Bahagia di Antara Sawah dan Mobil Mewah
Rubrik | 2026-05-13 19:10:21Penulis: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Jalan desa itu sunyi.
Hamparan sawah membentang hijau.
Angin bergerak pelan.
Burung-burung melintas rendah di atas pematang.
Sebuah mobil mewah melaju perlahan.
Di dalamnya sepasang suami istri menikmati pemandangan.
Kaca mobil terbuka sedikit.
Udara desa masuk membawa aroma lumpur, padi, dan kehidupan.
“Indah sekali hidup mereka,” ujar sang istri pelan. "Mereka menikmati hidup dengan kesedehanaan", lanjutnya.
Matanya tertuju pada dua petani tua di pematang sawah.
Mereka duduk sederhana.
Bersarung lusuh.
Bertopi caping tua.
Di hadapan mereka hanya nasi, ikan asin, sambal, dan teh hangat dalam botol bekas.
Namun tawa mereka terdengar lepas.
Makan mereka lahap.
Tatapan mereka teduh.
Pematang sawah itu seperti kursi paling nyaman di dunia.
Langit seperti atap paling mewah.
Dan angin desa menjadi pendingin alami yang tidak pernah rusak oleh zaman.
Sementara mobil terus berjalan perlahan.
Sang istri di dalam mobil kembali bergumam,
“Betapa bahagianya mereka.”
Namun di saat yang sama, di pematang sawah itu, sang petani tua juga memandang mobil mewah tadi.
Matanya penuh kagum.
“Bahagia sekali mereka,” katanya kepada istrinya.
“Bisa menikmati desa dari mobil sebagus itu.”
Lalu keduanya kembali makan.
Kembali tertawa.
Kembali memandang langit.
Begitulah manusia.
Bahagia sering ditaruh jauh di luar dirinya.
Padahal ia diam-diam tinggal di dalam hati yang mampu menerima hidup.
Manusia sering mengira kebahagiaan tinggal di rumah besar.
Padahal banyak rumah megah yang sunyi dari tawa.
Mengira bahagia ada pada jabatan.
Padahal banyak orang berpangkat tinggi yang sulit tidur.
Mengira kebahagiaan ada pada harta.
Padahal tidak sedikit orang kaya yang hidup dalam kecemasan tanpa akhir.
Sementara di sudut desa, di bawah pohon tua, di pematang sawah yang sederhana, ada orang-orang yang mampu tertawa tulus hanya karena masih diberi pagi.
Jalaluddin Rumi pernah berkata,
“Ketika kau mencari kebahagiaan di luar dirimu, kau akan tersesat. Sebab mata air itu sesungguhnya ada di dalam hatimu sendiri.”
Bahagia ternyata bukan soal memiliki segalanya.
Tetapi kemampuan mensyukuri apa yang ada.
Ilmu psikologi modern pun mulai sampai pada kesimpulan itu.
Berbagai riset tentang subjective well-being menunjukkan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, peningkatan kekayaan tidak otomatis meningkatkan kebahagiaan secara signifikan.
Yang paling menentukan justru kualitas relasi, rasa syukur, makna hidup, dan kedamaian batin.
Karena itu ada orang miskin yang tetap tersenyum.
Dan ada orang kaya yang terus merasa kurang.
Imam Al-Ghazali menulis,
“Hati manusia tidak akan tenang karena banyaknya dunia, tetapi karena dekatnya ia kepada makna.”
Kebahagiaan memang bukan benda.
Ia adalah cara memandang hidup.
Ia tumbuh dari penerimaan.
Dari rasa cukup.
Dari hati yang tidak terus membandingkan diri dengan orang lain.
Sebab perbandingan terkadang menjadi pintu menuju ruang kegelisahan dan penderitaan.
Hari ini kita hidup di zaman yang sibuk memamerkan kebahagiaan.
Media sosial dipenuhi senyum, liburan, makanan mahal, dan pencapaian.
Namun diam-diam banyak jiwa kelelahan.
Banyak hati kehilangan arah.
Banyak manusia tertawa di foto, terlihat sangat bahagia di medsos, tetapi menangis dan penuh derita saat sendiri.
Kebahagian tidak selalu nampak berkilau.
Kadang ia hadir sederhana.
Dalam makan bersama keluarga.
Dalam secangkir kopi sore.
Dalam sawah menghijau.
Dalam tubuh yang sehat.
Dalam hati yang lapang.
Lao Tzu pernah berkata,
“Orang yang tahu bahwa cukup itu cukup, akan selalu merasa cukup.”
Mungkin itulah sebabnya sepasang petani tua itu tetap bisa tertawa.
Dan pasangan di mobil mewah itu tetap merasa ada yang kurang.
Karena bahagia bukan tentang di mana kita berada.
Tetapi bagaimana jiwa kita memaknai kehidupan.
Bahagia sejati bukan ketika hidup menjadi sempurna.
Tetapi ketika hati mampu berdamai dengan ketidaksempurnaan.
Dan mungkin, di dunia yang makin bising ini, kebahagiaan terbesar adalah ketika seseorang masih bisa duduk sederhana, menikmati hidup tanpa iri kepada siapa pun.
__________
Muliadi Saleh : "Menulis Makna, Membangun Peradaban."
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
