May Day Bukan Hari Bermesraan, Tapi Hari Tuntutan
Sejarah | 2026-05-05 15:37:59Oleh: Jeje Zaenudin Mahasiswa Hukum UBP Karawang
Setiap tanggal 1 Mei, jalanan di berbagai kota dipenuhi oleh barisan buruh yang membawa spanduk, poster, dan tuntutan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ada kecenderungan yang mengkhawatirkan: May Day perlahan direduksi menjadi seremoni, panggung simbolik, bahkan ajang “kemesraan” antara buruh dan penguasa. Padahal, secara historis dan ideologis, May Day lahir bukan untuk merayakan harmoni semu, melainkan sebagai hari perlawanan.
May Day berakar dari perjuangan keras kelas pekerja melawan penindasan sistemik. Ia bukan hadiah dari negara, melainkan hasil dari darah, keringat, dan pengorbanan. Karena itu, menjadikan May Day sebagai ajang basa-basi politik justru mengkhianati esensinya. Dalam konteks Indonesia, kita memiliki warisan pemikiran yang tajam dari Bung Karno. Ia berulang kali mengingatkan bahwa perjuangan rakyat tidak boleh kehilangan watak radikalnya. Dalam salah satu pidatonya, ia menyatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Pernyataan ini menjadi refleksi tajam bahwa setelah kemerdekaan, musuh tidak selalu datang dari luar. Ia bisa berwujud kebijakan yang tidak adil, upah murah, atau sistem kerja yang eksploitatif.
Ketika May Day diubah menjadi panggung seremoni yang dihadiri pejabat, tanpa ada nya tuntutan yang disuarakan, maka yang terjadi adalah depolitisasi gerakan buruh. Tuntutan yang seharusnya keras menjadi lunak. Kritik yang seharusnya tajam menjadi tumpul. Dalam situasi seperti ini, buruh berisiko kehilangan daya tawarnya sendiri. Bukan berarti dialog dengan pemerintah tidak penting. Namun, dialog tanpa tekanan hanya akan menjadi formalitas. Sejarah menunjukkan bahwa perubahan nyata selalu lahir dari desakan massa, bukan sekadar negosiasi di ruang tertutup.
May Day seharusnya menjadi momentum untuk mengkonsolidasikan kekuatan, menyuarakan ketidakadilan, dan menegaskan posisi politik kelas pekerja. Kemesraan dengan penguasa sering kali datang dengan harga: meredam kritik, menunda tuntutan, atau bahkan membungkam suara-suara yang lebih radikal.
Di sinilah pentingnya menjaga independensi gerakan buruh. Tanpa independensi, gerakan mudah diserap menjadi bagian dari sistem yang justru ia lawan. May Day bukan festival. Ia adalah pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Selama masih ada ketimpangan, eksploitasi, dan ketidakadilan di tempat kerja, maka May Day harus tetap menjadi hari menuntut, bukan hari bermesraan. Sudah saatnya kita mengembalikan roh May Day ke akarnya sebagai ruang perlawanan, bukan panggung kompromi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
