Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Frila Wahyuni Muliyasari

Korban Gempa NTT Meninggal di Pengungsian

Info Terkini | 2026-09-25 05:55:43
https://www.cnnindonesia.com/

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 menyisakan dampak besar hingga satu bulan setelah kejadian. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada total 142 orang meninggal dunia. Dengan rincian 48 orang meninggal akibat dampak langsung saat gempa dan 94 orang meninggal saat berada di pengungsian. Sedangkan ribuan warga lainnya masih menghadapi dampak bencana berupa luka-luka, kerusakan rumah, serta terganggunya berbagai fasilitas umum. (Tirto.id 16 September 2026)

DPR RI dalam hal ini anggota Komisi VIII DPR, Hetifah Sjaifuddin mengaku prihatin. Karena data itu menunjukkan jumlah korban yang meninggal di pengungsian lebih banyak dari korban yang terdampak langsung gempa, yakni 48 orang. (CNN Indonesia, 18 September 2026).

Jumlah yang meninggal di pengungsian sekitar dua kali lipat dari yang terdampak langsung gempa. Disisi lain BNPB mengklarifikasi meninggalnya 94 orang pengungsi gempa NTT sebagian besar adalah lansia dengan penyakit kronis.

Kejadian tersebut tidak bisa dianggap sepele. Fakta mayoritas korban adalah pengidap penyakit kronis justru menunjukkan urgensi sistem pengungsian yang mampu mengenali dan melindungi kelompok rentan sejak hari pertama.

Kondisi pengungsian bisa menjadi tantangan kesehatan yang berat. Jika kondisi itu berat bagi warga yang sehat, maka akan lebih berat lagi bagi lansia, bayi, balita, ibu hamil, penyandang disabilitas serta warga dengan penyakit kronis.

Sejumlah laporan dari lapangan sebelumnya menggambarkan keterbatasan disebagian lokasi pengungsian mulai dari selimut dan tempat berlindung hingga air bersih, obat-obatan serta fasilitas Kesehatan.

Tingginya angka kematian di pengungsian ini dipengaruhi oleh terbatasnya fasilitas hingga minimalnya layanan medis. Hal ini merupakan hal yang mendesak di tengah cuaca ekstrem yang sangat panas pada siang hari dan sangat dingin pada malam hari.

Hal ini menunjukkan berkurangnya kapasitas penanganan pemerintah terhadap korban gempa di pengungsian. Peran negara sebagai pengurus rakyat dalam sistem saat ini tidak berfungsi secara optimal sehingga menyengsarakan rakyat, bahkan yang tengah tertimpa bencana.

Konstruksi Islam

Dalam pandangan Islam, setiap jiwa wajib dilindungi. Semua memiliki hak yang sama dalam menyediakan hak dasar berupa kesehatan setiap individu. Ini semua harus dijamin oleh negara. Negara merupakan penanggung jawab yang wajib menjalankan fungsi riayah dan perlindungan (ra'in dan junnah) secara optimal dan maksimal.

Agar bisa berjalan sebagaimana mestinya, sistem kesehatan dalam Islam ditopang pembiayaannya oleh sistem yang lain. Yakni sistem ekonomi Islam dan sistem keuangan Islam yang menjamin penyediaan kebutuhan individu rakyat secara optimal dan maksimal. Jadi rakyat tidak dibiarkan menyelesaikan sendiri masalah kesehatannya. Rakyat dalam hal ini yang menjalani hidup dalam kondisi normal apalagi yang sedang tertimpa bencana.

Oleh: Marwa Ummu Afa

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image