Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Zidan Herdinansyah_

Framing yang Menyesatkan: Ketika Media Gagal Menyajikan Realitas

Agama | 2026-04-15 22:26:15
Tayangan program Trans7 yang memframing Kyai Lirboyo melakukan praktik feodalisme

Ketika media mengangkat isu yang sensitif, persoalan yang muncul sering kali bukan hanya pada apa yang ditampilkan, tetapi pada bagaimana realitas tersebut dibingkai. Media tidak sekadar menyampaikan fakta, melainkan turut membentuk cara publik memahami suatu peristiwa. Dalam konteks ini, polemik yang muncul dari tayangan salah satu program Trans7 terkait dugaan praktik feodalisme di Pondok Pesantren Lirboyo menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada realitas yang diangkat, melainkan pada kegagalan media dalam membingkai realitas secara utuh dan proporsional.

Fenomena yang ditampilkan dalam tayangan tersebut pada dasarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak ada. Dalam kondisi tertentu, relasi yang bersifat hierarkis memang dapat ditemukan di lingkungan pesantren. Namun, persoalannya terletak pada cara penyajiannya yang cenderung parsial dan menyederhanakan realitas yang kompleks. Tayangan tersebut menghadirkan sudut pandang yang sempit tanpa memberikan konteks yang memadai, sehingga berpotensi menggiring publik pada kesimpulan yang keliru seolah olah praktik tersebut merupakan gambaran umum dari pesantren secara keseluruhan.

Polarisasi opini yang terjadi di media sosial

Dampak dari framing yang tidak utuh ini terlihat jelas di ruang publik, khususnya di media sosial. Muncul polarisasi opini yang tajam, di mana sebagian pihak membela Trans7 dengan alasan media memang menampilkan fakta yang benar benar terjadi, sementara pihak lain mengecam tayangan tersebut karena dianggap merendahkan dan menggeneralisasi pesantren. Perdebatan ini tidak lagi berada pada ruang diskusi yang sehat, melainkan bergeser menjadi konflik persepsi yang dipenuhi emosi. Dalam hal ini, media bukan sekadar menjadi pemicu, tetapi turut berperan dalam membentuk arah dan eskalasi perdebatan tersebut.

Masalahnya, media sering kali berlindung di balik dalih “menampilkan realitas” untuk membenarkan penyajiannya. Padahal, realitas yang ditampilkan tanpa konteks yang utuh bukanlah representasi, melainkan distorsi. Dengan memilih angle tertentu, mengabaikan sudut pandang lain, serta menonjolkan sisi yang sensasional, media secara tidak langsung membangun narasi yang bias. Di titik ini, media tidak lagi berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi justri menjadi actor yang membentuk stigma di Tengah masyarakat.

Meskipun tidak dapat dipungkiri, respons sebagian masyarakat yang cenderung emosional turut memperkeruh situasi. Namun, reaksi tersebut tidak muncul begitu saja. Framing yang tidak proporsional membuka ruang bagi intrepetasi yang bias dan memicu reaksi yang berlebihan. Artinya, media tidak dapat melepaskan tanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan, karena cara penyajian informasi memiliki kontribusi langsung terhadap cara publik merespons suatu isu.

Pada akhirnya, polemik ini menegaskan bahwa kekuatan media bukan hanya pada kemampuannya menyampaikan informasi, tetapi pada kemampuannya membentuk realitas sosial di benak publik. Ketika media gagal menghadirkan konteks yang utuh dan justru menyederhanakan isu yang kompleks, maka yang tercipta bukanlah pemahaman, melainkan stigma dan polarisasi. Jika praktik seperti ini terus berulang, media tidak lagi menjadi jembatan informasi, melainkan sumber kesalahpahaman yang memperdalam konflik di ruang publik.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image