Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hanggar Robiawaludin

Pendidikan Bukan Hanya di Ruang Kelas: Sebuah Refleksi

Pendidikan dan Literasi | 2026-04-19 13:09:33
Sumber: https://id.pinterest.com/

Di masa sekarang, kita mendengar kata “Pendidikan” akan terlintas dalam pikiran kita adalah, aktivitas belajar dan mengajar pada sebuah tempat khusus, lembaga, atau sekolah. Mungkin, pendapat ini bisa benar, tapi lebih banyak kelirunya. Banyak dari kita menganggap bahwa pendidikan terbatas pada ruang lingkup sekolah, kampus dll. Pendapat seperti ini sangat tidak tepat, karena pada dasarnya pendidikan tidaklah terbatas pada ruang lingkup sekolah saja. Menurut Buya Hamka, pendidikan itu berarti mengolah dan melatih sebuah rasa. Pendidikan bisa di mana saja, dan kapan saja. Jika kita masih mengganggap pendidikan hanya terbatas pada ruang lingkup sekolah, maka sangat wajar kita melihat banyak anak-anak sekolah yang libur sekolah, ia jadikan sebagai alasan untuk malas-malasan, para pelajar pulang dari sekolahnya ia tawuran, nongkrong-nongkrong, dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat. Padahal tujuan pendidikan, terutama di negeri kita Indonesia, yang tertuang pada Undang-undang dasar, bahwa tujuannya pendidikan adalah menjadikan manusia yang beriman dan berakhlak mulia. Berakhlak mulia, bukan terbatas pada sekolah saja, akan tetapi di mana pun dan kapan pun seseorang harus berakhlak mulia. Islam sendiri meletakan pendidikan yang paling utama, pendidikan dalam islam memiliki tujuan menjadikan manusia yang bertakwa.

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang guru terbaik, senantiasa memberikan pendidikan dan pengajaran kepada para sahabat tidak sebatas di masjid saja, memang masjid saat itu menjadi pusat peradaban, pendidikan dan pengajaran di dapat oleh sahabat dari Nabi di masjid. Akan tetapi, pengajaran Nabi kepada para sahabat bisa di mana pun. Bisa kita ambil contoh, Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma mendapatkan sebuah pelajaran mahal (ihfazhillah yahfazhka) dari Nabi saat beliau di bonceng Nabi saat menaiki unta. Atau ada riwayat saat Nabi dan para sahabat melihat bangkai kambing di jalan, Nabi bertanya kepada para sahabat, “adakah dari kalian yang mau mengambil bangkai ini?” lantas para menolak karena bangkai tentu saja tidak bernilai apa-apa, lalu Nabi memberikan pengajaran bahwa itulah nilai dunia di sisi Allah, lebih rendah dari bangkai kambing.

Pendidikan yang utama adalah, yang menghasilkan muslim yang berkualitas. Dr. Ardiansyah memberikan penjelasan tentang muslim yang berkualitas yang sesuai dengan sabda Nabi yaitu, “Muslim yang kuat lebih dicintai daripada muslim yang lemah dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah janganlah engkau berkata, ‘seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, akan tetapi katakanlah ‘ini telah ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat apa saja yang dia kehendaki. Karena ucapan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan syaitan”.

Menurut Dr. Ardiansyah muslim yang kuat dalam hadits ini, bukan hanya sebatas fisik. Tapi mencakup banyak hal. Kuat akidah, ibadah, akhlak, ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Nabi ingin umatnya menjadi berkualitas, karena kualitas manusia merupakan faktor utama yang menentukan kejayaan peradaban.

Pertanyaannya, bagaimana menjadikan agar diri ini menjadi berkualitas?. Merangkum dari apa yang telah ditulis oleh Dr. Ardiansyah dalam bukunya Catatan Pendidikan. ada beberapa resep yang terkandung dalam hadits ini.

Pertama, menamkan kesungguhan untuk menghasilkan yang bermanfaat. Langkah ini bisa diawali dengan mencari ilmu yang bermanfaat, mengamalkannya, dan menyebarkannya. Kedua, mohon pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala. Istilah lainnya adalah doa. Ketiga, jangan merasa lemah. Pesan ini menguatkan pesan pertama dan kedua. Jangan pernah merasa lemah dan bosan untuk berbuat hal yang bermanfaat, dan memohon pertolongannya. Keempat, jangan berandai-andai. Setelah ikhtiar dan doa, mungkin hal-hal yang terjadi di luar dugaan kita, bahkan jauh dari harapan. Berbaik sangka kepada Allah harus tetap dijaga, dan jangan sampai berubah menjadi buruk sangka.

Sabda Nabi di atas sangat relevan sepanjang masa. Pesan pendidikan yang terkandung di dalamnya sampai anak cucu kita. Sekolah mungkin bisa dibuat sistem zonasi, tapi pendidikan tidak boleh dibatasi, jadi tanamkan nilai kebaikan di rumah, sekolah, pesntren, masjid dan di mana saja.[1]

[1] Muhammad Ardiansyah, Catatan Pendidikan. Hlm 177.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image