Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rita Maliza

Di Balik Aroma Maskulin: Risiko Kimia yang tak Terlihat

Riset dan Teknologi | 2026-04-18 07:07:58

Banyak pria memulai hari dengan satu ritual sederhana: menyemprotkan parfum sebelum beraktivitas. Wangi yang segar sering dianggap sebagai bagian dari identitas diri, bahkan simbol kepercayaan diri. Namun, sangat sedikit yang benar-benar tahu apa yang terkandung di balik aroma tersebut.

Masalahnya bukan pada parfum itu sendiri, melainkan pada satu kata yang sering muncul di labelnya: “fragrance” atau “parfum”. Istilah ini tidak menjelaskan komposisi sebenarnya. Dalam regulasi industri, istilah tersebut dapat mewakili campuran puluhan hingga ratusan bahan kimia yang tidak wajib diungkap secara rinci karena dianggap sebagai rahasia dagang.

Ilustrasi parfum yang dipakai pria setiap hari. Photo by Fulvio Ciccolo on Unsplash

Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana: jika kita tidak tahu apa yang terkandung di dalamnya, seberapa besar risiko yang mungkin kita hadapi?

Sejumlah studi ilmiah dalam beberapa tahun terakhir mulai memberikan gambaran yang lebih jelas.

Salah satu kelompok bahan yang sering dikaitkan dengan parfum adalah ftalat, khususnya diethyl phthalate (DEP). Fungsinya bukan sebagai pewangi, melainkan sebagai fiksatif, yaitu zat yang membuat aroma bertahan lebih lama di kulit.

Penelitian berbasis data kesehatan nasional di Amerika Serikat menemukan adanya hubungan antara kadar metabolit ftalat dalam tubuh dengan penurunan kadar testosteron pada pria dewasa. Artinya, semakin tinggi paparan ftalat, semakin rendah kadar hormon tersebut yang terukur dalam darah. Hubungan ini tetap terlihat bahkan setelah memperhitungkan faktor lain seperti usia dan indeks massa tubuh.

Temuan ini menarik karena parfum selama ini dipasarkan dengan citra maskulinitas. Namun, bahan yang membuat aromanya tahan lama justru berpotensi berinteraksi dengan sistem hormon yang sama.

Aspek lain yang sering luput adalah jalur masuk zat tersebut ke dalam tubuh. Banyak orang mengira paparan parfum hanya terjadi melalui penciuman. Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa senyawa seperti ftalat dapat diserap langsung melalui kulit dan masuk ke dalam aliran darah.

Area penyemprotan parfum seperti leher dan pergelangan tangan memiliki pembuluh darah yang relatif dekat dengan permukaan kulit. Kondisi ini memungkinkan penyerapan berlangsung lebih efisien. Bahkan, jalur ini tidak melewati proses awal penyaringan di hati yang biasanya terjadi pada zat yang masuk melalui makanan atau minuman.

Dalam konteks penggunaan harian, paparan ini bersifat kecil tetapi berulang. Setiap semprotan mungkin tampak tidak signifikan, tetapi akumulasi jangka panjang menjadi relevan, terutama jika digunakan selama bertahun-tahun.

Selain ftalat, perhatian ilmiah juga tertuju pada kelompok bahan lain, yaitu musk sintetis. Senyawa ini memberikan karakter aroma hangat dan “bersih” yang sering diasosiasikan dengan parfum pria modern.

Beberapa studi menunjukkan bahwa musk sintetis dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh, termasuk lemak dan darah. Selain itu, terdapat bukti bahwa senyawa ini dapat berinteraksi dengan sistem hormon, khususnya jalur estrogen dan androgen. Dalam penelitian laboratorium, interaksi ini terukur dan menunjukkan potensi gangguan pada keseimbangan hormonal.

Paparan terhadap musk sintetis umumnya terjadi melalui produk sehari-hari seperti parfum, deodoran, dan produk perawatan tubuh lainnya. Artinya, ini bukan paparan sesekali, melainkan bagian dari rutinitas.

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tropis seperti Indonesia, ada faktor tambahan yang patut dipertimbangkan. Suhu yang lebih tinggi dan kondisi kulit yang lebih lembap dapat meningkatkan penyerapan zat dari permukaan kulit. Meskipun belum banyak studi spesifik pada parfum di iklim tropis, secara fisiologis kondisi ini memungkinkan paparan menjadi lebih efektif.

Lalu, apakah ini berarti parfum berbahaya dan harus dihindari sepenuhnya?

Tidak sesederhana itu. Dalam toksikologi, efek suatu zat sangat bergantung pada dosis, frekuensi, dan respons individu. Banyak bahan yang digunakan dalam parfum telah melalui evaluasi keamanan dan masih dianggap aman dalam batas tertentu.

Namun, yang menjadi penting adalah transparansi dan kesadaran. Ketika beberapa jalur bukti ilmiah mulai menunjukkan potensi interaksi dengan sistem hormon, konsumen berhak mengetahui dan mempertimbangkan pilihan mereka.

Saat ini, alternatif mulai berkembang. Produk dengan bahan lebih sederhana, minyak esensial, atau label transparansi komposisi menjadi semakin mudah diakses. Ini bukan soal mengganti semua produk secara drastis, tetapi tentang membuat keputusan yang lebih terinformasi.

Pada akhirnya, parfum tetaplah bagian dari gaya hidup. Namun, memahami apa yang kita gunakan setiap hari adalah langkah kecil yang dapat berdampak besar dalam jangka panjang.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image