Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Maryani Al-Hikmah

Ketika Anak Berbicara Kasar di Ruang Les: Peran Guru Les dan Solusi Bersama

Eduaksi | 2026-04-15 19:16:57
Gambar anak-anak sedang belajar di ruang les

Fenomena anak berbicara kasar di ruang semakin sering menjadi perhatian. Di tengah proses belajar yang seharusnya kondusif, munculnya kata-kata yang tidak pantas sering membuat guru dan siswa lain merasa tidak nyaman. Namun, penting untuk disadari bahwa perilaku ini tidak selalu lahir dari niat “membawang”. Anak bukan sengaja menjadi “bandel”, melainkan sedang berada dalam proses belajar mengenali emosi dan cara berkomunikasi yang tepat.

Perilaku berbicara kasar pada anak bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Lingkungan pergaulan, tontonan yang tidak sesuai usia, hingga pola komunikasi di rumah yang kurang tepat dapat mempengaruhi cara anak mengekspresikan diri. Bagi sebagian besar anak, kata-kata kasar menjadi bentuk pelampiasan emosi atau sekadar meniru tanpa memahami dampaknya.

Dalam konteks ini, guru les memiliki peran strategis sebagai pembimbing, bukan sekedar pengajar materi. Saat anak mengucapkan kata-kata kasar, respon yang berlebihan seperti memarahi di depan teman-temannya justru berisiko menimbulkan rasa malu dan penolakan. Sebaliknya, pendekatan yang tenang dan tegas lebih efektif. Guru dapat menegur dengan bahasa yang baik, mengajak anak memahami dampak dari ucapannya, serta memberi contoh bagaimana menyampaikan perasaan dengan cara yang lebih santun.

Lebih jauh, penting untuk menanamkan perspektif bahwa setiap anak sedang bertumbuh. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Oleh karena itu, tugas orang dewasa baik guru maupun orang tua bukanlah menghukum semata, melainkan membimbing dengan kesabaran dan konsistensi. Memberikan apresiasi ketika anak mulai menunjukkan perubahan positif juga menjadi langkah penting dalam membentuk kebiasaan baik.

Dalam pandangan Islam, pendekatan yang lembut dalam mendidik anak telah dicontohkan oleh Rosulullah SAW . Beliau dikenal selalu menegur dengan cara yang santun, tidak menghina, apalagi mempermalukan. Dakwah yang beliau lakukan mengedepankan hikmah, yaitu kebijaksanaan dalam menyampaikan kebenaran. Prinsip ini relevan diterapkan di dunia pendidikan saat ini, termasuk di ruang les.

Namun demikian, peran guru tidak dapat berdiri sendiri. Komunikasi yang baik antara guru les dan orang tua menjadi kunci utama. Ketika perilaku berbicara kasar terjadi berulang-ulang, perlu ada diskusi terbuka untuk mencari akar permasalahan dan menyepakati langkah-langkah pelatihan yang sejalan. Anak akan lebih mudah berubah jika mendapatkan pesan yang konsisten di rumah maupun di tempat les.

Pada akhirnya, membangun kebiasaan berbahasa yang baik bukanlah proses instan. Dibutuhkan keteladanan, kesabaran, dan kerja sama. Anak yang hari ini berbicara kasar tidak berarti akan selamanya demikian. Dengan bimbingan yang tepat, ia justru memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi pribadi yang santun, percaya diri, dan mampu menghargai orang lain.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image