Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Azkia Putri Parindra

Indonesia Gawat Gula dan Ancaman Diabetes: Pentingnya Analisis Kadar Gula dalam Pangan

Eduaksi | 2026-06-05 12:16:39

Minuman manis seperti es teh, kopi susu kekinian, minuman boba, serta berbagai camilan kemasan telah menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini. Produk-produk tersebut mudah ditemukan dengan harga yang relatif terjangkau dan tampilan yang menarik, sehingga sangat diminati terutama oleh kalangan remaja dan dewasa muda. Namun, di balik popularitasnya, konsumsi gula yang berlebihan menjadi salah satu faktor risiko yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus penyakit tidak menular, khususnya diabetes melitus.

Saat ini diabetes tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kejadian diabetes mulai banyak ditemukan pada usia produktif akibat perubahan pola hidup, kurangnya aktivitas fisik, dan tingginya konsumsi makanan maupun minuman yang mengandung gula tambahan. Konsumsi gula yang berlebihan dalam jangka panjang dapat menyebabkan resistensi insulin yang menjadi faktor utama perkembangan diabetes tipe 2.

Banyak masyarakat menganggap sumber gula hanya berasal dari gula pasir yang ditambahkan secara langsung ke dalam makanan dan minuman. Padahal, sejumlah produk pangan olahan mengandung gula tersembunyi dalam jumlah yang cukup tinggi. Minuman kemasan, sereal sarapan, saus, yogurt berperisa, roti, hingga makanan instan sering kali mengandung gula tambahan yang tidak disadari oleh konsumen. Keberadaan gula tersembunyi ini menyebabkan total asupan gula harian menjadi lebih tinggi daripada yang diperkirakan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kasus diabetes tidak hanya berkaitan dengan perilaku individu, tetapi juga dengan tingkat literasi pangan masyarakat. Banyak konsumen masih kurang memperhatikan informasi nilai gizi yang tertera pada kemasan produk. Keputusan pembelian sering kali lebih dipengaruhi oleh rasa, tren, iklan, maupun promosi dibandingkan dengan pertimbangan kandungan gizi produk tersebut.

Dalam konteks ini, analisis kadar gula pada bahan pangan memiliki peranan yang sangat penting. Analisis kadar gula merupakan metode pengujian yang digunakan untuk menentukan jumlah gula yang terkandung dalam suatu produk makanan atau minuman secara akurat melalui pengujian laboratorium. Hasil analisis tersebut menjadi dasar bagi produsen untuk mencantumkan informasi nilai gizi yang dapat digunakan konsumen dalam memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan kesehatannya.

Bagi industri pangan, analisis kadar gula tidak hanya berfungsi untuk menjaga konsistensi rasa dan kualitas produk, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keamanan dan kesehatan konsumen. Informasi kandungan gula yang tercantum pada label pangan merupakan hasil dari proses pengujian yang dilakukan sesuai standar analisis pangan dan ketentuan regulasi yang berlaku.

Sayangnya, keberadaan informasi gizi pada kemasan belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat. Istilah seperti "rendah gula", "less sugar", atau "tanpa tambahan gula" sering kali dianggap sebagai indikator bahwa suatu produk pasti sehat. Padahal, produk tersebut masih dapat mengandung gula alami atau jenis pemanis lainnya dalam jumlah yang signifikan. Oleh karena itu, konsumen perlu memahami arti berbagai klaim gizi yang digunakan dalam pemasaran produk pangan.

Tren minuman kekinian menjadi salah satu contoh nyata tingginya konsumsi gula dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa satu porsi minuman modern dapat mengandung gula yang mendekati bahkan melebihi batas konsumsi harian yang direkomendasikan oleh organisasi kesehatan dunia. Jika dikonsumsi secara rutin tanpa kontrol, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas, sindrom metabolik, dan diabetes melitus tipe 2.

Mengatasi masalah ini memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Industri pangan perlu mengembangkan produk yang lebih sehat dengan kandungan gula yang lebih terkendali serta memberikan informasi yang transparan kepada konsumen. Di sisi lain, pemerintah perlu memperkuat edukasi mengenai pentingnya membaca label pangan, memahami kandungan gula, dan membangun pola konsumsi sehat sejak usia dini.

Selain edukasi, pengawasan terhadap kandungan gula pada produk pangan juga perlu terus ditingkatkan. Analisis pangan yang dilakukan secara berkala menjadi salah satu upaya penting untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat sesuai dengan kondisi sebenarnya. Informasi yang akurat akan membantu konsumen mengambil keputusan yang lebih baik dalam memilih makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari.

Meningkatnya prevalensi diabetes di Indonesia menjadi pengingat bahwa konsumsi gula perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Kesadaran masyarakat terhadap kandungan gula dalam pangan harus terus ditingkatkan agar risiko penyakit tidak menular dapat ditekan. Membatasi konsumsi gula bukan berarti menghindari seluruh makanan manis, melainkan mengonsumsi pangan secara lebih bijak dan sesuai kebutuhan tubuh. Dengan memahami kandungan gula pada produk pangan, masyarakat dapat menjaga kesehatan sekaligus mencegah risiko diabetes di masa depan.

Sumber:

BPOM RI. (2022). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2021 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan. Jakarta: BPOM RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2023. Jakarta: Kemenkes RI.

Kliemann, N., Kraemer, M. V. S., Scapin, T., Rodrigues, V. M., Fernandes, A. C., Bernardo, G. L., & Uggioni, P. L. (2018). Serving size and nutrition labelling: Implications for nutrition information and consumer understanding. Public Health Nutrition, 21(12), 2131–2140.

Ludwig, D. S., Ebbeling, C. B., & Gardner, C. D. (2023). The carbohydrate-insulin model revisited: Current evidence and future directions. The American Journal of Clinical Nutrition, 117(4), 771–780.

Malik, V. S., & Hu, F. B. (2022). The role of sugar-sweetened beverages in the global epidemics of obesity and chronic diseases. Nature Reviews Endocrinology, 18(4), 205–218.

Muchtadi, T. R. (2021). Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Bandung: Alfabeta.

Sartika, R. A. D., Nuraini, S., & Rahmawati, N. (2021). Konsumsi minuman berpemanis dan risiko penyakit tidak menular pada remaja Indonesia. Jurnal Gizi dan Pangan, 16(2), 89–98.

Widyastuti, D., & Sari, M. P. (2020). Hubungan pengetahuan label pangan dengan perilaku konsumsi pangan kemasan pada mahasiswa. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 17(1), 12–20.

World Health Organization. (2015). Guideline: Sugars Intake for Adults and Children. Geneva: WHO.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image