Mudik Aman Sembari Meneropong Kisah Umar dan Seekor Keledai
Edukasi | 2026-04-01 10:36:23
Lebaran dan mudik 2026 telah usai, tugas selanjutnya adalah melakukan evaluasi bersama agar kedepannya masyarakat bisa mendapatkan jaminan keamanan dan keselamatan.
Menurut Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tingkat kecelakaan pada arus mudik dan balik Lebaran 2026 menurun hingga 7,8 % dibandingkan tahun 2025. Secara khusus, Sigit mengatakan jumlah kasus kecelakaan yang berujung korban jiwa juga menurun sebanyak 112 kasus dengan total sebanyak 265 korban jiwa. (CNN Indonesia, Sabtu 28 Maret 2026)
Sementara itu, seorang pemudik (ibu rumah tangga asal Kebumen, Jawa Tengah) diberitakan meninggal dunia saat terjebak antrian panjang di pelabuhan Gilimanuk, Jembrana. (detikBali, 19 Maret 2026)
Tentu harus ada evaluasi besar dari pemangku kebijakan untuk mitigasi mudik tahun ini. Meskipun diklaim tingkat kecelakaan arus mudik-balik 2026 menurun, namun masih terdapat kasus kecelakaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia. Apalagi mudik sudah menjadi agenda tahunan di negeri mayoritas Muslim ini. Sehingga harusnya ada perbaikan optimal baik dari segi kuantitas, kualitas, maupun kapasitas layanan transportasi.
Lebaran merupakan moment kebahagiaan silaturahmi berkumpul dengan keluarga. Dan moment ini akan menjadi kesedihan bagi sebagian masyarakat yang mendapatkan musibah disaat mudik atau balik. Musibah disaat mudik, tentu tidak cukup disikapi hanya dengan permintaan maaf dari pihak terkait ataupun penambahan fasilitas mudik gratis. Karena pada faktanya fasilitas mudik gratis, tidak bisa menjangkau semua kalangan. Butuh upaya serius agar moment mudik bisa menjadi moment membahagiakan.
Bicara tentang mitigasi transportasi masyarakat tentu sangat terkait dengan pola kepemimpinan. Dalam Islam, kepemimpinan ibarat pelayan rakyat, sehingga dasar inilah yang menjadikan Amirul Mukminin Umar bin Khattab sangat mengkhawatirkan kondisi jalan, agar jangan sampai membuat seekor keledai terperosok. Bayangkan, hewan saja sampai menjadi perenungan seorang pemimpin negara. Apalagi rakyatnya (manusia) yang tentu harus dijamin keselamatan dan keamanannya.
Selain itu, ada juga ide brilian kepemimpinan Sultan Hamid II di masa kekhilafahan Utsmaniyah. Dimana kala itu dibangun jalur kereta api Hijaz (Hejaz Railway) yang dimulai tahun 1840 M. Jalur ini terbentang antara Damaskus (Suriah), Amman (Yordania) sampai ke Madinah. Hejaz Railway dibangun untuk mempermudah dan meningkatkan pelayanan bagi jamaah haji.
Dua kisah cemerlang di atas, memperlihatkan bahwa kepemimpinan dalam kehidupan Islam bertujuan untuk mengurus urusan rakyat dengan baik. Dari kisah tersebut kita bisa meneladani akan pentingnya mengurusi urusan rakyat, diantaranya perkara mudik. Hingga rakyat benar-benar terjamin keamanan dan keselamatannya untuk bisa berkumpul dengan keluarga. Maka, sangat urgen tersedianya layanan transportasi massal yang aman, nyaman dan murah untuk rakyat, tentu didukung dengan jumlah yang memadai. Disisi lain harus ada ikhtiar nyata membangun sarana jalan raya dan memperbaiki jalan rusak di seluruh pelosok wilayah. Tak lupa sarana penerangan yang optimal di sepanjang jalan, agar semua pengguna jalan bisa merasakan keamanan dan kenyamanan.Semoga kedepannya mudik aman benar-benar bisa terwujud.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
