Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image fuad samsudin

Dakwah Suroboyoan: Egaliter atau Tabrakan dengan Moral Al-Qur'an?

Agama | 2026-05-25 20:17:36
REPUBLIKA.co.id/

Surabaya merupakan sebuah lokus Kebudayaan yang tidak akan habis jika terus digali. Dalam bentang alam geografisnya, kota ini menyimpan kearifan lokal yang jarang ditemukan di tempat lain. Sejak awal keberadaannya, Surabaya telah tumbuh menjadi ruang yang heterogen dan multikultural. Menariknya, kompilasi itu berhasil disatukan oleh satu hal: gaya bahasa yang blak-blakan, spontan, dan bersifat egaliter. Dalam kesekharian, etos berbahasa yang digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Ia melintasi batas kelas, digunakan mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, dari riuh pedagang pasar hingga laku para pendakwah.

Benturan Mimbar Sakral dan Bahasa Jalanan

Namun, kelonggaran kultural ini menyisakan tantangan ketika dibawa ke ranah sakral. Gaya bahasa Suroboyoan yang sering dinilai terlalu kasar dan tidak pantas dipakai dalam institusi pengajaran, terutama dakwah agama. Pertanyaannya kemudian, apakah dakwah dengan gaya bahasa yang demikian sejalan dengan standar etika komunikasi yang ada dalam Al-Qur'an? Untuk mengurainya, kita tidak bisa melepaskan bahasa dari konteks sosiologisnya. Bagi masyarakat Surabaya, bahasa yang lugas—bahkan acapkali menyelipkan kata makian yang mengalami desakralisasi makna menjadi sapaan akrab—adalah wujud dari keruntuhan feodalisme. Tidak ada sekat hierarkis yang kaku. Ketika seorang pendakwah menggunakan artikulasi lokal ini di atas mimbar, seketika itu juga jarak antara "pemberi petuah" dan "penerima petuah" dilebur. Dakwah tidak lagi menjadi ruang instruksi yang elitis, melainkan ruang dialogis yang setara. Sifat komunikasi ini bukan sekedar memberi informasi agar orang lain mengerti, melainkan persuasif demi mengatur hubungan sosial yang setara.

Membaca Ulang Teks secara Kontekstual

Secara tekstual, Islam memang meletakkan pedoman komunikasi yang sangat luhur. Al-Qur'an memperkenalkan terminologi etis seperti qaulan layyina (perkataan yang lemah lembut) atau qaulan karima (perkataan yang mulia). Jika ayat-ayat ini dibaca secara rigid-literalis, maka gaya dakwah yang meledak-ledak dan blak-blakan khas pesisiran akan langsung divonis keluar dari koridor moralitas kitab suci. Namun, Al-Qur'an bukanlah teks yang abai terhadap realitas sosial. Di samping menuntut kelembutan, kitab suci juga mengenalkan prinsip qaulan ma'rufa—yaitu kata yang baik, pantas, dan bersendikan kepatutan. Merujuk pada studi etika komunikasi Islam oleh Subur Wijaya (2015) dalam jurnal Al-Burhan, kata ma'ruf sendiri berjumlah sebanyak 38 kali di dalam Al-Qur'an. Salah satu penempatan terpentingnya adalah diletakkan dalam konteks pembicaraan, ucapan, dan dakwah. Menurut pakar linguistik Al-Ishfahani, istilah ma'ruf meliputi segala bentuk perbuatan atau ujaran yang dinilai baik oleh akal dan syarak.

Etika Bahasa yang Bersifat Lokal

CakNun.com/

Dari dasar pemikiran ini, etika qaul ma'ruf sejatinya melahirkan pemahaman bahwa kebaikan verbal itu bersifat partikular, kondisional, temporer, dan lokal. Kebaikan bahasa tidak bisa diformulasikan secara kaku dalam satu standar tunggal. Mengapa? Karena ia akan selalu berkelindan dengan budaya dan adat istiadat yang berlaku di masing-masing daerah. Boleh jadi, suatu corak kata yang dianggap tidak ma'ruf di satu wilayah (seperti Solo atau Jogja), tetapi justru dinilai sangat ma'ruf (baik, wajar, dan akrab) di wilayah Surabaya. Di sinilah letak dialektika dakwah Suroboyoan. Ahli tafsir Ibnu 'Asyur menegaskan bahwa qaul ma'ruf adalah perkataan baik yang mampu melegakan dan menyenangkan lawan bicaranya. Bagi arek-arek Suroboyo, kebaikan dan kesenangan itu tidak lahir dari eufemisme bahasa yang mendayu-dayu, melainkan pada kejujuran sikap. Sejalan dengan analisis Al-Razi, qaul ma'ruf harus berupa kata yang menancap ke dalam jiwa tanpa membuat audiens merasa dipojokkan atau dianggap bodoh (safih). Bahasa yang terlalu halus, bertingkat-tingkat, dan sempit, dalam psikologi masyarakat Surabaya justru sering menjadi misteri sebagai bentuk buatan yang menjemukan dan sarat kepura-puraan.

Pribumisasi Islam di Akar Rumput

Oleh karena itu, bahasa dakwah yang egaliter di Surabaya tidak serta-merta melanggar standar moral Al-Qur'an. Islam sejak awal bervisi meruntuhkan sekat-sekat kesombongan sosial, sebuah semangat yang selaras dengan watak egaliter Surabaya. Dakwah Suroboyoan adalah bentuk pribumisasi Islam. Nilai-nilai langit ditarik ke bumi melalui jangkar budaya lokal agar pesan-pesan ketuhanan itu menjadi membumi dan renyah dikunyah oleh masyarakat akar rumput. Kendati demikian, otentisitas budaya ini tetap membutuhkan batas etis agar tidak menjadi sekadar tontonan profan. Keberanian berbahasa yang egaliter harus dibedakan dengan agresi verbal yang menghina martabat kemanusiaan. Standar moral Al-Qur'an hadir bukan untuk memberangus karakter blak-blakan orang Surabaya, melainkan menjadi kompas agar keakraban lokal tersebut tidak kehilangan esensinya sebagai pembawa risalah rahmatan lil 'alamin.

Menyampaikan Kebenaran Tanpa Kesombongan

Pada akhirnya, dakwah di Surabaya tidak perlu dipaksakan menjadi demi mengejar formalisme kesan yang asing bagi jiwa. Sebab, Al-Qur'an tidak menghendaki penyeragaman budaya. Gaya Selama bahasa yang egaliter itu lahir dari ketulusan untuk merangkul—bukannya memukul—maka dakwah Suroboyoan telah memenuhi standar moral tertinggi Al-Qur'an. Yakni, menyampaikan kebenaran substantif secara efektif (qaulan balighan) tanpa harus menyisakan keangkuhan dan feodalisme di atas mimbar agama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image