Masih Harus Takut Bicara? Realita Keamanan Perempuan Hari Ini
Info Terkini | 2026-04-18 05:10:43
Viral lagi. Ramai lagi. Lalu perlahan dilupakan lagi.
Kasus pelecehan verbal yang belakangan mencuat seharusnya tidak lagi mengejutkan. Bukan karena hal ini wajar, tetapi karena ia terus berulang tanpa benar-benar diselesaikan. Yang lebih mengkhawatirkan, kejadian seperti ini masih sering dianggap angin lalu. Seolah kata-kata yang merendahkan perempuan tidak pernah cukup serius untuk disebut sebagai masalah.
Di titik ini, kita perlu jujur. Perempuan hari ini masih belum sepenuhnya aman, bahkan untuk sekadar berbicara.
Pelecehan verbal sering dibungkus dengan dalih bercanda. Kalimat seperti “cuma iseng” atau “jangan terlalu sensitif” menjadi tameng yang membuat pelaku merasa benar. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan microaggression, bentuk serangan kecil yang terjadi berulang kali. Sekilas tampak ringan, tetapi dalam jangka panjang mampu merusak rasa aman dan harga diri. Dampaknya tidak selalu terlihat, tetapi terasa dalam bentuk cemas, ragu, hingga memilih diam.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam. Kita tidak hanya berbicara tentang individu, tetapi tentang budaya yang membiarkan hal ini terus terjadi.
Pemikiran Michel Foucault membantu menjelaskan hal ini. Kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk aturan atau kekerasan fisik, tetapi juga hidup dalam bahasa dan kebiasaan sehari-hari. Ketika pelecehan verbal dianggap normal, itu berarti ada sistem yang diam-diam mendukungnya. Perempuan akhirnya berada pada posisi yang serba salah. Bicara dianggap berlebihan, diam justru melanggengkan keadaan.
Tidak heran jika banyak perempuan memilih menahan diri. Bukan karena tidak berani, tetapi karena pengalaman mengajarkan bahwa bersuara sering kali tidak membawa rasa aman. Ketika seseorang berulang kali tidak didengar atau bahkan disalahkan, otak akan belajar untuk menghindari risiko. Diam menjadi bentuk perlindungan, meski harus mengorbankan kenyamanan diri sendiri.
Ironisnya, semua ini terjadi di tengah narasi bahwa kita hidup di era yang lebih maju. Teknologi berkembang, pendidikan meningkat, tetapi rasa aman perempuan masih tertinggal. Seolah-olah kemajuan hanya berlaku di permukaan, sementara pola pikir lama tetap bertahan.
Pertanyaannya sederhana, tetapi mengganggu. Mengapa perempuan masih harus mempertimbangkan risiko hanya untuk berbicara?
Jika kata-kata saja bisa melukai, maka jelas ini bukan persoalan sepele. Ini tentang bagaimana kita memaknai batas, menghargai orang lain, dan menciptakan ruang yang benar-benar aman. Keamanan bukan hanya soal fisik, tetapi juga tentang rasa dihargai dan didengar.
Selama pelecehan masih bisa dianggap bercanda, selama korban masih diminta memaklumi, dan selama suara perempuan masih dipertanyakan, maka rasa aman itu akan selalu terasa jauh.
Dan mungkin, masalah terbesarnya bukan lagi pada kasus yang viral. Tetapi pada kebiasaan kita yang selalu menunggu viral dulu, baru peduli.
Jika itu terus terjadi, maka pertanyaan di awal tulisan ini tidak akan pernah benar-benar hilang. Perempuan akan tetap bertanya dalam diam, apakah hari ini aman untuk bicara.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
