Perempuan yang Kehilangan Dunianya dalam Novel Kehilangan Mestika
Sastra | 2026-06-07 18:53:14Dalam perkembangan sastra di Indonesia selalu melakat pada kebudayaan yang membangun masyrakat tertentu. Masyarakat marginal seringkali memegang dua pandangan hidup dalam menentukan tatanan moral yang berlaku. Pertentangan antara budaya dan agama sering kali salah dipahami oleh sebagaina besar masyarakat. Dalam sebuah novel yang ditulis oleh Hamidah yang berjudul Kehilanagn Mestika, tak hanya membahas kisah cinta yang rumit diantara dua insan saja. Terdapat faktor lain yang sering menimbulkan konflik antar tokoh.
Konflik ini sering terjadi pada masyarakat yang hidup di abad 30-an. Tradisi yang berkembang dalam masyarakat dan pendidikan yang didapatkan oleh masyarakat kecil, sering kali terjadinya benturan yang nyata. Tradisi pingitan yang dianggap sebagai bentuk pembukaman, pembelengguan, dan pengikatan perempuan untuk hidup sebagaimana mestinya. Hamidah, sebagai tokoh utama (penulis) mendobrak pikiran yang telah lama terikat ini. Baginya pendidikan akan perempuan dan kehidupan sosial yang baik tak dapat dihilangkan dalam dunia perempuan itu sendiri.
Dorongan demikian diperoleh oleh Hamidah ketika tersadar bahwa banyak perempuan yang tak dapat membaca dan menulis. Hal inilah yang menjadi mimpi Hamidah untuk dapat memperdayakan perempuan di desanya dengan sekolah perempuan dan mengajarkanya dari rumah ke rumah. Tradisi yang mengikat ini menjadi penyebab bagaimana perempuan sulit kali berkembang akan kehiduannya. Perlakuaan diri diposisikan sebagai peran kedua dalam masyrakat inilah yang menyebabkan perempuan tertinggal.
Penghidupan yang layak, pendidikan yang memadai, menjalankan kegiatan sosial yang baik, serta menjadi seorang perempuan hebat yang kelak menjadi seorang ibu, perlu melalui pendidikan. Kehilangan Mestika sebagai sebuah novel yang fenomenaa tidak hanya membahas pergulatan percintaan tokoh saja, melainkan bagaimana novel ini menangkap kejadian dimasa tersebut untuk dapat berbicara bagaimana perempuan yang berdaya dan dunia perempuan yang runtuh oleh tradisi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
