Mudik dan Jalan Pulang yang Menjadi Ujian
Ngariung | 2026-04-17 04:32:19
Mudik selalu membawa harapan. Orang-orang pulang dengan rindu yang utuh. Namun, perjalanan itu kerap berubah menjadi ujian yang berat. Kemacetan panjang dan kecelakaan lalu lintas kembali muncul di banyak titik. Peristiwa ini tidak pernah benar-benar hilang dari tahun ke tahun.
Di Nagreg, arus kendaraan mencapai sekitar 190 ribu unit dan memicu antrean hingga lima kilometer. Di jalur tol, kecelakaan tragis terjadi dan merenggut nyawa, seperti insiden di Tol Pejagan-Pemalang yang menewaskan empat orang. Di sisi lain, kemacetan parah di Gilimanuk hingga memakan korban juga menjadi sorotan. Korlantas bahkan mencatat peningkatan jumlah kecelakaan pada mudik 2026, meski korban jiwa sedikit menurun. Fakta ini membentuk satu kesimpulan sederhana, bahwa perjalanan pulang sering kali menyisakan duka.
Persoalan ini tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari cara kita menata mobilitas publik. Banyak orang tidak memiliki pilihan selain menggunakan kendaraan pribadi. Transportasi massal belum hadir secara merata dan belum selalu nyaman. Kondisi ini mendorong lonjakan kendaraan yang sulit dikendalikan.
Pengamat transportasi menilai bahwa dominasi kendaraan pribadi menunjukkan lemahnya sistem transportasi publik. Hal ini menunjukkan pentingnya pembangunan transportasi massal sebagai solusi jangka panjang. Pandangan ini memberi arah bahwa kemacetan bukan sekadar soal volume kendaraan, tetapi soal desain sistem yang belum utuh.
Kemudian, kita melihat pola penanganan yang cenderung sama setiap tahun. Rekayasa lalu lintas seperti one way atau contraflow menjadi andalan. Kebijakan ini memang membantu mengurai kepadatan dalam waktu singkat. Namun, kemacetan tetap muncul karena jumlah kendaraan terus meningkat. Kecelakaan tetap terjadi karena tekanan di jalan semakin tinggi. Dengan kata lain, diperlukan solusi mengakar yang dapat mencegah masalahnya sejak awal.
Selanjutnya, ketimpangan antara kebutuhan dan ketersediaan menjadi jelas. Pertumbuhan kendaraan tidak diimbangi dengan pertumbuhan infrastruktur. Sebagian jalan masih mengalami kerusakan yang membahayakan pengguna. Di sisi lain, layanan transportasi publik belum mampu menjadi pilihan utama.
Situasi ini menciptakan beban berlapis. Jalan menjadi padat, risiko meningkat, dan perjalanan menjadi tidak aman. Dalam kondisi seperti ini, peran pengelolaan publik terasa belum maksimal. Negara hadir, tetapi belum sepenuhnya menjangkau kebutuhan dasar masyarakat secara menyeluruh.
Perspektif Islam tentang Tanggung Jawab
Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah yang besar. Rasulullah saw. bersabda, “Imam adalah pemelihara dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa pemimpin tidak hanya mengatur, tetapi juga menjaga. Ia harus memastikan setiap warga dapat menjalani aktivitas dengan aman.
Dalam sejarah, para pemimpin menunjukkan perhatian pada fasilitas publik. Umar bin Khattab dikenal menata jalan dan memastikan keamanan perjalanan. Ia bahkan khawatir jika ada hewan yang tersandung di jalan yang rusak. Sikap ini menunjukkan kedalaman tanggung jawab yang tidak berhenti pada kebijakan, tetapi menyentuh detail kehidupan.
Lebih jauh, Islam mendorong negara untuk menyediakan sarana publik yang memadai. Transportasi massal harus hadir dalam jumlah cukup, dengan kualitas yang baik, dan harga yang terjangkau. Jalan harus dibangun dan dirawat agar aman digunakan. Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini memberi pesan bahwa keselamatan adalah prioritas utama. Negara memiliki peran penting dalam menjaga hal tersebut. Ia tidak cukup mengandalkan solusi jangka pendek. Ia harus membangun sistem yang kuat dan berkelanjutan.
Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan, tetapi mengajak untuk melihat lebih dalam. Mudik adalah cermin dari cara kita mengelola kehidupan bersama. Jika masalah terus berulang, maka evaluasi perlu diarahkan pada cara berpikir, bukan hanya pada langkah teknis. Dari sana, harapan muncul. Jalan pulang tidak lagi menjadi ujian yang berat, tetapi kembali menjadi perjalanan yang penuh makna dan keselamatan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
