Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Luthfiyah Mumtaziah

Dari Dukuh Paruk hingga Era Digital: Ketika Kepercayaan Mengalahkan Fakta

Sastra | 2026-06-15 12:22:17

Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, kepercayaan terhadap mitos sering diwariskan dari generasi ke generasi dan dianggap sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Fenomena tersebut tergambar dengan jelas pada kisah novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang memperlihatkan bagaimana kepercayaan yang berlebihan terhadap hal-hal gaib dapat memengaruhi cara berpikir suatu masyarakat. Dalam novel tersebut, masyarakat Dukuh Paruk digambarkan sebagai komunitas yang sangat dekat dengan mitos dan kepercayaan tradisional. Mereka meyakini bahwa seorang ronggeng tidak dapat lahir begitu saja, melainkan harus mendapat "indang ronggeng", yaitu semacam kekuatan gaib yang dipercaya merasuki seseorang. Karena dianggap telah menerima indang tersebut, Srintil dipandang sebagai calon ronggeng yang ditakdirkan untuk menghidupkan kembali kejayaan Dukuh Paruk. Kepercayaan ini diterima begitu saja oleh masyarakat tanpa ada usaha untuk melihatnya dari sudut pandang yang lebih rasional.

Kepercayaan terhadap tradisi sebenarnya bukanlah sesuatu yang keliru, sebab tradisi merupakan bagian dari identitas budaya yang perlu dihargai. Namun, dalam kehidupan masyarakat Dukuh Paruk, kepercayaan terhadap hal-hal gaib tampak begitu dominan hingga memengaruhi cara mereka memahami berbagai peristiwa. Segala sesuatu yang terjadi sering kali dikaitkan dengan kekuatan supranatural, seolah-olah tidak ada penjelasan lain yang dapat diterima selain yang berasal dari dunia gaib. Salah satu contoh yang menunjukkan kuatnya pengaruh mitos dalam kehidupan masyarakat Dukuh Paruk terlihat ketika terjadi tragedi keracunan tempe bongkrek. Dalam situasi tersebut, sebagian warga lebih memilih menghubungkan musibah yang terjadi dengan kekuatan gaib. Ahmad Tohari menggambarkannya melalui dialog berikut:

"Tidak bisa! Siapa tahu kejadian ini adalah pageblug. Siapa tahu kejadian ini karena kutuk roh Ki Secamenggala yang telah lama tidak diberi sesaji. Siapa tahu!" (Tohari, 2011, hlm. 30).

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Dukuh Paruk lebih dahulu mencari penjelasan mistis dibandingkan menelusuri penyebab yang sebenarnya. Akibatnya, fakta yang ada di depan mata sering kali terabaikan oleh keyakinan yang telah mengakar kuat. Melalui penggambaran tersebut, Ahmad Tohari ingin menunjukkan bahwa mitos tidak selalu membawa dampak positif. Ketika kepercayaan diterima tanpa mempertanyakan kebenarannya maka kemampuan untuk berpikir kritis menjadi berkurang.

Masyarakat lebih sibuk mencari penjelasan yang bersifat gaib daripada berusaha memahami akar persoalan yang sebenarnya. Sehingga, akibatnya mereka sulit menemukan solusi yang tepat terhadap masalah yang sedang dihadapi. Meskipun demikian, saya tidak memandang bahwa masyarakat Dukuh Paruk sebagai masyarakat yang bodoh, tetapi mereka hanyalah kelompok masyarakat yang hidup dalam keterbatasan akses pendidikan dan pengetahuan. Lingkungan tempat mereka tumbuh membuat mitos lebih mudah dipercaya dibandingkan penjelasan ilmiah. Oleh sebab itu, novel ini tidak hanya mengkritik kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal gaib, tetapi juga memperlihatkan pentingnya pendidikan dalam membentuk cara berpikir yang lebih terbuka.

Menariknya, persoalan yang digambarkan Ahmad Tohari dalam novel ini masih relevan hingga saat ini. Di era digital bentuk mitos mungkin telah berubah, tetapi pola pikirnya masih sering ditemukan. Banyak orang yang lebih percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya, berita bohong, atau berbagai teori tanpa dasar dibandingkan fakta yang didukung data dan bukti. Dalam konteks ini, masyarakat Dukuh Paruk dapat dipandang sebagai cerminan bahwa kepercayaan yang tidak disertai sikap kritis dapat membuat seseorang terjebak dalam kesalahan yang sama.

Pada akhirnya, Ronggeng Dukuh Paruk bukan sekadar kisah tentang kehidupan seorang ronggeng di sebuah desa terpencil, melainkan juga refleksi mengenai hubungan antara kepercayaan, tradisi, dan nalar dalam kehidupan masyarakat. Melalui kisah Dukuh Paruk, pembaca diajak untuk memahami bahwa tradisi dan budaya memang layak dihormati, tetapi kemampuan berpikir kritis tetap diperlukan agar manusia mampu membedakan antara keyakinan dan kenyataan. Dengan demikian, kepercayaan tidak menjadi penghalang bagi kemajuan, melainkan dapat berjalan berdampingan dengan akal sehat dan pengetahuan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image