Air Mata dan Mata Air di Pedukuhan Kami
Sana Sini | 2026-04-26 09:17:46Semenjak kelas lima SD, saya dan teman-teman seperjuangan, mempunyai kegiatan rutin sepulang sekolah atau ketika hari libur tiba. Bergegas membawa dua jerigen masing-masing berukuran 10 liter dengan naik sepeda pancal ke sumur milik warga.
Mereka, para pemilik sumur, sangat baik hati untuk berbagi. Kata "kekeringan" bukan sekadar berita di TVRI atau lembaran koran masuk desa bagi kami, warga di pedukuhan Pantura yang mengandalkan tadah hujan. Ia adalah rutinitas yang menantang, terutama ketika musim kemarau datang. Sebuah drama kehidupan yang memaksa warga kampung termasuk anak-anak untuk ikut berjibaku antri air di sumur kalau ingin mempunyai persediaan air untuk mandi atau keperluan lainnya.
Pedukuhan kami hanya memiliki empat sumur. Tiga di antaranya adalah sumur gali tanah yang debitnya tidak menentu dengan kedalaman lebih dari lima belas hingga tiga puluh meter. Diameternya sekitar dua meter melingkar dengan tembok semen pengaman setinggi dada. Alat untuk mengambil airnya adalah sebuah timba kecil atau ember plastik yang diikat dengan tali plastik atau tampar. Kecepatan dan kekuatan tangan untuk menaikkan air dari kedalaman sumur. Belum menggunakan roda penggerak. Bila debit kecil, hanya satu orang yang diijinkan mengambilnya sehingga perlu antri satu per satu. Urutan kedatangan ditentukan oleh antrian jerigen plastik yang mengular. Sambil menunggu antrian, warga kadang berbagi cerita. Wk wk wk.
Ketika kedua jerigenku sudah penuh, saya menggeser dan menaikkan ke boncengan sepeda pancal. Kukayuh melewati jalanan desa hingga sampai ke dalam dapur rumah. Kedua jerigenku kutuang ke dalam periuk dari tembikar yang berjejer di pinggiran dapur rumah kami. Ibu saya waktu itu memiliki warung nasi dan kopi, sehingga kebutuhan airnya tentu saja tinggi.
Ketiga sumur itu milik para dermawan: Mbah Kidin, Pak Dhe Sanyoto di halaman penggilingan padi, dan sumur pompa milik Pak Kamituwo atau kepala dusun.
Sumur keempat? Satu lagi adalah sumur milik masjid, yang airnya utamanya digunakan untuk mengisi bak wudhu dan warga juga yang mau antri.
Dengan dua jerigen plastik berukuran 10 liter, saya berkeliling mencari sumur yang antriannya tidak terlalu panjang.
Tak jarang, ada tetangga yang mencuci baju tanpa dibilas, karena airnya sangat terbatas. Waktu itu.
Ada suatu masa, ketika kemarau panjang memuncak, tiga sumur gali itu benar-benar "mati". Hanya cukup untuk keperluan pemiliknya sendiri. Warga nyaris kehabisan air. Beruntung ada kebaikan hati dari warga desa sebelah.
Saya dan teman-teman harus mengayuh sepeda lebih jauh lagi, lebih dari dua kilometer ke desa sebelah yang berbatasan dengan sungai.
Di sumur Pak Janamin Dukuh Kaligung kami antri untuk meminta air. Posisi sumurnya agak masuk gang ke utara, di belakang rumahnya.
Mata air bagi kami saat itu bukanlah sungai yang melimpah, melainkan kebaikan hati para pemilik sumur yang rela air sumurnya diambil warga secara gratis.
Waktu terus berlalu. Ketika saya tumbuh dewasa dan sudah bekerja, saya mengusulkan ayah untuk membuat sumur dengan memanggil tukang sumur. Dengan karunia dan kemurahan Allah SWT, di halaman rumah, di bawah pohon jambu biji atau jambu kristal, akhirnya berdiri sebuah sumur dengan mata air yang cukup deras.
Kini, bertahun-tahun kemudian, setiap kali aku melihat air kran mengalir deras di rumah, aku teringat jerigen 10 liter, antrian panjang di bawah terik matahari, dan air mata perjuangan untuk memperolehnya.
Zaman berganti. Nikmat mengalir tiada henti. Kemudahan sumber air kini wajib disyukuri dan tetap mendukung hemat energi, karena bukan tidak mungkin masih banyak saudara kita yang harus berjibaku mencari air bersih untuk membasahi kerongkongan dan membasuh mukanya.
Sepatutnya kita semua mengingat firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Ar-Rahman (55:13), yang berbunyi Fabiayyi ālā'i Rabbikumā tukażżibān.
Artinya : Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Pertanyaan retoris yang diulang 31 kali ini seyogyanya menyadarkan kita agar selalu bersyukur atas segala nikmat-Nya, dalam semua bentuknya. Ya Rabbul Izzati, golongkan kami kepada hamba-Mu yang bersyukur.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
