Ayah Ridho Dunia Akhirat: Ketika Engine Mati di Langit Aceh
Alkisah | 2026-06-05 18:31:52MAKKAH — Di ketinggian 35.000 kaki, di bumi Nusantara, suara paling jernih bukan suara menara kontrol. Tapi suara ayah:
“Hamid, kau anak laki terbesar. Jika ayah meninggal, kau yang tanggung jawab dengan keluargamu. Kau akan sukses. Ayah ridho dunia akhirat.”
Kalimat itu yang dipegang Hamid, 30 tahun, calon pilot Saudi Airlines berdarah Batu Malang, tiap kali roda pesawatnya meninggalkan landasan.
"SMA di Arab, Pulang Demi Mimpi di Halim"
Hamid, putra berdarah Indo-Arab, lahir di Arab. Sampai masa SMA Hamid dihabiskan di Arab. Madrasah, hafalan, azan dari masjid tetangga. Tapi 2012, lulus SMA, dia minta pulang ke Indonesia. Bukan buat liburan. Dia daftar sekolah pilot di Halim Perdanakusuma.
“Bu, Ayah... Hamid ingin bahagiakan kalian dari sekarang. Biar Ibu bangga, biar Ayah senyum,” katanya waktu itu.
Muka blasteran Indo-Arab bikin dia dulu jadi pusat perhatian. Tapi Hamid milih menunduk. Belajar. Karena dia tau, kebanggaan orang tua nggak diukur dari berapa cewek yang naksir. Tapi dari seberapa tinggi doa mereka bisa terbang.
"Detik Paling Panjang: Engine Mati di Atas Awan"
Latihan Halim - Aceh. Naik Cessna 172. Jam terbang masih dikit, nyali masih belajar. Tiba-tiba hening. Engine mati. Balik nggak bisa. Maju ragu-ragu. Di detik itu, nggak ada rumus aerodinamika yang sekuat ingatan. Hamid ingat pesan ayahnya. Ingat 4 kakak perempuan dan satu adiknya laki2 di rumah. Ingat ibunya yang single parent ditinggal ayahnya sejak Hamid umur 10 tahun, yang tiap malam doain anaknya “pulang selamat”.
Dengan tangan gemetar tapi hati dipaksa tenang, dia gliding. Turunin pelan-pelan. Roda nyentuh tanah. Selamat.
Sejak hari itu Hamid paham: jadi pilot bukan soal gagah. Tapi soal pulang. Bawa diri sendiri, bawa penumpang, pulang ke orang yang nunggu.
"Umur 23, Nikah, Bawa 2 Dunia dalam 1 Rumah"
Lulus sekolah pilot, umur 23 tahun Hamid nikah. Istrinya orang Arab, tapi darah Banjar Martapura mengalir juga. Sekarang mereka punya 4 putra. Yang sulung 8 tahun, udah bisa nanya “Ayah kapan pulang?”. Yang bungsu 3 tahun, masih suka lari-lari pas video call.
“Pilot tuh godaannya banyak, Hamid. Hati-hati ya,” kata banyak orang. Hamid cuma jawab pelan: “Insha Allah. Insha Allah.” Hamid anak sholeh, ketaatan pada ibunya dibuktikan beberapa kali ibunya pergi, dia yang menemani. Istrinya nggak pernah cemburu sama kokpit. Cuma tiap Hamid mau terbang, dipeluknya kencang sambil bisik: “Ayah Hamid, kau harus hati-hati.” Itu bukan larangan. Itu jimat.
"Sekarang di Kokpit Saudi Airlines"
Training terakhirnya di Garuda. Kini seragamnya berproses jadi logo Saudi Airlines. Dari Halim ke Jeddah, dari Cessna ke Boeing. Hamid sedang berjuang, perjuangan yang tidak mudah. Hamid ingin membanggakan ayah ibunya. Dalam hati Hamid berucap: “Ya Allah, titip mereka. Seperti Ayah titip aku dulu.”
"Epilog di Ketinggian"
Orang lihat pilot: gajinya besar, keliling dunia, disapa “Captain”. Tapi yang Hamid rasa tiap landing: capek, rindu anak, dan satu kalimat yang nggak pernah basi. “Ayah ridho dunia akhirat.” Dari SMA di Arab, ke Halim, ke langit dunia. Hamid nggak cuma nerbangin pesawat. Dia nerbangin amanah. Karena pilot hebat bukan yang paling cepat mendarat. Tapi yang paling setia pulang ke rumah. Pulang ke ridho ayah, pulang ke pelukan istri, pulang ke doa ibu yang berasal dari Batu Malang Indonesia.
Sukses untuk Hamid, pengusaha Arab berdarah Indonesia yang masih punya cita-cita menjadi pilot di usia 30 tahun. Yang masih punya mimpi besar membahagiakan satu-satunya orang tua yang masih ada. Yang masih ingin menerbangkan jamaah Indonesia ke tanah suci. Keramahan dan kelembutan budi Hamid mungkin karena ada darah Jawa Indonesia yang mengalir dalam raganya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
