Islam secara utuh. Palestina adalah tanah yang suci, dan kemenangannya pasti akan datang bersama tegaknya syariat Allah di muka bumi. Wallahu a’lam.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
