Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Puput Ariantika, S.T.

Mahasiswa Gagal Menjaga Martabat, Cermin Rusaknya Dunia Kampus

Politik | 2026-04-26 02:41:32
Oleh. Puput Ariantika, S.T.

Kampus yang seharusnya menjadi benteng moral justru tercoreng oleh ulah mahasiswanya sendiri. Percakapan tak senonoh yang beredar luas menjadi bukti rapuhnya integritas dunia pendidikan tinggi.

Dunia perguruan tinggi kembali menjadi sorotan, setelah beredarnya percakapan tak senonoh dari sejumlah mahasiswa fakultas hukum Universitas Indonesia di media sosial. Percakapan tersebut berisi tentang pelecehan terhadap perempuan, bahkan menyasar kalangan dosen. Peristiwa ini bukan hanya aib individu, tetapi cermin rusaknya dunia kampus, tempat yang seharusnya mencetak intelektual yang berintegritas.

Pihak kampus telah merespon dengan menetapkan sanksi kepada pelaku berupa penonaktifan akademik. Selama masa itu, mereka tidak boleh mengikuti seluruh aktivitas akademik, mulai dari perkuliahan, bimbingan, aktivitas organisasi, hingga larangan hadir di area kampus, kecuali untuk kepentingan penyelidikan. (HukumOnline.com, 16-4-2026)Langkah ini patut diapresiasi sebagai bentuk ketegasan institusi, walaupun belum menyentuh akar masalah.

Sebagian pelaku telah menyampaikan permintaan maaf. Namun, percakapan telah menyebar luas sehingga tidak bisa dianggap selesai. Kasus harus tetap ditangani dan para pelaku juga harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Sebab, nama baik institusi dan kaum intelektual dipertaruhkan.

Hancurnya Martabat Kampus

Kampus adalah institusi yang dipandang sebagai ruang terhormat, tempat lahirnya gagasan besar, dan nilai-nilai luhur. Namun, kasus ini menunjukkan hal yang sebaliknya. Ketika percakapan tak bermoral lahir dari mahasiswa, maka publik mempertanyakan kelayakan kampus sebagai simbol ketinggian intelektual.

Pelecehan verbal yang mencoreng nama institusi dan kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan tinggi. Bahkan, mahasiswa yang seharusnya menjadi contoh malah menunjukkan tingkah laku yang jauh dari nilai-nilai etika. Tentu, ini menjadi alarm keras bahwa ada masalah besar dalam dunia pendidikan Indonesia.

Langkah administratif yang diambil kampus memang penting. Namun, persoalan tak hanya sebatas sanksi, tetapi mempertanyakan mengapa hal ini bisa terjadi di lingkungan terdidik. Kedudukan kampus pun menjadi sorotan karena dinilai gagal mencetak intelektual yang bermartabat.

Akar Masalah Sistemik

Fenomena ini tak dapat dilepaskan dari sistem pendidikan yang diterapkan. Kasus pelecehan di dunia kampus tak semata kesalahan individu. Kasus ini berulang dan terjadi di seluruh kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga guru besar. Bahkan, tak hanya di UI, pelecehan juga tejadi di kampus lain. Artinya, persoalan ini bersifat sistemik.

Dalam sistem pendidikan kapitalisme, keberhasilan acap kali hanya menitikberatkan pada pencapaian akademik, seperti nilai tinggi, prestasi kompetisi, dan reputasi global. Mahasiswa dituntut untuk unggul secara intelektual, tapi tidak dibarengi dengan pembinaan karakter. Alhasil, lahirlah intelektual yang cakap dalam akademik, namun rapuh secara moral.

Parahnya, paradigma materialistik turut memperburuk keadaan. Sebuah keberhasilan diukur dari produktivitas dan pencapaian yang bersifat duniawi. Sementara itu, nilai-nilai spiritual dan etika hanya sebagai pelengkap. Pemahaman inilah mempertegas posisi agama hanya menjadi urusan pribadi, tidak menjadi landasan dalam berpikir dan berbuat. Akibatnya, kekosongan makna hidup dalam diri para intelektual.

Kebebasan tanpa Batas di Media Sosial

Dampak lain dari penerapan sistem kapitalisme terlihat dalam kehidupan digital. Lingkungan sosial dan budaya digital seseorang mengekspresikan kebebasan tanpa batas dan pertimbangan moral. Siapa pun bisa mengakses apa saja di dunia digital.

Tanpa landasan agama yang kuat, seseorang akan mudah terjebak dalam aktivitas yang merendahkan dirinya dan orang lain. Mereka lupa bahwa perbuatan buruk mereka bisa berdampak pada institusi tempat mereka belajar.

Pandangan Islam 

Berbeda dengan paradigma kapitalisme yang telah gagal menanamkan nilai agama. Islam justru menanamkan nilai-nilai yang mampu menjaga kehormatan dan martabat. Kasus pelecehan secara verbal yang dilakukan di grup WhatsApp itu merupakan perbuatan tercela yang bernilai dosa. Sebagaimana firman Allah Swt., “Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata” (QS. Al-Ahzab: 58) Jelas sudah bahwa pelecehan seksual yang dilakukan sejumlah mahasiswa itu termasuk perbuatan keji yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Terlebih lagi, sikap diam terhadap kemaksiatan menunjukkan sikap lemah dari kaum muslimin. Oleh karena itu, dalam Islam setiap individu memiliki kewajiban untuk mencegah kemungkaran sesuai kesanggupannya.

Solusi Mendasar

Masalah yang terjadi adalah masalah sistemik, maka solusi untuk menyelesaikannya tidak boleh parsial. Dunia pendidikan harus melakukan perubahan mendasar, tidak hanya mencetak lulusan yang cakap dalam akademik, tetapi juga bermoral. Di sini nilai-nilai Islam menjadi teladan penting karena ilmu tidak dipisahkan dari adab.

Islam menawarkan konsep pendidikan yang bertujuan mencetak generasi yang menguasai bidang ilmu sekaligus memiliki kepribadian yang beradab. Dalam hal ini, ucapan dan tingkah laku wajib dijaga. Setiap individu wajib memiliki rasa tanggung jawab. Prinsip ini harus menginternalisasi dalam diri kaum muslim di seluruh aspek kehidupan, termasuk media sosial.

Khatimah 

Kasus pelecehan ini menjadi pengingat bahwa krisis moral di dunia kampus tidak bisa diabaikan. Ini adalah persoalan nyata yang merendahkan martabat kaum intelektual. Mahasiswa harus memahami bahwa kecerdasan akademik tidaklah cukup, butuh nilai-nilai akhlak untuk menjadi manusia yang bermartabat.

Sudah saatnya dunia pendidikan meninggal sistem kapitalisme yang telah menghancurkan martabat orang-orang berilmu dengan kembali kepada sistem pendidikan Islam. Sistem pendidikan yang punya tujuan hakiki, yaitu mencetak manusia yang utuh, cerdas, beradab, dan bertanggung jawab. Tanpa perubahan total, kampus hanya akan mencetak generasi yang cerdas tanpa adab. Wallahu a’lam bishawab.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image