Refleksi Hardiknas: Kegagalan Sistem Sekuler dan Urgensi Kembali ke Sistem Pendidikan Islam
Pendidikan | 2026-05-03 11:06:38Sabtu, 2 Mei 2026-Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tahunnya dinilai belum mampu membawa perubahan nyata bagi kualitas moral generasi bangsa. Sebaliknya, potret Pendidikan nasional saat ini justru kian buram dan memprihatinkan dengan merebaknya berbagai krisis multidimensi di lingkungan sekolah hingga perguruan tinggi.
Fakta Pahit Pendidikan Hari Ini Data menunjukkan bahwa ruang Pendidikan tak lagi menjadi tempat yang aman. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang melibatkan pelajar serta mahasiswa terus meningkat. Tidak hanya itu, integritas akademik berada di titik nadir dengan maraknya praktik joki UTBK, budaya plagiarisme, hingga kecurangan ujian yang sistemik.
Kondisi ini diperparah dengan penetrasi narkoba yang menyasar anak didik serta degradasi akhlak yang luar biasa. Fenomena siswa yang berani menghina guru hingga upaya memenjarakan pendidik hanya karena Tindakan disiplin menjadi sinyal kuat bahwa ada yang salah dalam tatanan Pendidikan kita.
Akar Masalah: System Sekuler-Kapitalistik Krisis Pendidikan Karakter sesungguhnya berakar pada system Pendidikan yang sekuler. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan ini telah menghapus orientasi spiritual dan moral dari dunia Pendidikan. Akibatnya, anak didik kehilangan arah dan makna hidup. Tujuan pendidikan berubah menjadi sekedar demi bekal mencari pekerjaan,, bukan membentuk kepribadian Islam.
Para guru pun banyak yang ikut terseret arus krisis moral. Tidak sedikit kasus kekerasan, pelecehan dan korupsi melibatkan pendidik itu sendiri. Intinya, masih banyak guru yang belum bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya. Inilah buah dari system pendidikan sekuler yang sejak awal memang berpaling dari al-quran. Ketika system kehidupan, khususnya system pendidikan, tidak berlandaskan wahyu ALLAH SWT, maka hasilnya adalah kebingungan, penyimpangan, dan kehancuran moral.
Visi Islam: Solusi Fundamental dan Sistematik Menanggapi carut-marut tersebut, Islam menawarkan solusi fundamental. Dalam pandangan islam, Pendidikan adalah kebutuhan dasar yang wajib dijamin penuh oleh negara. Asas utamanya bukan sekedar mencetak tenaga kerja, melainkan membangun Syaksiah Islamiyah (Kepribadian Islam) yaitu membentuk pola piker ('aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) yang didasarkan pada akidah islam. Pendidikan Islam berpijak pada akidah yang melahirkan generasi rabbani-sosok yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bertakwa sehingga jauh dari mentalitas curang dan maksiat.
Dalam TQS al--jumu'ah [62]:2 Dialah (Allah) yang mengutus ditengah-tengah kaum yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka. Dia (bertugas) membacakan kepada mereka ayat—ayat-Nya, menyucikan (jiwa/diri) mereka, serta mengajari mereka al-qur'an dan hikmah, sementara mereka sebelumnya benar-benar ada dalam kesesatan uang nyata.
Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa beliau diutus untuk membentuk akhlak mulia umat manusia.Demikian sabda beliau:”Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempunakan akhlak yang mulia (HR al-Bazzar dan al-Baihaqi).
Sejarah mencatat bahwa system pendidikan islam mencapai puncak keemas an selama ratusan tahun dibawah naungan khilafah, khususnya era abbasiyah. Negara menjadi pelopor utama pendidikan, membangun ribuan madrasah, perpustakaan dan pusat riset bersifat gratis.
Sistem pendidikan di era khilafah berhasil memadukan spiritualitas islam dengan kemajuan sains dan peradaban. Hal ini karena negara wajib memastikan pendidikan berjalan dengan tujuan syari yaitu : mencetak generasi beriman, berilmu dan berakhlak mulia.
Hardiknas seharusnya menjadi alarm bagi seluruh elemen bangsa untuk menyadari bahwa perbaikan parsial tidak akan cukup. Diperlukan perubahan sistemik yang mengembalikan fungsi Pendidikan sebagai pencetak generasi beradab dan bertakwa melalui penerapan system Pendidikan Islam.
Dengan demikian hanya dengan penerapan Syariah Islam secara kaffah leh institusi negara,, pendidikan akan kembali memancarkan cahaya. Dengan penerapan system Syariah islam secara kaffah, negara akan menjadi pelindung Ilmu, penjaga adab dan penegak peradaban yang memuliakan manusia. Dari rahimnya akan lahir generasi ulama dan mujahid. Generasi pemimpin dunia yang menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a'lam bi ash-shawaab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
