Habis Gelap Terbitlah Terang versi Kartini
Agama | 2026-04-21 16:41:38Di Jepara pada awal abad ke-20, seorang perempuan muda bernama Raden Ajeng Kartini menulis surat kepada sahabatnya di Belanda. Ia menuangkan kegelisahan sekaligus harapan tentang nasib perempuan Jawa yang kala itu masih terbelenggu oleh tradisi dan keterbatasan. Surat itu kemudian dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang.
Ungkapan itu bukan sekadar semboyan emansipasi, melainkan filosofi perjuangan yang menyatukan dimensi sosial, pendidikan, dan religiusitas. Gelap dimaknai sebagai keterbatasan, diskriminasi, dan kebodohan yang membelenggu perempuan pada zamannya, sementara terang adalah simbol harapan, ilmu pengetahuan, dan iman yang membebaskan. Kartini menekankan bahwa cahaya sejati tidak hanya datang dari ilmu, tetapi juga dari Tuhan, karena ilmu memberi terang bagi akal, sedangkan iman memberi terang bagi hati.
Dalam salah satu suratnya, Kartini menulis: “Tiada sesuatu yang lebih mulia daripada mendekatkan diri kepada Tuhan, dan tiada sesuatu yang lebih indah daripada terang yang datang dari-Nya.” Kutipan ini menegaskan bahwa pendidikan harus berjalan seiring dengan religiusitas, agar kemajuan tidak kehilangan arah dan tetap berlandaskan akhlak mulia. Kartini melihat bahwa ilmu adalah jalan menuju pencerahan intelektual, sementara iman adalah fondasi moral yang menjaga agar cahaya itu tidak padam.
Pesan Kartini ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 257:
“Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung mereka ialah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”
Ayat ini menegaskan bahwa Allah-lah yang membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya, selaras dengan semangat Kartini yang melihat pendidikan dan iman sebagai jalan keluar dari keterbelengguan menuju pencerahan.
Dalam konteks modern, pesan Kartini tetap relevan. Gelap dapat dimaknai sebagai segala bentuk keterbatasan masa kini, mulai dari akses pendidikan yang belum merata, diskriminasi gender, sampai hambatan sosial-ekonomi. Terang adalah simbol perubahan yang lahir dari usaha kolektif, dengan ilmu sebagai cahaya akal dan iman sebagai cahaya hati. Pendidikan tanpa nilai iman bisa kehilangan makna, sementara iman tanpa ilmu bisa terjebak dalam stagnasi. Kartini mengajarkan keseimbangan keduanya, sehingga perjuangan melawan kegelapan sosial harus disertai dengan kekuatan spiritual.
Dengan demikian, “Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan hanya refleksi historis, tetapi juga panduan moral dan spiritual yang meneguhkan karakter bangsa. Pesan Kartini menjadi ajakan untuk menyalakan dua cahaya sekaligus, cahaya pengetahuan dan cahaya religiusitas, agar perempuan dan laki-laki Indonesia dapat bersama-sama melangkah menuju kehidupan yang adil, berilmu, dan beriman.
Semangat Kartini adalah warisan yang harus terus dihidupkan. Generasi muda Indonesia hari ini memiliki kesempatan luas untuk menyalakan terang melalui pendidikan, teknologi, dan kreativitas, sekaligus menjaga nilai-nilai religiusitas sebagai fondasi moral. Dengan ilmu dan iman, kita dapat melanjutkan perjuangan Kartini dengan membebaskan diri dari segala bentuk kegelapan, dan menghadirkan cahaya yang menuntun bangsa menuju masa depan yang lebih adil, berkarakter, dan berdaya saing.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
