Musim Bisik
Sastra | 2026-11-03 21:19:16Musim Bisik
M. Sadli Umasangaji
Kota ini seperti berbisik. Saat itu mungkin kabar buruk tak lebih dulu hadir ketimbang hujan. Hujan selalu datang lebih dahulu daripada kabar buruk. Barangkali sebab hujan tahu bahwa manusia membutuhkan sesuatu yang jatuh dari langit sebelum kekesalan semu menemukan jalannya sendiri. Malam itu, terasa dipenuhi bau tanah yang baru diguyur. Lampu-lampu jalan memantulkan genangan yang bergetar setiap kali sepatu lars melintas. Orang-orang menutup jendela lebih cepat dari biasanya.
Kami menyebut masa itu sebagai musim bisik.
Pada masa-masa itu, banyak seperti yang bisa mendengar, walaupun suara perlawanan disampaikan dengan berbisik, bahkan dalam bisu sekalipun, orang bisa melapor. Dan tentu lebih banyak yang takut pada kenyataan-kenyataan. Masyarakat seakan-akan harus menerima kenyataan, bahwa terpolarisasi dalam satu warna itu yang terbaik. Mungkin mereka resah. Mungkin gerakan perlawanan masih terdengar pelan, atau terpaksa dibisukan, tapi mereka tetap berbisik. Begini musim bisik.
Tak seorang pun berani mengucapkan nama penguasa dengan suara utuh. Nama itu dipotong-potong, dipelankan, disamarkan menjadi julukan yang hanya dipahami oleh mereka yang hidup di bawah bayangannya. Ketakutan mempunyai tata bahasanya sendiri. Ia mengajari lidah manusia memilih kata yang aman dan membuang kata yang dapat membawa seseorang pulang dalam keadaan mata tertutup kain hitam.
Pada musim itulah aku mengenalnya. Tubuhnya waktu itu masih kurus, matanya seperti menyimpan api yang tak pernah padam. Ia memiliki tawa yang khas. Ketika orang lain sibuk memperdebatkan harga beras atau kenaikan ongkos transportasi, ia justru berbicara tentang sesuatu yang tidak dapat disentuh: martabat.
"Miskin," katanya suatu ketika saat kami di sekretariat organisasi, "Bukan hanya soal tidak punya uang. Yang lebih berbahaya adalah ketika orang dipaksa menerima kemiskinan sebagai nasib."
Ia berkata lirih, “Mereka sederhana dan mereka kalah. Itulah masalahnya sekaligus kenyataannya.”
Kalimat itu tinggal lama di kepalaku.
Aku tidak tahu apakah ia sedang berbicara kepada kami atau kepada dirinya sendiri.
Baginya, ia melihat tanah yang begitu subur tetapi melahirkan orang-orang yang begitu letih. Berbagai tumbuhan tumbuh. Laut memberi ikan hampir setiap pagi. Namun di rumah-rumah yang berdinding papan itu, orang masih menghitung beras dengan cangkir, masih menggadaikan apa yang bisa mereka gadai ketika musim paceklik tiba. Ia berkata, “Aku dilahirkan di sebuah negeri di mana ada kesuburan tanah, curah hujan yang baik, tapi kemiskinan di sekitar lingkunganku terlihat adanya. Aku ingin melakukan sesuatu. Aku ingin bisa membuat orang-orang di sekitarku itu bahagia.”
"Barangkali," katanya lagi, "Yang miskin bukan tanah kita."
Ia berhenti sebentar.
"Yang miskin adalah keadilan."
Tidak ada yang bertepuk tangan. Kalimat itu terlalu sunyi untuk dirayakan.
Kesusahan rakyat, kemelaratan, kesulitan ekonomi, kenaikan harga, kondisi ekonomi mahasiswa yang juga sulit. Di lain sisi, suburnya nepotisme, menguatnya kolusi dan semakin menjamurnya korupsi.
Krisis kepercayaan, tidak konsistennya kebijakan, tidak konsistennya reformasi ekonomi, kurangnya transparansi, rentannya sektor keuangan, utang luar negeri meningkat, stabilitas politik terganggu. Rentetan hal ini menjadi krisis ekonomi dan krisis politik.
Kami seperti berada dalam situasi yang ia katakan, “Aku persis berada di tengah situasi yang sama sekali tidak tampak sebagai peristiwa politik ini. Tapi inilah peristiwa politik yang paling mungkin terjadi ketika institusi-institusi demokrasi diinjak-injak oleh pemerintah sendiri. Pada gilirannya, rakyat akan menunjukkan aspirasinya lewat poster, spanduk, atau mungkin batu, dan pasta gigi. Saat penguasa percaya bahwa gas air mata dan peluru dapat memadamkan gerakan ini. Dia akan kehilangan pijakan realitasnya.”
Beberapa bulan kemudian kota mulai dipenuhi poster-poster yang muncul pada dini hari dan lenyap sebelum matahari tinggi. Nama penguasa dicoret dengan cat hitam. Di tembok terminal, seseorang menulis: Ketika rasa takut menjadi hukum, melawan adalah cara terakhir untuk tetap menjadi manusia.
Tak lama setelah itu demonstrasi pertama meledak.
Aku melihatnya berdiri dan menyampaikan orasi. Suaranya tidak keras, tetapi setiap kalimatnya seperti batu yang dilempar ke permukaan danau. Riaknya menyentuh semua orang.
"Kita tidak sedang meminta belas kasihan," katanya. "Kita sedang mengingatkan bahwa negeri ini bukan milik segelintir orang."
Massa bersorak.
Aku ikut bersorak.
Barangkali karena saat itu kami percaya sejarah selalu berpihak kepada mereka yang berani. Kami belum tahu bahwa sejarah juga pandai melupakan.
#
Bertahun-tahun kemudian, ketika jalan-jalan telah berganti aspal, gedung-gedung baru berdiri, dan wajah kota menjadi asing bahkan bagi orang yang lahir di dalamnya, aku melihatnya lagi.
Bukan di jalan.
Bukan di kampus.
Bukan pula di ruang-ruang diskusi yang dulu dipenuhi berbagai orang, beberapa dengan asap rokok dan juga kopi seadanya.
Kini, ia berdiri di belakang seorang penguasa baru.
Setelan jasnya rapi.
Rambutnya mulai memutih di pelipis.
Di dadanya tersemat lambang yang dahulu sering ia sebut sebagai wajah lain dari kekuasaan.
Televisi menyorot senyumnya.
Ia berbicara tentang kemiskinan tapi yang dibicarakan masih sama kondisinya ketika ia melakukan perlawanan dulu.
Jurang antara dunia atas dan bawah terlanjur jauh. Ruang antara yang memberikan pelayanan dan yang menerima pelayanan semakin melebar, yang memberikan pelayanan semakin tebal, yang patut menerima semakin melarat. Jurang antara yang berkantong dengan yang kempis semakin jauh titik temunya.
Ia kini dengan gagasannya berkembang dan dinikmati oleh banyak kalangan yang menyukai soal gerakan. Ia telah menjadi tokoh kiri populis. “Politik bagiku, bukan sebuah nama untuk gedung dengan tiang-tiang yang kaku. Bagiku politik adalah jalan dalam memederkakan jiwa-jiwa sederhana agar mereka tidak terombang-ambing di antara kehidupan miskin dan kematian yang tragis,” katanya.
“Aku merasa begitu membenci kemiskinan, pembodohan dan kebebalan yang terjadi dalam masa kenangan kecilku itu pada orang-orang yang ku lihat pada lingkungan sekitarku,” kenangnya lagi.
Di lain waktu ia membincangkan obsesinya. Ia bicara panjang soal itu. Ia mengatakan bahwa “Obsesi pertamaku adalah obsesi terhadap kebebasan manusia. Konsekuensi yang harus saya lakukan terhadap obsesi pertama saya itu, saya harus terlibat, merebut, mewujudkan kebebasan manusia itu. Obsesi ini, maka saya terlibat perlawanan.”
Ia kemudian selalu berusaha menjadi manusia politik. Manusia politik baginya, pertama ia mencintai ide. Entah memproduksi atau mengonsumsi ide. Entah membaca tapi tidak terlalu rutin menulis. Kedua, ia bergaul dengan rakyat. Ia mencintai rakyat. Rasakan panas teriknya rakyat. Ketiga, ia memiliki tradisi berorganisasi saat muda. Keempat, ia memiliki kehendak berkuasa. Dan kelima, memiliki kemampuan retrorika. “Politisi hanya memiliki kehendak berkuasa. Ini yang membuat ia berbeda dengan manusia politik.”
Aku mencoba mengingat kembali lelaki yang pernah berkata bahwa martabat tidak boleh ditukar dengan kenyamanan.
Mungkin aku gagal. Atau mungkin yang gagal adalah ingatanku yang masih menyimpan wajahnya sebagai pemuda yang berlari menghindari gas air mata sambil menggenggam megafon.
Di luar rumah, hujan turun lagi. Persis seperti malam ketika aku pertama kali mengenalnya, mendengar tentangnya. Bedanya, kali ini tidak ada lagi orang yang berbisik. Atau bisikan itu mulai ada, tapi suaranya masih terdengar semu. Sebab setelah sekian lama, rupanya yang paling mudah berubah bukanlah kekuasaan. Melainkan manusia yang pernah bersumpah akan melawannya.
Aku memandang langit senja sebagai makhluk biasa. Akhirnya ia mendukung Tuan Pinoki dan Tuan Kita kini. Rasa-rasanya pengorbanannya seperti semu. Atau memang seperti itu realitas, sejarah, realitas, berulang, kenyataan. Dan aku kenang lagi kata-kata di masa musim bisik dulu, “Kerja kelihatannya masih jauh dari usai, dan pengharapan selalu ada ruang untuk berjalan lebih panjang dari nafas.”
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
