Ketika Belanja Menjadi Pelarian: Mahasiswa dalam Jerat Konsumsi Digital
Gaya Hidup | 2026-04-16 00:13:03
Satu video, satu klik, satu transaksi. Polanya tampak sederhana, bahkan terasa biasa. Namun dari kebiasaan kecil inilah pola konsumsi baru terbentuk. Tanpa rencana dan tanpa pertimbangan panjang, keputusan membeli terjadi begitu saja. Bagi banyak mahasiswa, ini bukan lagi kejadian sesekali, melainkan bagian dari keseharian. Dari sekadar membuka TikTok untuk hiburan, berlanjut pada live shopping, lalu tanpa sadar berakhir pada pembelian yang sebenarnya tidak direncanakan.Di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih serius: apakah kita benar-benar membeli karena membutuhkan, atau hanya karena tidak ingin merasa tertinggal?
Fenomena live shopping menunjukkan bahwa konsumsi hari ini tidak lagi sepenuhnya lahir dari kebutuhan, melainkan dibentuk. Konten dikemas santai, interaktif, dan terasa dekat. Penjual maupun influencer berbicara seperti teman, bukan seperti pihak yang sedang menjual. Sementara itu, algoritma terus menampilkan produk yang relevan secara berulang. Dalam kondisi seperti ini, audiens seolah ditempatkan dalam ruang yang sama, dengan dorongan yang terus diperkuat.
Akibatnya, keputusan membeli sering kali tidak lagi rasional, melainkan emosional. Apa yang awalnya hanya keinginan sesaat perlahan terasa seperti kebutuhan yang mendesak. Batas antara hiburan dan dorongan konsumsi pun menjadi kabur. Yang tampak seperti hiburan ringan bisa saja menjadi bentuk persuasi yang bekerja secara halus dan terus-menerus.
Persoalan ini tidak berdiri sendiri. Gaya hidup konsumtif mahasiswa hari ini merupakan hasil dari kombinasi yang lebih kompleks: sistem digital yang persuasif, tekanan sosial yang tinggi, dan budaya hustle yang terus didorong. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk produktif, tetapi juga untuk terlihat berhasil. Standar hidup pun ikut meningkat, dipengaruhi oleh apa yang terus ditampilkan di media sosial. Apa yang dimiliki orang lain dengan cepat berubah menjadi tolok ukur yang harus diikuti.
Kemudahan ini semakin diperkuat oleh kehadiran paylater. Tidak memiliki uang bukan lagi menjadi penghalang untuk membeli. Semua terasa mungkin selama ada opsi “bayar nanti”. Namun di balik kemudahan tersebut, tersimpan risiko yang sering kali diabaikan. Batas antara kebutuhan dan kemampuan menjadi semakin kabur. Apa yang awalnya hanya keinginan sesaat dapat dengan cepat berubah menjadi keputusan finansial yang mengikat.
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak kasus mahasiswa yang terjerat utang paylater dan pinjaman online. Polanya serupa: dimulai dari nominal kecil, lalu berkembang menjadi beban yang sulit dikendalikan. Di sisi lain, literasi keuangan di kalangan mahasiswa masih belum cukup kuat untuk mengimbangi kemudahan akses tersebut. Platform terus mendorong konsumsi, tetapi tidak selalu diiringi dengan edukasi yang memadai.
Di saat yang sama, tren fast fashion ikut mempercepat siklus konsumsi. Produk yang ditawarkan cenderung murah, mudah diakses, dan cepat mengikuti tren. Hal ini membuat konsumen tidak ragu untuk membeli, tetapi juga tidak terlalu mempertimbangkan daya tahan. Barang dipakai dalam waktu singkat, lalu ditinggalkan ketika tren berganti. Siklus beli, pakai, buang pun menjadi kebiasaan yang terus berulang.
Dampaknya tidak bisa dianggap sederhana. Dari sisi ekonomi, mahasiswa menjadi lebih rentan terhadap pengelolaan keuangan yang tidak sehat. Penggunaan paylater tanpa perhitungan dapat berujung pada penumpukan utang yang sulit dikendalikan. Dari sisi sosial, muncul tekanan untuk terus mengikuti standar yang sebenarnya tidak realistis. Sementara dari sisi lingkungan, meningkatnya konsumsi fast fashion berkontribusi pada penumpukan limbah tekstil yang semakin sulit diatasi.
Jika ditarik lebih jauh, fenomena ini menunjukkan adanya rantai yang saling terhubung: konten persuasif membentuk keinginan, paylater mempermudah transaksi, standar sosial mendorong konsumsi, dan produk murah mempercepat siklus penggunaan. Tanpa disadari, mahasiswa berada di tengah sistem yang terus mendorong untuk membeli, bukan untuk mempertimbangkan.
Di sisi lain, budaya hustle juga memperkuat pola ini. Tekanan untuk terus produktif dan terlihat berhasil sering kali membuat individu mengalami kelelahan yang tidak disadari. Dalam kondisi tersebut, konsumsi menjadi bentuk self-reward yang paling mudah diakses. Memberi penghargaan kepada diri sendiri memang tidak salah, tetapi tanpa kontrol yang jelas, hal ini dapat berkembang menjadi kebiasaan konsumtif yang berulang.
Pada akhirnya, fenomena ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan lebih reflektif. Bukan dengan menolak teknologi atau tren yang ada, tetapi dengan memahami cara kerjanya. Kesadaran menjadi kunci. Mahasiswa perlu mulai membedakan kebutuhan dan keinginan, lebih bijak dalam menggunakan fasilitas seperti paylater, serta lebih peduli terhadap dampak konsumsi yang dilakukan. Karena di tengah semua kemudahan ini, yang perlu dijaga bukan hanya kemampuan untuk membeli, tetapi kesadaran untuk memilih.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
