Karakter Tokoh Hanafi dalam Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis
Sastra | 2026-05-22 19:55:11
Novel Salah Asuhan merupakan salah satu karya penting dalam sastra Indonesia yang mengangkat tema identitas, pendidikan, budaya, serta pengaruh kolonialisme terhadap kehidupan masyarakat pribumi. Tokoh utamanya, Hanafi, digambarkan sebagai seorang pemuda Minangkabau yang mengalami pergolakan batin akibat benturan antara nilai-nilai Timur dan Barat. Melalui tokoh tersebut, pengarang menyampaikan kritik sosial terhadap kaum terdidik yang mulai menjauh dari identitas budaya sendiri karena pengaruh kolonial. Hal tersebut tercermin dalam beberapa karakter Hanafi berikut.
1. Durhaka
"Oh, Ibu, jika Ibu hendak menyesal, janganlah aku Ibu sesali, baiklah Ibu menyesali diri sendiri. Siapakah yang memberikan istri serupa itu kepadaku?" (Moeis, 2008: 89)
Kutipan tersebut menunjukkan sikap durhaka Hanafi terhadap ibunya. Hal ini tampak dari ucapannya yang tidak menunjukkan rasa hormat, melainkan terus menyalahkan sang ibu karena memberikan istri yang tidak ia inginkan. Sikap ini memperlihatkan bahwa Hanafi gagal menghargai pengorbanan dan niat baik ibunya. Kedurhakaan tersebut lahir dari ketidakmampuannya menerima kenyataan dan kecenderungannya menyalahkan pihak lain ketika kehidupannya tidak sesuai harapan.
2. Pemarah
"Sudah beberapa kali kau menjelaskan benar-benar, bahwa engkau orang Barat, aku hanya orang kulit berwarna saja. Kalau pergaulan kita demikian rintangannya, sebab aku hanya Bumiputra, alangkah baiknya kalau engkau berkata dan berlaku secara terus terang saja, Corrie!" (Moeis, 2008: 5)
Kutipan ini memperlihatkan karakter Hanafi yang pemarah dan mudah tersinggung. Reaksi emosionalnya muncul karena ia merasa tidak diterima secara setara oleh Corrie hal ini terlihat dari cara berbicaranya yang emosional dan penuh luapan perasaan. Nada ucapannya menunjukkan kemarahan sekaligus kekecewaan yang diarahkan kepada Corrie dan orang-orang Barat yang tidak menerimanya.
3. Kasar
"Sampai kering kerongkonganku memanggil si Buyung, seorang pun tidak menyahut!" kata Hanafi sambil membelalakkan matanya kepada istrinya. (hlm. 83)
Kutipan tersebut menggambarkan sifat kasar Hanafi yang tampak dari cara berbicara yang keras, ekspresi marah dan sikap menyalahkan orang lain menggambarkan bahwa Hanafi kurang mampu mengendalikan emosinya.
4. Keras Kepala
"Memang... kasihan! Ah, Ibuku... aku pengecut tapi hidupku kosong... habis cita-cita baik... enyah!" (Moeis, 2008: 268)
Kutipan di atas menunjukkan sifat keras kepala Hanafi. Meskipun ia menyadari kelemahan dan kehampaan dalam hidupnya, ia tetap menolak masukan maupun dukungan dari orang lain, termasuk ibunya. Sikap ini memperlihatkan ketidakmauannya untuk membuka diri terhadap nasihat. Hal tersebut menunjukkan karakter keras kepala Hanafi.
5. Angkuh
"Oh, penting sekali. Benar, jika mereka hendak makan enak, tidak ada keberatan bagiku, bila mereka setiap hari datang kemari. Hanya selagi saya di kantor saja, Bu, sebab saya memang tidak dapat bergaul dengan orang-orang serupa itu. Saya di mudik, ia di hilir." (Moeis, 2008: 26)
Kutipan tersebut menggambarkan sifat angkuh Hanafi melalui sikapnya yang memandang rendah orang lain dan merasa dirinya berada pada posisi yang lebih tinggi. Ia secara jelas menunjukkan keengganan untuk berinteraksi dengan orang yang dianggap tidak setara dengannya. Sikap ini muncul karena pengaruh pendidikan dan budaya Barat yang membuatnya merasa lebih modern dan lebih maju daripada lingkungan asalnya.
6. Sombong
"Pakaian cara Belanda, pergaulannya dengan Belanda saja. Jika ia berbahasa Melayu, meskipun dengan ibunya sendiri, maka dipergunakannya bahasa Riau, dan kepada orang yang dibawahnya ia berbahasa cara orang Betawi. Begitupun juga sebagai dipatah-patahkannya lidahnya dalam berbahasa sendiri." (Moeis, 2008: 25)
Kutipan ini menunjukkan sifat sombong Hanafi yang berusaha meninggalkan identitas pribuminya demi terlihat seperti orang Belanda. Ia tidak hanya meniru cara berpakaian dan berbahasa, tetapi juga membangun jarak dengan budaya asalnya. Kesombongan ini menjadi simbol bagaimana kolonialisme memengaruhi cara pandang seseorang terhadap dirinya sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
