Rahi dan Rahim
Sastra | 2026-09-25 11:43:02
Rahi yang Rahim
Ya Ali Khayan memanggilku lagi sejam sebelum ia tiada. Apa yang terjadi setelah kepergiannya. Aku tidak melihat kejanggalan apapun kecuali seorang wanita berperut besar menuntut tanggung jawab darinya.
“Saya tidak mau anak ini tanpa ayah. Tolong siapa yang mau membantuku untuk membangunkan Khayan. Mati aku tanpanya,” teriak wanita itu sambil membanting benda-benda yang ada di sekelilingnya.
Orang-orang melihat wanita itu dengan pandangan hina. Ia bernama Rahi, sebagai pelacur yang mengaharapkan sosok suami. Tak ada yang mau mengawininya. Sebab kejahatan di masa lalu telah berteluh kepadanya. Meski awal, ia banyak dicintai. Tetapi, tidak ada yang tahu jika ia memang wanita tidak bermoral. Dahulu, ayahku juga korban kecantikannya. Menurutku, tidaklah begitu mempesona. Barangkali karena polesan ditambah tutur bahasanya yang mendayu-dayu akhirnya banyak lelaki terperangkap. Centil juga menjadi pelampisan bagi lelaki kesepian atau kurang perhatian dari istri di rumah.
Memang buah tidak jauh jatuh dari pohonnya. Ibunya juga demikian. Walau bukan pelacur, tetapi adalah gundik seorang pengusaha kaya di pulau Jawa. Namanya, memang dasar wanita penghancur rumah tangga, mana peduli harta diperoleh darimana. Akibat suaminya bangkrut, ibu Rahi pun turut miskin. Semua harta dijual, tanpa pandai memutar keuangan. Uang miliaran lenyap di bawa foya-foya sampai lalai rumahpun tak punya. Lantas ke mana pria malang itu? ya dibuang. Mana mau wanita itu memungutnya. Sudah susah habis lah semua.
Rumah kecil dan kumuh, menjadi hunian Rahi dan ibunya. Saat miskin, Rahi sudah beranjak empat belas tahun. Tak mau lagi ia melanjutkan pendidikan sebab baginya hanya membuang waktu juga gengsi karena tak punya uang untuk bergaya. Sang ibu juga tak pernah memberikan dorongan agar kelak anaknya menjadi wanita kuat. Akhirnya, melihat teman seusianya pada berduit, iapun mencari kesenangan dengan laki-laki yang butuh birahi. Rambut panjangnya ia gerai dengan diberi warna coklat kemerah-merahan. Bibirnya ia warnai lipstick pink berkilat. Pipinya memerah lengkap dengan bulu mata lentik. Parfum ia semprotkan ke seluruh tubuhnya.
Ibunya, tidak tahu jika putri jelitanya itu melakukan seperti yang ia lakukan dulu. Namun, saat mengetahui, apartemen mewah dari siapa, juga segala fasilitas dari mana, ibunya melihat itu adalah keberhasilan sebagai gadis dengan anugrah kecantikan yang tidak boleh disia-siakan. Maka, semuanya jalan tanpa ada rasa ketakutan.
Berkali-kali para istri, pacar, dan calon tunangan lelaki yang menidurinya datang melabrak. Rahi tidak memperdulikan bahkan ia bangga dengan perilakunya . Menertawakan dan berkata angkuh.
“Lah suamimu mau sama aku. Katanya yang di rumah tengil dan bawel. Hahahaha,” ucapnya sambil sumringah memandang rendah seorang istri yang sedang hamil delapan bulan dihadapannya.
Tahun pun berganti. Memang Rahi masih berusia tiga puluh lima tahun. Wajahnya tidak semenyegarkan dulu. Riasan make up membuat wajahnya keliahatan layu. Berkuranglah ketertarikan laki-laki padanya. Namun, seseorang masih mencintainya. Entah mengapa, Rahi juga merasakah hal yang sama meski bukanlah lelaki itu kaya. Sayang, lelaki itu telah mempunyai anak tiga. Maka, caranya adalah menjadi istri kedua. Tepat tiga hari rencana mereka untuk menemui penghulu di kantor urusan agama. Kecelakaan menimpa Khayan yang sedang menelpon Rahi ketika menyebrang jalan.
“Khayan, aku merasa sakit di perutku,” Rahi mengeluh.
Tapi, hari itu ia sedang tidak enak badan. Hasilnya pun mengejutkan, akibat lupa menggunakan pengaman saat berhubungan ia hamil telah dua bulan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
