Masjid, Adab, dan Cermin Retaknya Pedoman Hidup Bangsa
Agama | 2026-04-15 21:18:59
Belum lama ini warganet dihebohkan dengan postingan sepasang remaja yang melakukan tindakan tidak pantas di dalam sebuah area masjid Wisata Logending, Kebumen, Jawa Tengah dalam unggahan Instagram @edctv.lifestyle, pada Kamis, 2 April 2026. “Mushola yang disediakan di area wisata sejatinya diperuntukkan bagi pengunjung untuk berkunjung dan beristirahat dengan tetap menjaga kesopanan,” tulis postingan tersebut. Kemarahan warga yang memuncak dengan air menjadi bukti betapa sensitifnya kesucian tempat ibadah di mata masyarakat. Namun, melampaui sekadar kemarahan massa, peristiwa ini menjadi cermin retak bagi pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Masjid adalah manifestasi fisik Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini adalah ruang sakral yang seharusnya menjadi tempat komunikasi antara hamba dengan Sang Pencipta. Ketika tindakan asusila dilakukan di dalamnya, terjadi pengabaian total terhadap nilai kesucian agama. Ini bukan sekadar pelanggaran norma kesopanan, melainkan bentuk penurunan keimanan di mana rasa takut kepada Tuhan telah tergerus oleh dorongan nafsu.
Selain itu, kita perlu menyinggung Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kata “Beradab” dalam sila ini menuntut setiap warga negara untuk memiliki etika dan tata krama dalam setiap tindakan. Perilaku 2 remaja tersebut menunjukkan hilangnya adab yang menjadi karakter bangsa.
Peristiwa di Kebumen ini sangat mengecewakan. Pancasila tidak hanya berhenti hafalan di buku-buku sekolah, tetapi kita juga harus mengimplementasikannya dalam kehidupan sosial. Penyelesaian kasus ini tidak hanya dengan penyiraman air atau sanksi sosial sewaktu-waktu. Kita juga membutuhkan pendidikan karakter pada nilai-nilai Pancasila sejak dini. Keluarga serta masyarakat harus bekerja sama untuk membangun bahwa tempat ibadah adalah tempat suci yang wajib dijaga.
Menjaga kesucian tempat ibadah adalah bagian dari menjaga martabat bangsa. Jika kita membiarkan nilai-nilai Pancasila luntur dalam perilaku sehari-hari, maka kejadian serupa akan terus terulang. Oleh karena itu, jadikan peristiwa pahit ini sebagai momentum untuk mengembalikan Pancasila dari sekedar teks mati menjadi pemandu jalan hidup, agar kita menjadi bangsa yang tidak hanya religius secara simbolis, tetapi juga beradab yang sebenarnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
