Krisis Jati Diri dalam Salah Asuhan: Identitas Tergerus Mental Inlander
Sastra | 2026-05-22 09:26:09
Tokoh utama dalam novel ini adalah Hanafi, digambarkan sebagai seorang pribumi yang mendapatkan pendidikan Barat. Pendidikan tersebut membuka wawasannya, tetapi sekaligus mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Hanafi mulai mengagungkan budaya Barat dan memandang rendah budaya sendiri. Ia merasa lebih modern, lebih maju, dan bahkan lebih “tinggi” ketika meniru gaya hidup Eropa.
Sikap ini tampak jelas dari cara Hanafi memandang ibunya sendiri. Ia berkata, “Ibu orang kampung dan perasaan Ibu kampung semua,” sebuah kalimat yang mencerminkan bagaimana ia telah kehilangan rasa hormat terhadap akar budayanya. Dalam pandangannya, segala sesuatu yang berasal dari kampung dianggap rendah dan tidak layak diikuti. Di sinilah mental inlander mulai terlihat nyata sebagai sebuah sikap yang merendahkan diri sendiri dan meninggikan budaya asing secara berlebihan.
Lebih jauh lagi, perubahan Hanafi tidak hanya terlihat dalam ucapan, tetapi juga dalam gaya hidupnya. “Makin lama makin bimbanglah hatinya melihat anak yang kebelanda-belandaan itu. Pakaiannya cara Belanda, pergaulannya dengan orang Belanda saja.” Kutipan ini menunjukkan bagaimana ia semakin jauh dari identitasnya. Ia tidak lagi sekadar belajar dari Barat, tetapi berusaha menjadi Barat itu sendiri.
Mental inlander dalam diri Hanafi bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Ia terbentuk oleh sistem kolonial yang menempatkan bangsa pribumi sebagai golongan yang lebih rendah. Dalam kondisi seperti itu, tidak sedikit orang yang kemudian menginternalisasi pandangan tersebut dan mulai meragukan nilai dirinya sendiri. Hanafi adalah salah satu representasi dari kondisi tersebut.Namun, Islam mengajarkan keseimbangan dalam menyikapi perubahan. Umat Islam diperintahkan untuk menuntut ilmu, bahkan hingga ke negeri yang jauh. Akan tetapi, dalam proses tersebut, identitas dan nilai tidak boleh hilang. Mengambil kebaikan dari luar adalah hal yang dianjurkan, tetapi meniru tanpa batas hingga merendahkan diri sendiri adalah sesuatu yang harus dihindari.
Dalam diri Hanafi, kita melihat bagaimana hilangnya keseimbangan itu membawa dampak besar. Ia tidak lagi memiliki pijakan yang kuat dalam menentukan sikap. Keputusan-keputusan yang diambilnya sering kali tidak didasarkan pada nilai yang kokoh, melainkan pada keinginan untuk terlihat “lebih Barat”. Akibatnya, ia terjebak dalam krisis identitas yang semakin dalam.Kondisi ini juga berdampak pada hubungan sosialnya. Ia tidak sepenuhnya diterima oleh lingkungan Barat, tetapi juga semakin jauh dari lingkungan pribumi. Ia berada di tengah-tengah, tanpa tempat yang benar-benar menjadi rumah baginya. Hal ini menunjukkan bahwa kehilangan jati diri tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada relasi dengan orang lain.
Dalam perspektif Islam, kehilangan jati diri seperti ini dapat menjauhkan seseorang dari nilai-nilai kebaikan. Padahal, Islam mengajarkan untuk menjaga kehormatan diri (izzah), menghargai asal-usul, dan tetap rendah hati. Seseorang tidak diukur dari seberapa jauh ia meniru budaya lain, tetapi dari akhlak dan ketakwaannya.Puncak dari perjalanan Hanafi menunjukkan betapa berat konsekuensi dari mental inlander yang tidak terkendali. Pada akhirnya, ia menyadari kesalahan yang telah dilakukannya. Dalam kondisi penuh penyesalan, ia berkata, “Ibu... ampuni akan dosa ... ku... Syafei pelihara... baik-baik.
Jangan diturutnya... jejakku ....” Kalimat ini menjadi penutup yang menyentuh sekaligus menjadi pengakuan bahwa jalan yang ia tempuh selama ini adalah jalan yang keliru.Penyesalan Hanafi menunjukkan bahwa kehilangan jati diri bukanlah hal sepele. Ia dapat membawa seseorang pada kehancuran, baik secara pribadi maupun sosial. Dalam konteks ini, Salah Asuhan memberikan pelajaran bahwa penting untuk tetap berpegang pada nilai dan identitas, sekalipun berada dalam arus perubahan yang kuat.
Bagi generasi muda saat ini, kisah ini tetap relevan. Di tengah globalisasi, pengaruh budaya luar sangat mudah masuk dan memengaruhi cara pandang kita. Tanpa kesadaran yang kuat, kita bisa saja terjebak dalam mentalitas yang sama sehingga merasa rendah terhadap diri sendiri dan terlalu mengagungkan yang berasal dari luar.
Oleh karena itu, penting untuk menanamkan sikap selektif dan bijak. Mengambil hal baik dari luar adalah langkah maju, tetapi menjaga jati diri adalah fondasi utama. Seperti yang diajarkan dalam Islam, keseimbangan adalah kunci. Kita bisa menjadi bagian dari dunia yang modern tanpa harus kehilangan siapa diri kita sebenarnya.
Pada akhirnya, Salah Asuhan bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa jati diri adalah sesuatu yang harus dijaga. Melalui kisah Hanafi, kita belajar bahwa menjadi diri sendiri, dengan nilai dan keyakinan yang kuat, adalah jalan terbaik untuk menjalani kehidupan yang bermakna.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
