Arti Kemerdekaan yang Sesungguhnya
Politik | 2026-08-13 10:06:40
Hari lahir indonesia akan di laksanakan dalam beberapa hari lagi. Simbol-simbol kemerdekaan telah terpasang meriah di setiap sudut di negeri ini. Mulai menghiasa kampung menjadi amat apik di pandang, tak hanya itu antusias untuk mengadakan perlombaan sangat di nanti oleh para warga di setiap daerah. Kemeriahan acara yang akan di selenggarakan nanti di Istana Negara pada 17 Agustus 2026 juga sangat dinantikan oleh rakyat juga pejabat publik.
Namun apakah semua arti kemeriahan dan kemegahan perhelatan acara tersebut tidak bergantung lurus dengan ketimpangan sosial untuk beberapa warga. Warga Papua misal, mereka telah menghadapi ijin penambangan yang ada di tanah mereka, tambang-tambang tersebut nantinya akan menggunduli beberapa wilayah di raja ampat yang sering menjadi destinasi pelancong baik lokal maupun internasional. Berbagai penolakan yang dilakukan oleh beberapa anak papua dan organisasi alam pada tahun lalu membuah kan hasil pencabutan ijin tambang PT. Gag Nikel, namun baru-baru ini ijin tersebut telah kembali di kantongi oleh Pt. Gag Nikel dan masih ada 3 perusahaan lagi yang akan meminta ijin pertambangan di Raja ampat.
Sungguh Ironi kemalangan yang di dapatkan oleh rakyat, bukan kemerdekaan yang mereka rasakan karena rumah mereka di rusak oleh tambang-tambang yang hasilnya hanya dinikmati oleh segelintir orang. Rakyat hanya memperoleh imbas dan limbah yang di dapatkan dari aktifitas penambangan. Hutan di rusak, hewan-hewan tak punya tempat tinggal, banjir dimana-mana. Tapi pemerintah tetap saja memberikan ijin yang sudah jelas berdampak buruk bagi warga maupun negara kedepannya.
Bginilah potret penguasa di era kapitalis, siapa yang berkuasa dan mempunyai uang dialah yang bisa menguasai tambang dan fasilitas lainnya. Seharusnya pemerintah menoleh akan peradaban yang sangat stabil antara hidup dan beragama. Yakni pemerintahan yang sesuai dengan syariat Allah, peraturan yang berasal dari sang pencipta. peradaban tersebut telah menguasai hampir 2/3 dunia tapi tidak satupun tanah yang mereka duduki di hancurkan hanya untuk aktifitas tambang.
Islam berupaya untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya namun tidak merusak alam yang telah di berikan oleh Allah, karena pengelolaan sumber daya alam di jalankan oleh pemerintah bukan oligarki. Dan rakyat akan mendapatkan jaminan kesehatan, pangan yang tidak terlalu mahal, juga pendidikan yang bisa di berikan gratis oleh pemimpin negara. Semua sesuai dengan syariat yang di berikan oleh Allah, hanya islam lah yang dapat menyelesaikan permasalahan umat saat ini. Bukan kapitalisme yang terus-terusan menggerogoti umat menuju kesengsaraan. (Wallahualam bishawab)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
