Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nisa Syafira Ichwan

Sri Sumarah dan Bawuk: Dua Cara Wanita yang Berbeda Menghadapi Badai Hidup

Sastra | 2026-05-25 19:50:11
Dokumen Pribadi

Sri Sumarah dan Bawuk merupakan Novelet yang tulis oleh Umar Kayam, seorang sastrawan, sosiolog, dan seorang guru di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang lahir di Ngawi Jawa Timur, pada 30 April 1932. Beliau banyak menulis karya Fiksi, antara lain Seribu kunang-kunang di Manhattan , Para Priyayi, Jalan Menikung, dan Sri Sumarah dan bawuk. Dalam cerita Sri Sumarah dan Bawuk Umar Kayam menggambarkan dua sosok wanita yang berbeda dalam menghadapi masalah hidup. Melalui cerita ini kita akan melihat bagaimana kepasrahan Sri Sumarah dan keberanian Bawuk.

Sri Sumarah diceritakan sebagai sosok wanita yang pasrah seperti nama nya “sumarah” yang berarti Menyerah ini terlihat dari kutipan “Sri Sumarah yang artinya Sri yang “menyerah” atau yang terserah”. ( SSDB, hlm. 4). Pada umur delapan belas tahun ia menikah dengan lelaki seorang putra pensiunan mantri candu di kota kabupaten yang sudah tamat sekolah guru bernama Sumarto atau Martokusumo. Setelah mereka menikah Sri diajarkan oleh mbahnya menjadi istri yang sabar, patuh, dan mengerti atas kekurangan suaminya seperti kutipan “"Bukannya kebetulan nDuk, namamu Sri Sumarah. Dari nama itu, kau diharap berlaku dan bersikap sumarah, pasrah, menyerah. Lho, itu tidak berarti lantas kau diam saja nDuk. Menyerah di sini berarti mengerti dan terbuka tetapi tidak menolak. Mengerti, nDuk?”. ( SSDB, hlm 7).

Pasangan suami istri ini pun akhirnya memiliki keturunan seorang anak perempuan yang bernama Tun, tetapi suaminya meninggal saat umur Tun berusia dua belas tahun. Sekarang Sri membesarkan anaknya sendiri, Tun menjadi anak yang cerdas dan pintar dan sikap perempuan jaman dulu dan jaman sekarang berbeda itu yang terjadi pada Tum. Salah satunya saat ibunya menyinggung soal lelaki dan perkawinan respon Tum selalu menolak dan menganggap hal sepele, Sri menyimpulkan mungkin anak jaman sekarang tidak ingin segera menikah karena mereka puas bersekolah. Namun hal itu salah, Tum ternyata hamil dilihat dari kutipan “Bu, jangan marah, ya?” “(Bu, Tum bukan perawan lagi)’’ (SSDB, hlm 25). Ibunya mendengar ini syok atas perbuatan anaknya, ia hanya bisa pasrah karena hidup harus terus berjalan.

Tum akhirnya menikah dengan ayah dari anaknya itu yang bernama Yos. Namun ujian Sri tidak berakhir di situ, setelah pernikahan badai nasib menghantamnya lebih keras. Yos dan Tun harus menghadapi masalah besar yang membuat mereka ditahan di penjara dan terpisah dari keluarga. Disinilah kekuatan Sri Sumarah terlihat dari cara dia menghadapi hidup. Ia tidak memilih meratapi nasib atau menyalahkan keadaan, tetapi menerima kenyataan dengan tabah tanpa menyerah. Demi bertahan hidup dan membesarkan cucunya, ia bekerja menjadi tukang pijat dilihat dari kutipan “dan bahkan pada waktu Giman, pesuruh hotel, datang memberitahukannya ada tamu yang minta segera dipijat malam itu, Sri masih juga mendesah: malam seperti malam yang biasanya. Di depan kaca di kamarnya, waktu dia berganti baju dengan kain lurik coklat tua, kebaya lurik coklat muda, setagen pelangi hijau muda, dan selendang batik cap rujak sente latar putih, sambil tersenyum capek, dia meneruskan, gumamnya: hah, baju pijit seperti biasanya, kalau tidak lurik coklat, ya lurik biru, coklat-biru-coklat-biru, lurik, lurik, lurik.”( SSDB, hlm 59). Bagi Sri, pasrah bukan berarti menyerah tetapi cara untuk tetap kuat menghadapi kerasnya kehidupan.

Jika Sri Sumarah menghadapi masalah dalam hidup dengan cara pasrah, maka sosok Bawuk mengambil jalan yang sama sekali berbeda. Bawuk merupakan sosok wanita yang paling berisik, asyik, cerdas, patuh. dia juga sosok wanita yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dengan cara meyakinkan ibu dan ayahnya kalau apa yang dia lakukan tidak akan terjadi apa-apa seperti kutipan “Tetapi tiap kali ayah-ibunya berusaha menegur Bawuk tentang hal ini, selalu saja-dengan cara yang khas Bawuk-Bawuk berhasil meyakinkan orang tuanya bahwa apa yang dikerjakannya itu tidak apa-apa.” ( SSDB, hlm 91).

Bawuk menikah dengan lelaki yang bernama Hassan ia merupakan seorang aktivis dan hubungan hassan dengan keluarga Bawuk tidak baik karena menurut iparnya ia memiliki sifat keras dan angkuh. Karena ia seorang aktivis komunis yang dapat mempengaruhi pemikiran Bawuk, mereka pun pergi dan menghilang entah kemana dan mereka tidak memberikan kabar kepada siapapun. Itulah yang membuat keluarga Bawuk khawatir dengan keadaan Bawuk. Kejadian yang tidak diinginkan terjadi suami dari Bawuk tidak tahu pergi kemana karena ia sedang diincar sebagai seorang aktivis, tetapi Bawuk dan anak-anaknya tidak, mereka pun pergi yang jauh entah kemana agar tidak tertangkap. ia berpisah dengan suaminya yang entah kemana. Bawuk pun mencari informasi dimana suaminya berada ketika sudah mengetahui dimana suaminya, ia pun tidak tega mengajak anak-anaknya ikut menyusul ayahnya karena terlalu berbahaya. Ia pun berinisiatif memberikan anak-anaknya ke rumah ibunya supaya aman.

Sesampainya disana betapa senang ibu Bawuk karena setelah sekian lama melihat anak dan cucunya ke rumah terlihat dalam kutipan “ Wuuuuk, nggeeeer, teriak Nyonya Suryo” (SSDB, hlm 103). Saat di dalam rumah terjadilah sedikit pertengkaran karena Bawuk ingin menitipkan anak-anaknya di rumah ibunya karena ia ingin mencari suaminya seorang aktivis komunis itu, keluarga Bawuk tidak ingin ia mencari suaminya karena itu terlalu berbahaya. Semakin ditentang untuk jangan mencari suaminya Bawuk tetap kekeh untuk mencari suaminya walaupun berbahaya, karena baginya dia ingin tetap disamping suaminya dalam keadaan apapun.

Melalui perbedaan sikap antara Sri dan Bawuk, cerita ini sebenarnya tidak menunjukan siapa yang paling benar atau salah. Keduanya sama-sama perempuan yang berusaha bertahan di tengah kehidupan yang sulit. Sri memilih jalan yang lebih tenang dan menyesuaikan diri dengan keadaan, sedangkan Bawuk memilih jalan yang lebih berani dan melawan. Walaupun caranya berbeda, keduanya tetap berusaha menentukan hidupnya sendiri. Dari sini kita bisa melihat strategi bertahan hidup bukan soal cara mana yang paling aman atau paling baik, tetapi tentang keberanian seseorang untuk memilih jalan hidupnya dan bertanggung jawab atas pilihan nya itu.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image