Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Shafira Jannati Nasywa

Antara Cepat Saji dan Gizi Seimbang: Dilema Pangan di Perkotaan

Info Sehat | 2026-04-27 22:29:56

Perkembangan kota yang pesat membawa berbagai kemudahan bagi masyarakat, termasuk dalam hal ketersediaan makanan. Namun di balik banyaknya pilihan pangan di perkotaan, terdapat persoalan serius terkait food environment (lingkungan pangan) dan aksesibilitas pangan yang berdampak langsung pada status gizi masyarakat. Lingkungan pangan di perkotaan saat ini belum sepenuhnya mendukung pola makan sehat, karena lebih banyak makanan cepat saji, ultra-proses food (UPF), dan makanan tinggi gula, garam, dan lemak jika dibandingkan pangan segar dan bergizi seimbang.

Food environment merujuk pada kondisi fisik, ekonomi, sosial, dan budaya yang memengaruhi pilihan makanan, penerimaan, dan pola konsumsi seseorang. Di kota besar, masyarakat dengan mudah menemukan restoran cepat saji, minimarket, dan jajanan instan hampir di setiap sudut jalan. Harga makanan tinggi kalori sering kali lebih murah dan lebih praktis dibandingkan buah, sayur, atau sumber protein segar. Hal ini menciptakan ketimpangan akses, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah yang memilih makanan murah padat energi, namun rendah gizi. Kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses yang berkontribusi terhadap obesitas, diabetes, dan penyakit tidak menular. Fenomena ini juga memperparah terjadinya double burden of malnutrition, yaitu kondisi di mana kekurangan zat gizi mikro terjadi bersamaan dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Masalah ini semakin meningkat di negara berkembang dan wilayah urban akibat perubahan sistem pangan dan pola konsumsi masyarakat

Selain faktor harga, aksesibilitas fisik juga menjadi masalah. Tidak semua wilayah perkotaan memiliki pasar tradisional atau toko bahan segar yang terjangkau. Di beberapa kawasan padat penduduk atau permukiman kumuh, masyarakat lebih mudah menjangkau warung kecil yang menjual makanan instan dibandingkan makanan bergizi. Lingkungan seperti ini sering disebut sebagai food swamp, yaitu wilayah yang dipenuhi makanan tidak sehat. Akibatnya, pilihan pangan masyarakat lebih dipengaruhi oleh ketersediaan di sekitar mereka daripada pengetahuan gizi yang dimiliki.

Kualitas konsumsi masyarakat perkotaan dipengaruhi oleh pola hidup serba cepat. Kesibukan kerja dan mobilitas tinggi membuat banyak orang mengandalkan makanan siap saji atau pesan antar. Padahal, makanan tersebut umumnya termasuk dalam kategori makanan ultra-proses yang tinggi lemak jenuh, gula, dan natrium, namun rendah serat serta zat gizi mikro. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Selain itu, anak-anak dan remaja di lingkungan perkotaan sangat rentan terhadap paparan iklan makanan tidak sehat, di mana sebagian besar produk yang dipromosikan tidak memenuhi standar gizi dan secara signifikan memengaruhi preferensi makan sejak dini.

Persoalan ini tidak cukup hanya dengan edukasi gizi kepada individu, perubahan harus dilakukan pada tingkat lingkungan dan kebijakan. Pemerintah daerah dapat mendorong ketersediaan pasar, urban farming, dan membuat regulasi yang membatasi makanan tinggi gula dan lemak. Selain itu, Pembuatan label gizi yang jelas dan informasi akan konsumsi gizi seimbang perlu diperkuat agar masyarakat mampu membuat pilihan yang lebih sehat dan bergizi.

Lingkungan yang tidak mendukung akan mempersulit individu untuk menerapkan pola makan sehat, meskipun mereka memiliki pengetahuan yang cukup. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan pangan yang sehat dan terjangkau bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat. Dengan memperbaiki aksesibilitas dan kualitas lingkungan pangan, kota dapat menjadi ruang hidup yang tidak hanya modern dan produktif, tetapi juga mendukung kesehatan dan gizi bagi seluruh warganya.

Referensi:

 

  1. Barth-Jaeggi, T., Speich, C., Cassien Havugimana, Bayisenge, F., Kimenju, S., Omondi, W., S. Fuad Pasha, Islam, S., Gabrielle, Sophie, Barjolle, D., Pannatier, M. and Prytherch, H. (2023). Nutrition transition, double burden of malnutrition, and urbanization patterns in secondary cities of Bangladesh, Kenya and Rwanda. BMC Nutrition, 9(1). doi:https://doi.org/10.1186/s40795-023-00782-1.
  2. Guo, I.J., Padmita, A.C., Matsuzaki, M., Gittelsohn, J., Feeley, A., Watson, F., Susanti, E., Esti Widiastuti Mangunadikusumo, Fatcha Nuraliyah and Colozza, D. (2025). The use of social media to promote unhealthy food and beverage consumption among Indonesian children. BMC Nutrition, 11(1). doi:https://doi.org/10.1186/s40795-025-01040-2.
  3. Hutapea, D.M.M. (2025). FAST FOOD GENERATION: THE RELATIONSHIP BETWEEN JUNK FOOD CONSUMPTION DUE TO NON-COMPLIANCE AND THE SURGE IN CHILDHOOD DIABETES CASES IN URBAN AREAS. MSJ : Majority Science Journal, 3(3), pp.187–194. doi:https://doi.org/10.61942/msj.v3i3.426.
  4. Lukwa, A.T. and Okova, D. (2026). The double burden of malnutrition: Rethinking clinical and policy responses in the era of rising obesity in Low and Middle-income countries. Public Health Nutrition, 1(22), pp.1–11. doi:https://doi.org/10.1017/s1368980026101840.
  5. Winichagoon, P. and Margetts, B.M. (2017). The double burden of malnutrition in low- and middle-income countries. [online] PubMed. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK565820/.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image