Dapur Tak Berizin Bukan Sekadar Pelanggaran: Ini Soal Keselamatan yang Diabaikan
Politik | 2026-05-12 13:20:02
Kasus keracunan yang menimpa para santri di Cilegon seharusnya menjadi peringatan keras, bukan sekadar bahanevaluasi biasa. Rencana pemanggilan pengelola SPPG yang tidak berizin memang langkah awal, tetapi itu belummenyentuh akar persoalan. Jika hanya berhenti pada pemanggilan dan teguran, kejadian serupa bisa saja terulang. Masalah ini tidak sesederhana pelanggaran administrasi. Ketika dapur yang tidak memenuhi standar tetap beroperasi, yang dipertaruhkan adalah kesehatan, bahkan keselamatanbanyak orang. Keracunan yang terjadi menunjukkan bahwapengawasan selama ini masih lemah. Artinya, ada celah yang dibiarkan terbuka. Pemerintah daerah seharusnya tidak hanyabergerak setelah ada korban. Pengawasan harus dilakukansejak awal, sebelum dapur-dapur seperti ini beroperasi. Izinbukan sekadar formalitas, tetapi bentuk jaminan bahwa tempattersebut layak dan aman. Jika proses perizinan tidak diawasidengan ketat, maka aturan hanya akan menjadi tulisan tanpaarti.
Peran dinas terkait juga perlu diperkuat. Tidak cukup hanyamendata atau memanggil pengelola setelah kejadian. Harus ada inspeksi rutin, pembinaan yang jelas, serta tindakan tegasbagi yang melanggar. Tanpa itu, pelanggaran akan terusterjadi karena tidak ada efek jera. Di sisi lain, pelaku usahajuga harus memiliki kesadaran. Mencari keuntungan denganmengabaikan standar keamanan bukan hanya merugikanorang lain, tetapi juga berisiko bagi usaha mereka sendiri. Kepercayaan masyarakat bisa hilang dalam sekejap ketikaterjadi kasus seperti ini. Koordinasi antar instansi juga menjadi kunci. Dinas kesehatan, perizinan, dan pemerintahdaerah harus bekerja bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri. Jika pengawasan terpisah-pisah, maka akan selalu ada celahyang bisa dimanfaatkan. Yang tidak kalah penting, harus adalangkah pencegahan jangka panjang. Edukasi tentang standarkebersihan dan keamanan pangan perlu diperluas, terutamabagi pengelola dapur skala kecil. Jangan sampaiketidaktahuan menjadi alasan yang terus berulang.
Kasus ini seharusnya menjadi titik balik. Bukan hanyamenyelesaikan satu masalah, tetapi memperbaiki sistemsecara keseluruhan. Jika pemerintah hanya fokus pada penanganan setelah kejadian, maka kita hanya akanmenunggu kasus berikutnya. Dan pada akhirnya, yang menjadi korban tetap masyarakat yang tidak tahu apa-apa, yang hanya berharap makanan yang mereka konsumsi aman. Itu harapan sederhana, tetapi seharusnya menjadi tanggungjawab besar yang tidak boleh diabaikan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
