Krisis Moral, Tak Ada Lagi Adab terhadap Guru
Pendidikan | 2026-04-22 16:55:31Peristiwa memprihatinkan kembali mencoreng dunia pendidikan. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan sikap tidak pantas terhadap seorang guru, dalam rekaman tersebut para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gestur acungan jari tengah.
Menurut informasi yang dihimpun, kejadian itu terjadi di SMAN 1 Purwakarta. Tentu saja aksi itu menuai banyak kecaman karena mencerminkan sebuah krisis moral yang mengabaikan adab kepada guru.
Kejadian ini memperlihatkan begitu lemahnya wibawa guru dihadapan siswanya. Mereka berani melakukan hal tersebut, apakah karena sanksi sekolah selama ini terlalu lembek atau keadaan guru yang dibuat tidak berdaya pada siswanya karena takut dituntut jika menegurnya?
Hal ini tak sesuai dengan "Profil Pelajar Pancasila", yang sering digaungkan. kasus ini menjadi tamparan keras bahwa program-program tersebut ternyata baru sebatas formalitas administratif di atas kertas.
Seringkali juga tindakan-tindakan seperti ini dilakukan demi konten atau pengakuan di media sosial. Siswa lebih mementingkan "viralitas" dan "keren-kerenan" di mata teman sebaya daripada menjaga martabat guru. Seyogyanya negara disini harus menyaring konten digital yang merusak moral, seperti tayangan yang mencontohkan pembangkangan, pelecehan atau kekerasan.
Dalam Islam, guru diposisikan sebagai sosok mulia yang mendapatkan penghargaan tinggi dan penghidupan yang sangat layak dari negara, wibawa mereka terjaga di mata murid dan masyarakat.
Selain itu sistem pendidikan dalam Islam tidak dipisahkan dari agama. Kurikulum yang ada dibangun berlandaskan akidah Islam agar supaya mencetak generasi yang memiliki Kepribadian Islam (Syakhshiyah Islamiyyah), yaitu pola pikir dan pola sikap yang sesuai syariat.
Negara begitu pun sekolah harus menerapkan sistem sanksi yang memberikan efek jera yang nyata namun tetap adil sesuai syariat. Sanksi berfungsi sebagai Penebus (Jawabir) dosa bagi pelaku dan Pencegah (Zawajir) bagi orang lain agar tidak melakukan hal serupa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
