Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Arinafril - Dosen dan Peneliti

MBG dan Riset: Dua Investasi, Satu Masa Depan

Pendidikan dan Literasi | 2026-04-04 09:42:34

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah wujud nyata kepedulian negara terhadap tumbuh kembang generasi penerus bangsa. Niat mulia di baliknya patut kita hargai bersama.

Ilustrasi anak-anak SD sedang menikmati makan siang. (Sumber: Copilot)

Di tengah semangat yang menggebu untuk menyukseskan program ini, kita perlu meluangkan waktu sejenak untuk merenungkan sebuah pertanyaan penting: sudahkah kita memastikan bahwa dalam perjalanan membangun generasi yang sehat hari ini, kita tidak tanpa sadar melemahkan fondasi yang akan menopang kecerdasan generasi itu di masa depan?

Pertanyaan ini lahir dari sebuah kenyataan yang kiranya perlu kita hadapi bersama dengan kepala dingin dan hati terbuka. Ketika anggaran riset perguruan tinggi mengalami tekanan di tengah kebutuhan pembiayaan MBG yang besar, kita sesungguhnya sedang berhadapan dengan sebuah momen krusial, bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk bersama-sama merancang jalan yang lebih bijak ke depan.

Polemik sebagai Undangan Diskusi Terbuka

Mari kita mulai dengan sebuah pengakuan yang jujur. Jauh sebelum MBG hadir, ekosistem riset perguruan tinggi Indonesia sudah berjalan di bawah kapasitas yang semestinya. Dari sekitar 240.000 dosen di seluruh Indonesia, hanya sekitar tujuh persen yang berhasil mendapatkan dana penelitian. Indonesia mengalokasikan sekitar 0,3 persen PDB untuk riset dan pengembangan, jauh di bawah Singapura sebesar 1,9 persen, Malaysia 1,4 persen, dan Korea Selatan 4,8 persen.

Suasana makan siang di sebuah sekolah. (Sumber: Republika.co.id, Thoudy Badai)

Angka-angka ini bukan tuduhan kepada siapapun tetapi cermin yang mengajak kita semua, pemerintah, akademisi, dan masyarakat, untuk bersama-sama bertanya: Apa yang perlu kita perbaiki agar investasi dalam ilmu pengetahuan benar-benar setara dengan cita-cita Indonesia Emas 2045 yang kita impikan bersama? Polemik seputar MBG dan dana riset sejatinya adalah undangan terbuka untuk menjawab pertanyaan itulah dengan serius dan dengan penuh tanggung jawab.

Riset dan Kemandirian Finansial

Salah satu hal yang paling berharga yang bisa diberikan perguruan tinggi kepada program sebesar MBG adalah umpan balik ilmiah yang jujur dan independen. Bukan karena akademisi ingin mencari-cari kelemahan, melainkan justru sebaliknya: karena mereka ingin program ini berhasil dengan sebaik-baiknya dan memberikan manfaat nyata bagi setiap anak Indonesia yang menerimanya.

Lembaga-lembaga penelitian independen telah menunjukkan betapa berharganya peran itu. Ketika peneliti menemukan bahwa sebagian menu MBG masih perlu penyesuaian dari sisi kandungan gizi, temuan itu bukanlah kritik yang melemahkan tetapi sebuah masukan berharga yang memungkinkan program ini terus berkembang dan semakin baik dari waktu ke waktu. Inilah yang oleh para ahli disebut sebagai siklus perbaikan berbasis bukti, dan ia hanya bisa berjalan jika penelitian dilakukan secara bebas dan mandiri.

Oleh karena itu, sangatlah penting untuk memastikan bahwa perguruan tinggi yang bertugas mengevaluasi sebuah program memiliki kemandirian finansial yang cukup untuk melakukannya dengan integritas penuh. Universitas yang sehat secara finansial adalah universitas yang bisa menjadi mitra terbaik pemerintah, bukan sekadar pelaksana program, tetapi juga cermin yang membantu program itu melihat dirinya sendiri dengan jujur.

Membangun dan Menyatukan Pembangunan Ekosistem Riset

Perjalanan Indonesia dalam membangun ekosistem riset nasional melalui BRIN menyimpan banyak pelajaran berharga. Gagasan untuk menyatukan energi riset yang selama ini tersebar di berbagai kementerian adalah gagasan yang visioner dan patut diapresiasi. Ke depan, yang perlu kita pastikan adalah agar semangat penyatuan itu berjalan seiring dengan penguatan otonomi ilmiah, bukan sebaliknya.

Perlu diingat bahwa otonomi ilmiah tidak berarti isolasi atau kebebasan tanpa tanggung jawab. Riset yang berkualitas memerlukan kolaborasi, transparansi, dan akuntabilitas. Oleh karena itu, BRIN harus memastikan bahwa penyatuan energi riset ini diikuti dengan peningkatan kualitas riset, peningkatan kapasitas peneliti, dan peningkatan relevansi riset dengan kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, Indonesia dapat membangun ekosistem riset yang kuat, inovatif, dan berdampak pada pembangunan nasional. BRIN harus menjadi katalisator bagi perubahan ini, bukan hanya sebagai lembaga yang menyatukan riset, tetapi juga sebagai lembaga yang mempromosikan inovasi dan kewirausahaan.

Indonesia sesungguhnya memiliki kekayaan luar biasa yang belum sepenuhnya kita manfaatkan: Keragaman ekologi, budaya, dan tantangan pembangunan dari Sabang sampai Merauke adalah laboratorium alami yang tidak tertandingi di dunia. Peneliti yang memahami gambut Kalimantan, laut dalam Ambon, dan keanekaragaman hayati Papua adalah aset nasional yang nilainya melampaui angka anggaran mana pun. Tugas kita bersama adalah memastikan mereka mendapat dukungan yang layak untuk bekerja dengan sepenuh hati di tempatnya masing-masing.

Tiga Langkah yang Dapat Kita Tempuh Bersama

Pertama, Pemerintah perlu mempertimbangkan pemisahan yang tegas antara pos dana riset akademik dan dana riset pendukung kebijakan. Pemerintah tentu sangat bisa dan sangat perlu mendanai riset yang menopang program-programnya, termasuk MBG. Namun alangkah lebih baiknya jika dana tersebut berdiri dalam pos tersendiri, sehingga Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) tetap dapat menjalankan fungsinya secara utuh. Dengan cara ini, MBG mendapat dukungan ilmiah yang dibutuhkan, dan perguruan tinggi tetap dapat berkembang sebagai pusat ilmu pengetahuan yang bebas dan mandiri.

Kedua, Indonesia kiranya sudah saatnya mempertimbangkan pembentukan Dewan Riset Independen yang mengalokasikan dana berdasarkan penilaian sejawat ilmiah. Pengalaman negara-negara maju seperti Amerika Serikat melalui National Science Foundation-nya menunjukkan bahwa ketika komunitas ilmiah diberi kepercayaan untuk menentukan arah penelitiannya sendiri, inovasi yang lahir jauh melampaui apa yang bisa direncanakan oleh agenda kebijakan mana pun. Ini bukan soal tidak mempercayai pemerintah — ini soal memberi ilmu pengetahuan ruang terbaik untuk bertumbuh.

Ketiga, marilah kita bersama-sama menetapkan komitmen untuk meningkatkan belanja riset menuju 1 persen PDB pada 2030. Target ini adalah ambang batas minimum yang diakui secara internasional untuk ekosistem riset yang kompetitif. Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus menggembirakan, target ini sungguh bukanlah beban namun sebuah investasi paling produktif yang bisa kita tanamkan hari ini, yang buahnya akan kita petik bersama dua puluh hingga tiga puluh tahun ke depan.

Anak-anak yang dengan semangat menyantap hidangan MBG hari ini adalah generasi yang sama yang suatu hari akan duduk di laboratorium, menulis disertasi, merancang teknologi, dan merumuskan kebijakan untuk Indonesia. Mereka berhak tumbuh dengan tubuh yang sehat sekaligus dengan ekosistem ilmu pengetahuan yang kaya, bebas, dan penuh kemungkinan.

Pemerintah dan perguruan tinggi, pada hakikatnya, adalah dua sahabat yang berjalan menuju tujuan yang sama: Indonesia yang sejahtera, cerdas, dan berdaulat. Sahabat yang baik saling menguatkan, saling mengingatkan dengan hormat, dan saling memberi ruang untuk bertumbuh.

Masa depan Indonesia terlalu berharga untuk dibangun setengah-setengah, dan kita memiliki semua yang dibutuhkan untuk membangunnya secara utuh, jika kita mau melakukannya bersama-sama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image